Hallobogor.com, Cisarua – Siapapun pernah dan bisa sakit. Dan, mencegah lebih baik daripada mengobati. Akan tetapi, lantaran merasa sehat kerapkali orang malas untuk menjaganya. Pola makan dan perilaku hidup pun menjadi tak teratur atau tak terkontrol.

Upaya pencegahan juga kebanyakan tidak dilakukan oleh sebab seseorang minim wawasan dan ilmu pengetahuan. Padahal, upaya pencegahan sebetulnya lebih murah dan mudah.

Sebagai contoh, dengan rutin mencuci tangan dengan sabun, bisa mencegah berbagai penyakit yang disebabkan oleh kuman; diare, muntaber, tuberculosis atau gejala penyakit paru, penyakit kulit, dan masih banyak lagi.



Sebagian besar dari kita juga masih banyak yang tak bisa menjaga pola konsumsi. Buktinya, mayoritas masyarakat kita masih menganggap kalau banyak makan makanan fast food, junk food, daging sapi atau daging ayam sebagai perbaikan gizi. Padahal, ikan air tawar, sayuran, dan buah-buahan justeru jauh lebih menyehatkan. Ikan air tawar, sayuran, dan buah-buahan juga lebih murah dan mudah didapatkan di sekeliling kita.

Jika harus dibeberkan, masih banyak berbagai jenis contoh perilaku hidup masyarakat yang tidak bisa menjaga kebersihan dan kesehatan. Dari membuang sampah sembarangan, buang air sembarangan, atau tidak bisa menjaga kondisi rumah dan lingkungan yang sehat.

Akibat masih banyaknya masyarakat yang tidak biasa dan tidak bisa menjaga prilaku hidup bersih dan sehat, maka tak aneh jika setiap rumah sakit di mana pun tak pernah sepi pasien.

Imbasnya, anggaran pemerintah dan biaya yang harus dikeluarkan setiap keluarga pun membengkak. Belum lagi ditambah beraneka persoalan sosial lainnya, seperti penolakan, administrasi, maupun tindakan-tindakan lainnya.

Kenapa membengkak? Ketika pasien terus membeludak, rumah sakit–khususnya milik pemerintah daerah–dipastikan tak hanya harus membangun gedung baru dan menambah kamar rawat inapnya. Tapi harus ditambah pula dengan tenaga medisnya, pegawainya, dan segala bentuk layanan lainnya.

Jadi, pencegahan lebih baik dari mengobati. Lantas siapa yang bertanggungjawab agar masyarakat sadar melakukan pencegahan dengan berperilaku hidup bersih dan sehat? Menurut Direktur Rumah Sakit Paru Goenawan Partowidigdo (RSPG), dr. Zubaedah, inti penanganan kesehatan itu ada di faktor promotif atau promosi kesehatan dan pencegahan.

“Siapa yang harus berperan dan bertanggungjawab? 70 persen peranan ada di luar orang kesehatan. Masalah kesehatan bukan hanya tanggung jawab Dinas Kesehatan dan pihak rumah sakit.

Untuk mewujudkan pola hidup sehat dan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan menjadi tanggung jawab multipihak, terutama masyarakatnya sendiri,” katanya di sela coffee morning dengan wartawan, Jumat (28/8).

Zubaedah mengungkapkan, wilayah Provinsi Jawa Barat sebetulnya lumbung sumber protein yang berasal dari ikan tawar. Akan tetapi disayangkan masih belum secara maksimal dimanfaatkan oleh masyarakat baik untuk meningkatkannya gizi maupun pencegahan penyakit.

“Protein adalah senjata terbaik melawan penyakit paru. Nah, di kita itu kan tidak aneh, dia pelihara ikan tapi ikannya semua dijual atau jarang dikonsumsi. Dia lebih memilih dengan daging ayam atau ikan asin,” ungkapnya.

Terkait penyakit paru, lanjutnya, di Jawa Barat masih tergolong tinggi. “Penyakit paru itu masih tinggi karena lebih disebabkan perilaku hidup masyarakat, kualitas lingkungan yang buruk, permukiman padat, udara lembab, jorok, dan ventilasi rumah yang jelek. Ventilasi rumah yang bagus itu minimal 20 persen, jadi sirkulasi udaranya baik,” imbuhnya.(cep)