Hallobogor.com, Bogor – Mendekati pesta demokrasi serentak di Jawa Barat dan beragai daerah lain di Indonesia, Lembaga Kajian Aliansi Masyarakat untuk HAM, Demokrasi dan Keadilan Hukum (Amandemen) mencermati tulisan-tulisan berbau SARA dan fitnah mulai disebar secara masif di antara netizen. 

Hampir setiap hari kita disuguhkan dengan tulisan-tulisan dan konten-konten yang cenderung bernada provokatif dan ini begitu mudah menyebar di antara warganet. 

Amandemen menengarai, motif penyebar konten ini bisa jadi untuk memengaruhi calon-calon pemilih (berlatar politik), namun bisa juga mereka memiliki maksud lain misalnya berlatar ekonomi.

Mengikapi hal tersebut, Amanden menyatakan sikap; pertama, sangat prihatin atas keadaan ini. Amandemen menganggap hal yang terus berulang ini adalah hal yang harus dicermati oleh semua elemen bangsa. Jangan membiarkan hal ini terus berlangsung, yang akhirnya akan membahayakan kerukunan kita sebagai bangsa yang berbhineka

Kedua, Amandemen memohon pada pihak-pihak yang ikut andil dalam hal-hal provokatif itu untuk tidak melanjutkan niatan itu. Hal itu akan membawa anak bangsa makin terpuruk dalam jurang perbedaan yang semakin dalam. Stop eksploitasi SARA untuk kepentingan politik.

Ketiga, masyarakat harus sadar bahwa adu domba tidak akan membawa kebaikan dan akan semakin memperburuk kondisi pendidikan demokrasi bangsa ini. 

Lebih lanjut Amandemen menyoroti bahwa konten yang kini beredar hanya berkutat di seputar kepentingan parpol dan figur yang diusung, bukan kepentingan rakyat.

Analis dan Pengamat Media Massa Amandemen, Adi Raksanagara mengatakan, analisa-analisa politik tanpa sumber yang kompeten akan membuat blunder opini publik. Analisa-analisa itu akan menguras energi.

“Mereka habiskan energi di sini. Terkuras sebelum penentuan dari balon menjadi calon. Komunikasi politiknya terkesan vertikal. Masih seputar keputusan dan kebijakan parpol. Belum ada yang menyentuh kepentingan publik, masyarakat lalu di media juga yang masih terlihat sekarang adalah ambisi para balon, bukan perspektif para balon menyikapi permasalahan masyarakat, lingkungan hidup, dan lainnya, ” kata Adi.

Selanjutnya, Amandemen mengimbau dan mengajak seluruh media massa sebagai salah satu pilar demokrasi untuk sama-sama menghalau pemberitaan – pemberitaan yang sifatnya adu domba dan provokatif. “Kami meminta teman-teman jurnalis untuk tidak terjebak dalam menyebarkan informasi yang menyesatkan publik. Informasi negatif ini harus kita lawan bersama dengan informasi-informasi positif,” imbaunya.

Selain itu, Amandemen mengimbau dan mengajak para figur yang diusung menjadi pimpinan daerah, parpol, pengamat, akademisi, cendikia dan tokoh-tokoh masyarakat untuk sama – sama turut mencerdaskan masyarakat dengan pendidikan demokrasi yang sehat. “Mari kita halau kampanye – kampanye hitam demi anak-anak dan generasi penerus kita. Agar bangsa ini bisa menatap masa depan tanpa terus menerus dibayang-bayangi teror kebencian dari mereka yang tak ingin bangsa ini hidup dalam kedamaian,” ajaknya.

Sementara itu, Iu Rusliana, peneliti peneliti senior Amandemen mengatakan, Pilkada adalah pertarungan gagasan, bukan sebagai arena menumpahruahkan kebencian.

“Mari bersama mendorong kecerdasan berpolitik, kesantunan berpolitik, sehingga mendorong ruang publik sebagai arena pertarungan gagasan yang memajukan, bukan arena tumpahruahnya kebencian. Pilkada adalah agenda lima tahunan yang rutin, kualitasnya harus terus ditingkatkan. Pada konteks kebangsaan, kain kebangsaan yang lama telah ditenun oleh anak bangsa jangan sampai dirobek, karena butuh waktu lama untuk menjahitnya,” kata Iu. (cep)