Hallobogor.com, Bogor – Polres Bogor telah menetapkan tersangka kasus penipuan dan atau penggelapan (pungli) dalam pemberian ganti untung megaproyek jalan tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi). Sang tersangka adalah Anita alias Ita, mantan Kaur Kesra Pemdes Watesjaya, yang juga anak dari Budi Rahayu, mantan Kades Watesjaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor.

Ditetapkannya tersangka berawal dari laporan masyarakat dengan laporan polisi nomor : LP / B / 300 / II / 2017 / JBR  / RES BGR, tanggal 24 Februari 2017.

Korban dalam kasus ini berjumlah sekitar 25 orang, di antaranya Asep Agung Gumelar alias Roroy, Herman (Asik), Asep Setiawan alias Golek, H. Ahmad Hidayat, Apud, dan lainnya.



Sedangkan saksi-saksi antara lain, selain korban juga Acep Sudrajat (Ketua RW), Budi Rahayu (Tim P2T/Kepala Desa Watesjaya yang kalah dalam Pilkades lalu), Camat Cigombong/Tim P2T H. Basrowi, Rudy Achdiat (Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Kabupaten Bogor/Tim P2T), H. Ngatiyo (Staff BPN/Tim P2T), dan Shaeful Radian N (Tim Penilai / Appraisal).

Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Bogor juga telah menyita barang bukti dari beberapa orang, di antaranya berupa lembar laporan transaksi rekening bank, berkas dokumen asli data validasi pemberian ganti kerugian dalam bentuk uang bagi warga Desa Watesjaya penerima ganti rugi bangunan yang berada di atas tanah milik PJKA.

Selain itu, berkas dokumen asli daftar nominatif pemberian ganti rugi dalam bentuk uang, surat pernyataan Kades Watesjaya beserta lampiran identitas warga penerima ganti rugi bangunan yang berada di atas tanah milik PJKA, dan laporan hasil pendataan dan penilaian bangunan milik warga Desa Watesjaya terhadap bangunan yang berada di atas tanah milik PJKA yang dilakukan oleh DTBP Kabupaten Bogor.

Polres mengungkapkan, modus operandi kasus ini tersangka mengaku sebagai koordinator lapangan (Korlap) yang dibentuk oleh Pemdes Watesjaya yang bisa membantu percepatan pengurusan proses ganti rugi serta menjanjikan bisa menaikkan nilai ganti rugi untuk tanah, bangunan serta tanaman warga yang terkena lintasan proyek pembangunan jalan tol Bocimi.

Tersangka juga menjelaskan kepada warga apabila warga mengurus prosesnya sendiri akan sulit karena ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Sedangkan apabila memakai jasa mereka maka akan terima beres namun dengan konsekuensi warga penerima ganti rugi diharuskan menyerahkan uang sebesar 10 persen dari nilai ganti rugi dengan alasan uang tersebut nantinya untuk biaya administrasi, biaya korlap, biaya untuk pihak desa, dan biaya untuk pihak kecamatan.

Namun faktanya, pihak Pemdes Watesjaya tidak pernah menunjuk ataupun membentuk Korlap tersebut serta dalam proses pemberian ganti rugi sama sekali tidak dipungut biaya apapun (gratis) serta harga yang ditawarkan oleh Panitia Pembebasan Tanah (P2T) kepada warga sejak awal tidak pernah berubah. 

“Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa tersangka telah menerima uang dari warga sebanyak 25 orang dengan cara ditransfer ke rekening milik tersangka dengan jumlah total sekitar Rp157.870.000 serta menerima tunai sebesar Rp12.000.000. Sehingga jumlah total keseluruhan uang yang diterima tersangka berjumlah Rp169.870.000. Oleh tersangka uang hasil pungli tersebut dipergunakan untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari,” ungkap Kabag Humas Polres Bogor, AKP Ita Puspita Lena kepada wartawan.

Dijelaskannya, selanjutnya Polres Bogor akan melakukan penyidikan dan pengembangan terhadap perkara tersebut serta menuntaskan berkas perkara untuk segera dikirim ke JPU Kejaksaan Negeri Cibinong dan selanjutnya disidang guna mendapatkan kepastian hukum.

Selain itu, akan melakukan pengembangan penyidikan terhadap kasus tersebut untuk mengetahui siapa saja yang terlibat serta menerima hasil dari perbuatan tersangka, dan mencari alat bukti untuk tersangka lain yang terlibat dalam perkara tersebut.

“Tersangka diancam dengan Pasal 378 K.U.H. Pidana dan atau Pasal 372 K.U.H. Pidana tentang tindak pidana penipuan dan atau penggelapan,” ujarnya. (cep)