Hallobogor.com, Bogor – Tingginya angka kematian ibu dan bayi yang baru lahir di Kota Bogor cukup memprihatinkan. Untuk itu Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menetapkan langkah penyelamatan yang harus dilakukan menekan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Salah satunya adalah perbaikan pelayanan di Rumah Sakit. 

Hal itu dikatakan Sekdakot Bogor, Ade Sarip Hidayat, usai membuka lokakarya penyamaan persepsi penyusunan organisasi program penyelamatan ibu melahirkan dan bayi yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) di The Mirah Hotel, Jalan Pangrango Bogor, Kamis (24/03/2016).

“Pemkot Bogor menginginkan adanya peningkatan kualitas pelayanan rumah sakit. Kedua, Puskesmas tidak hanya sekadar melakukan pendataan dan pencatatan terhadap ibu hamil. Tetapi, mencatat juga rekam jejak pemeriksaan kehamilan si ibu hamil yang bersangkutan,” ujar Ade, seperti dikutip Halloapakabar.com

Langkah-langkah di atas penting dilakukan karena berdasarkan data Dinkes Kota Bogor sejak tahun 2012-2015, minimnya pelayanan RS dan Puskesmas jadi salah satu penyebab tingginya angka kematian ibu dan bayi. Ade juga menekankan pentingnya membuat catatan rekam medis ibu hamil untuk membuat rujukan jika diketahui ada masalah. “Jadi jangan membuat rujukan setelah usia kehamilan tua yang justru akan menjadi masalah,” jelas Sekda.

Penyebab tingginya angka kematian bagi ibu hamil juga bermuara dari masyarakat itu sendiri. Ade menyoroti proses melahirkan yang dilakukan oleh paraji atau dukun beranak. Masyarakat lebih memilih ke paraji ketimbang ke petugas kesehatan. 

Ade juga menyoroti hambatan administrasi yang kerap menyadi penyebab pasien gagal ditangani dengan baik. salah satunya adalah ketiadaan Kartu Tanda Penduduk (KTP), atau bahkan seperti belum terdaftar sebagai peserta Badan Pelayanan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Sehingga masyarakat sendiri yang akhirnya kesulitan untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan.

“Bahkan mungkin kematian ibu hamil ini juga karena faktor usia yang masih sangat muda ketika hamil, atau bahkan juga sebaliknya saat hamil usianya sudah tua. Sehingga hal-hal ini meningkatkan risiko kematian ibu hamil,” terang Ade.

Oleh sebab itulah, menurut Ade, pentingnya edukasi yang perlu dilakukan termasuk peran dari institusi untuk menekan angka kematian ibu hamil khususnya maupun bayi baru lahir dan bayi, yaitu peran dari Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (BPMKB). 

Sementara Ketua panitia lokakarya Sri Pinantari Hanum mengatakan, Kota Bogor memiliki rencana aksi dalam program penyelamatan ibu dan bayi baru lahir. Program ini bertujuan agar seluruh elemen terkait di Kota Bogor memiliki kesamaan pandangan terhadap kondisi gawat darurat penyelamatan ibu dan bayi baru lahir. “Program ini juga bertujuan untuk menyepakati upaya pelaksanaan gerakan penyelamatan ibu melahirkan dan bayi baru lahir,” kata Sri.

Sri menjelaskan berdasarkan data Dinkes Kota Bogor, jumlah kematian ibu dan bayi baru lahir terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Kendati untuk di tahun 2014 silam jumlahnya tercatat hanya sebanyak 6 kasus saja untuk kematian ibu.

Untuk data tahun 2012, jumlah kematian ibu tercatat sebanyak 7 kasus. Bayi baru lahir (0-28 hari) 18 kasus, dan bayi (1-11 bulan) berjumlah 6 kasus. Sedangkan di tahun 2013, angka kematian ibu dan bayi ini justru meningkat tajam dari yang sebelumnya hanya 7 kasus kematian ibu naik menjadi 13 kasus.

Begitu juga dengan kematian bayi. Jika di tahun 2012 jumlah kematian bayi baru lahir hanya 18 kasus, di tahun 2013 jumlahya melonjak menjadi 51 kasus. Sementara jumlah kematian bayi tercatat naik juga menjadi 11 kasus dari yang sebelumnya di tahun 2012 berjumlah 6 kasus.

“Di tahun 2014 angka kematian ini turun kembali, baik kematian ibu maupun kematian bayi baru lahir dan kematian bayi. Untuk kematian ibu di tahun 2014 ini tercatat 6 kasus, kematian bayi baru lahir 45, dan kematian bayi 10,” paparnya.

Sementara di tahun 2015, angka kematian ini kembali mengalami kenaikan di tahun 2015 lalu. Dimana untuk angka kematian ibu mencapai kasus, kematian bayi baru lahir 51, dan kematian bayi 14. (hrs).