Hallobogor.com, Jakarta – Puasa intermiten dan asupan rendah karbohidrat menjadi rekomendasi umum saat berbicara tentang diet. Kedua pendekatan itu memiliki beberapa efek yang sama, seperti mengurangi karbohidrat, insulin, dan gula darah dan mempromosikan ketosis.

Namun, puasa dan diet rendah karbohidrat memiliki perbedaan. Apa saja? Berikut paparannya seperti dilansir dari Medical Daily, Kamis (10/10/2019).

Penurunan berat badan



Banyak orang yang mencoba puasa intermiten atau diet rendah karbohidrat untuk mengurangi berat badan. Kedua pendekatan itu dapat meningkatkan proses pembakaran lemak.

Pembatasan karbohidrat membantu mengurangi kalori. Sedangkan puasa membatasi konsumsi makanan pada siang hari.

Namun, diet rendah karbohidrat mungkin memiliki keunggulan ketimbang puasa ketika orang mencoba mengikuti pendekatan itu untuk menghilangkan lemak.

Puasa intermiten bisa sangat ketat dan sulit diikuti karena beberapa orang gagal mengelola rasa lapar mereka sehingga justru mengonsumsi makanan lebih banyak.

Metode pengaturan jam makan dalam puasa intermiten bisanya dilakukan dengan menerapkan jeda makan delapan hingga 10 jam dalam sehari.

Sementara, diet rendah karbohidrat memungkinkan orang mengonsumsi makanan apa pun asalkan memenuhi persyaratan gizi harian mereka.

Diet olahragawan

Atlet mengkonsumsi lebih sedikit karbohidrat selama periode atihan dan meningkatkan asupan karbohidrat mereka sebelum bertanding.

Teknik itu membantu tubuh mereka belajar bagaimana memanfaatkan lemak yang tersimpan untuk menghasilkan energi yang dapat meningkatkan kinerja fisik mereka selama pertandingan.

Namun, puasa juga digunakan dalam olahraga. Atlet melewatkan makan untuk meningkatkan asupan karbohidrat mereka dalam upaya untuk mengisi kembali cadangan glikogen yang hilang selama pelatihan.

Cegah Kejang

Salah satu manfaat kesehatan puasa intermiten dan diet rendah karbohidrat adalah berkurangnya kejang. Kedua pendekatan itu mendukung produksi keton dalam tubuh yang berperan dalam mencegah kejang.

Satu studi merekomendasikan penggabungan puasa dan diet rendah karbohidrat. Tapi, mungkin tidak aman bagi anak-anak untuk berpuasa intermiten karena bisa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan mereka secara negatif, menurut Mark’s Daily Apple.

Manajemen Diabetes

Bagi orang-orang yang memiliki kondisi pra-diabetes atau sudah menderita diabetes tipe 2, puasa dapat bekerja lebih baik. Satu studi menemukan, kadar gula darah lebih baik pada orang yang melewatkan makan di siang hari dibandingkan dengan mereka yang melakukan diet rendah karbohidrat.

Penelitian lain menunjukkan makan yang dibatasi waktu dari pagi hingga sore hari dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi kelaparan pada malam hari pada orang pra-diabetes.

Peneliti mengatakan puasa bekerja lebih baik bila dilakukan pada pagi hari daripada di malam hari. Demikian, seperti dikutip Indonesiaraya.co.id. (nat)