Hallobogor.com, Bogor – Gegara sampah, masyarakat maupun pemerintah cukup merasa pusingkan. Meski beragam program dan himbauan dilakukan, dana miliaran dianggarkan hingga study banding ke luar negeri, sampah masih berserakan di mana-mana.

Sepertinya masyarakat dan pemerintah sudah saatnya belajar pengolahan sampah ke warga di lingkungan RT 03/05, Desa Cikeas, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. Warga di sini mampu memberikan solusi mengatasi sampah rumah tangga dan lingkungan sejak enam bulan belakangan.

Warga RW 05 Desa Cikeas mampu membuat incenerator tradisional sebagai solusi alternatif yang murah, mudah, namun bernilai ekonomis yang bisa meningkatkan penghasilan warga.

Ketua Kelompok Pengelola Bidang Kebersihan RW 5 Desa Cikeas selaku inisiator, Mursyid, mengemukakan, untuk membuat dua tungku incenerator sederhana membutuhkan biaya cukup murah, sekitar Rp8-10 juta. Incenerator ini terbuat dari bahan material batu bata, besi, semen, pipa, cerobong asap, serta alat sprayer dan kondensor untuk menyaring asap agar tak menimbulkan polusi. 

Incenerator karyanya berkapasitas kurang lebih 1 ton per hari atau 4-5 kubik per harinya. Dengan dua tungku incenerator mampu membakar sampah satu lingkungan RW sebanyak 450 Kepala Keluarga yang tersebar di 6 RT.

Setiap hari, jenis sampah yang dibakar dalam incenerator dengan suhu 800 derajat lebih ini terdiri dari sampah organik 40 persen dan 60 anorganik.

Sistem pengolahan sampah dengan incenerator buatan Mursyid ini, ternyata sangat bernilai ekonomis. Beraneka sampah dari masyarakat pada tahap pertama dipilah. Yang masih bisa dimanfaatkan didaur ulang, seperti jenis botol plastik, botol kaca, kardus, besi, alumunium, stainless, dan masih banyak lagi termasuk sampah biji buah-buahan yang bisa dikembangkan untuk pembibitan. Sampah daur ulang ini bisa dijual ke pengepul termasuk bibit-bibit tanaman buah.

Tahap kedua, sisa sampah hasil pemilahan yang tak bisa lagi dimanfaatkan dibakar dalam incenerator. Dengan kapasitas 1 ton, proses pembakaran sampah memerlukan waktu kurang lebih 6 jam sejak pagi hingga siang. Dari proses pembakaran, menghasilkan abu dan cairan.

Cairan hasil penyaringan asap sangat baik digunakan untuk menyemprot tanaman. Bahkan dengan membuat alat khusus, penyulingan dari pengolahan sampah bisa menghasilkan biogas dan bahan bakar minyak. Sehingga, bisa mengurangi biaya pembelian BBM dan gas serta cairan penyubur tanaman. 

Sedangkan abu hasil pembakaran, bagus digunakan untuk pupuk tanaman serta bahan pembuatan bata atau cone block dengan kualitas kuat. Saat ini saja, abu sisa pembakaran incenerator warga RW 5 Cikeas rutin dipesan oleh pabrik bata dan sejumlah perusahaan.

Mursyid menjelaskan, biaya awal pembuatan incenerator bisa memanfaatkan Dana Desa atau bantuan dari pemerintah maupun memanfaatkan dana corporate social responsibility (CSR) perusahaan di daerah setempat untuk pengembangannya.

“Untuk biaya pengelolaan dan operasionalnya bisa modal swadaya dari masyarakat. Warga satu RW di Desa Cikeas sudah sepakat iuran Rp15.000/bulan/KK. Dana ini untuk membayar upah warga yang mengangkut sampah dari setiap rumah setiap hari. Roda sampah atau motor bak pengangkut sampah bisa meminta bantuan dari pemerintah. Iuran ini juga untuk upah warga yang bertugas memungut iuran. Sedangkan hasil penjualan sampah daur ulang bisa untuk menambah kas RW dan maintenance atau perbaikan incenerator. Total pendapatan dalam sebulan minimal Rp6 juta. Biasanya kalau ada kelebihan uang kas digunakan untuk santunan dan bantuan kepada warga yang membutuhkan,” paparnya.

Alhasil, kata Mursyid, sejak enam bulan sistem incenerator ini diterapkan, kini lingkungan RW 5 Desa Cikeas, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, menjadi bersih terbebas dari sampah bahkan selalu menyabet juara. Dari semula terdapat 30 titik Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar, kini sudah tidak ada lagi. 

Sistem yang dikembangkan warga ini juga kerap dikunjungi berbagai pihak termasuk Kementerian PUPR dan Dinas Lingkungan Hidup untuk melakukan study banding.

“Sekarang malah banyak restoran, hotel, resort, rest area, dan perusahaan yang ingin buang sampah ke tempat kami. Bahkan mereka siap mengeluarkan biaya Rp3-4 juta per bulannya. Tapi kami menolak. Karena kapasitas incenerator kami baru bisa untuk lingkungan sekitar termasuk masih terbatasnya lahan,” ujarnya.

Menurutnya, kalau sistem incenerator tradisional ini diterapkan di setiap RW bisa menjamin lingkungan akan selalu bersih dari sampah, meningkatkan kesehatan lingkungan, serta meningkatkan penghasilan masyarakat, membantu mengurangi konsumsi energi, bahkan bisa membaca adat dan karakter masyarakat.

“Sebetulnya ini masih sederhana dan belum berbasis masyarakat. Kami pun masih harus terus berinovasi mengembangkan incenerator yang berkualitas lebih baik agar tidak menghasilkan asap sama sekali. Ke depan kami juga akan mengembangkan incenerator portabel di setiap puskesmas, klinik, dengan bahan besi, untuk membakar limbah alat-alat kesehatan yang mayoritas bahan beracun berbahaya atau B3. Selain itu kami ingin menata tempat pengolahan sampah ini menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk dikunjungi. Ada kebun percontohannya, ada kolamnya, ada dapur, ada tempat produksi fermentasi biogas dan BBM, dan fasilitas lainnya,” imbuhnya. (cep)