Hallobogor.com, Ciampea – Bencana kekeringan yang hampir merata terjadi di wilayah Bogor dan sudah berlangsung selama lebih dari dua bulan, semakin memberatkan beban masyarakat terutama mereka yang berpenghasilan rendah termasuk petani.

Meski begitu masyarakat sampai saat ini belum menerima bantuan atau perhatian dari pemerintah Kabupaten Bogor.

Yuyun seorang ibu rumah tangga di Perumahan Bukit Calincing Ciseeng, merasakan betapa beratnya beban yang dia pikul saat ini, ditambah lagi dengan bencana kekeringan yang sudah berlangsung lama.

Dia mengaku harus merogoh koceknya untuk membeli satu jeriken air yang harganya Rp 2.000.

“Sudah tidak ada air sama sekali di sumur saya, kering kerontang. Boro-boro untuk keperluan mencuci, untuk minum saja tidak ada sama sekali. Terpaksa setiap hari saya harus mengeluarkan uang sekitar Rp 30 ribu untuk membeli air,” ujarnya dengan mata menerawang.

Yuyun seorang janda yang ditinggal mati suaminya itu, terpaksa pontang-panting untuk menghidupi keluarganya sendirian ditambah lagi dengan pengeluaran ekstra untuk kebutuhan air. Mirisnya lagi tidak ada perhatian pemerintah Kabupaten Bogor untuk masyarakat keci seperti Yuyun.

Sarnen seorang petani di Desa Cibadak, Ciampea juga mengalami hal yang sama, betapa beratnya beban yang dia pikul dengan adanya bencana kekeringan.

Sudah dua bulan lebih lahannya yang sekotak kecil itu dia biarkan terlantar, karena tidak ada air yang bisa mendukung usaha taninya.

“Kumaha rek melak, caina ge teu aya tos lami, ayeuna mah nganggur wae kiyeu (gimana mau nanam, airnya juga gak ada sudah lama, sekarang nganggur saja),” kata Sarnen.

Dari pengamatan Hallobogor.com, wilayah Bogor Barat mulai dari Kecamatan Ranca Bungur, Kemang, Ciampea dan Cibungbulang hampir merata terjadi kekeringan yang memprihatinkan.

Upaya dan bantuan pemerintah daerah sangat diperlukan terutama bagi mereka yang tergolong masyarakat kecil dan tidak mempunyai penghasilan tetap. (bus)