Hallobogor.com, Bogor – Inisial “D” yang dipilih Bima Arya Sugiarto sebagai wakilnya di Pilwakot 2018 mendatang terjawab sudah. Ya, dia adalah Dedie A Rachim yang menjabat Direktur Pembinaan Jaringan dan Kerja Sama Antar Komisi dan Instansi (PJKAKI) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Yang menarik kini respons Usmar Hariman, yang notabene mewakili Bima selama ini dalam membangun Kota Bogor. Mendapati kabar Bima tak lagi mengajaknya, Usmar pun geram. Pasalnya, meski tak lagi menggandengnya di Pilkada serentak 2018 tapi Bima tetap menginginkan ‘perahu’ Demokrat untuk masuk dalam partai koalisinya.

“Selama 10 tahun saya berpolitik, saya tidak pernah kecewa. Tapi saya tegaskan bahwa mesin Partai Demokrat akan tiarap mendukung Bima. Sebab, berdasarkan uji petik grass root tetap menginginkan kader Demokrat yang maju. Silakan tanya langsung ke kader,” ujar Usmar kepada wartawan.

Ia menegaskan, bila Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) benar-benar menghibahkan Demokrat kepada Bima Arya, Usmar menegaskan lebih baik mundur. “Saya nggak akan maju, saya fatsun terhadap partai, dan lebih memilih menjadi Plt Walikota saja. Anggaran dan kebijakan semua urusan saya, tidak boleh ada intervensi. Tetapi, kalau Pak SBY tak menghibahkan Demokrat ke Bima, saya akan head to head dengan petahana,” tegasnya.

Menurut Usmar, selama 3,5 tahun menjadi wakil wali kota mendampingi Bima dirinya sama sekali tak pernah terjerat kasus hukum. “Saya nggak pernah punya masalah. Saya cukup bersih ya,” klaimnya.

Usmar juga mengaku tak tahu menahu mengapa Bima lebih memilih meninggalkannya. Sebab, berdasarkan survei JSI sudut pandang masyarakat sebanyak 86 persen menilai bahwa pasangan Bima-Usmar tak ada masalah. “Survei itu dilakukan oleh internal Demokrat,” katanya.

Usmar menjelaskan, sebelumnya pada 5 Januari 2017 sekira pukul 17.00 WIB, ia sempat berbincang dengan Bima Arya di ruangan wali kota. “Ketika itu dia bilang bahwa saya punya masalah di wilayah. Katanya masalah saya ini, ini, dan ini. Ketika ditanya ini itu apa, dia nggak jawab, jadi kayak ngomong sama anak TK. Nggak dijelasin, saya bingung apa kesalahan saya. Mungkin seleranya lagi dengan KPK,” ucapnya.

Usmar juga mengaku tak paham mengapa Bima lebih memilih orang lain, walau masih menginginkan bersama Demokrat. “Pada Pilwalkot 2013 Demokrat punya 15 kursi, dan kami terpilih. Saya nggak paham mungkin dia punya analisis sendiri. Sekarang saya fokus saja besarkan partai, sebab kondisi partai sedang babak belur sekarang. Ya, dia juga bikin susah orangtua Partai Demokrat (SBY). Ya bisa diartikan sendirilah,” ucapnya.

Usmar menilai sepertinya langkah Bima memilih orang lain karena ia kemungkinan menganggap bahwa kader Denokrat tak qualified. “Kelihatannya begitu. Tapi kan yang penting fakta membuktikan,” imbuhnya. (cep)