Hallobogor.com, Bogor – Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto beserta Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) dan Dinas Sosial Kota Bogor mengobok-obok rumah kost atau kontrakan di sejumlah wilayah yang diduga menjadi sarang mesum. Operasi ini menindaklanjuti laporan masyarakat yang resah dengan praktik-praktik prostitusi terselubung.

Rumah-rumah kost yang digeruduk di antaranya di Jalan Otista Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Bima Arya Sugiarto menggedor pintu-pintu kamar kos yang mayoritas dihuni wanita berusia muda dan gay.

Saat melakukan penggeledahan, Bima menemukan alat kontrasepsi kondom dan pelicin alat kelamin jenis Vigel yang biasanya digunakan jablay. Selain itu, didapati banyak pasangan bukan muhrim dalam satu kamar yang diduga hendak berbuat zina serta pesta miras.



Pada kesempatan itu Bima mengatakan, penggerebekan ini dilakukan untuk menjaga ketertiban umum di wilayah Kota Bogor. Selain itu, dalam rangka untuk mengamankan perayaan Natal dan Tahun Baru di Kota Bogor.

“Kami melakukan pengecekan ke tempat-tempat kost karena saya mendapat laporan bahwa di tempat-tempat ini banyak praktek prostistusi terselubung,” kata Bima.

“Jadi dari hasil ini kita mendapati beberapa anak muda. Tadi juga dapat orang yang melakukan tindakan asusila. Selain itu ada juga beberapa yang sedang mabuk-mabukan,” ucapanya.

Dengan geram Bima menghimbau kepada para camat dan lurah untuk melakukan kegiatan seperti ini rutin untuk mengantisipasi hal serupa.

Sementara di lokasi berbeda Kepala Dinas Sosial Kota Bogor Azrin menjelaskan, pada awalnya Dinas Sosial sendiri tidak mengetahui karena itu rahasia. “Namun karena kami mendapat informasi dari Kasatpol PP kami siap mendukung, karena kewenangan Dinsos kaitan dengan tempat kost dan lain sebagainya bukan ranah kami. Informasi tersebut sebetulnya sudah lama di ketahui Wali Kota, namun untuk membuktikan hal tersebut pihak Satpol PP mengirimkan timnya untuk membuktikan dan ternyata memang benar adanya,” ungkapnya.

Dalam razia tersebut, petugas menemukan 17 orang remaja berusai 20 tahunan di dalam kamar. 7 orang di antaranya jablay, LGBT (banci) 3 orang dan laki-Laki sebanyak 7 orang. Semuanya diangkut ke Dinsos dan diindentifikasi kesehatannya oleh Dinas Kesehatan. (dns)