Hallobogor.com, Paris – Konferensi perubahan iklim PBB ke-21 atau COP21 yang diselenggarakan di Paris, Perancis, merupakan agenda internasional tahunan yang diikuti oleh lebih dari 100 negara anggota.

Disela-sela konferensi tersebut, dilaksanakan juga event-event yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga non pemerintah pemerhati isu lingkungan hidup, seperti yang dilaksanakan oleh ICLEI dan UN Habitat. Salah satunya adalah Panel Urban Low Emission Development and North-South Cooperation.

Walikota Bogor, Bima Arya, menjadi panelis dalam sesi Focus on the post-2015 period – how to accelerate local climate action. Pada sesi panel ini, Bima menyampaikan tantangan yang dihadapi oleh Kota Bogor dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. “Laporan inventarisasi emisi gas rumah kaca kita tahun 2014 mencapai 2,6 juta ton karbondioksida, sebagian besar dari sektor transportasi. Padahal tahun 2010 baru mencapai 2 juta ton karbondioksida. Jadi kita harus berbuat sekarang juga dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dengan berbagai tantangan di dalamnya,” ujarnya, seperti dikutip Halloapakabar.com.

Kekhawatiran ini disampaikannya di hadapan audiens yang terdiri dari aktivis lingkungan hidup, pejabat pemerintah, perusahaan swasta dan stakeholders lainnya.

Panelis lainnya menyinggung soal pentingnya usaha bersama semua pihak dalam mengantisipasi perubahan iklim. Panelis itu di antaranya, Clover Moore; Walikota Sydney Australia, Kasim Reed; Walikota Atlanta Amerika Serikat, Marcio de Lacerda; Walikota Belo Horizonte Brasil Johannes Merwe; Walikota Cape Town Afrika Selatan, dan Jennifer Layke dari WRI/SE4AIIBEA.

Bima menjelaskan bahwa Bogor telah melakukan berbagai upaya pengurangan emisi gas rumah kaca di Kota Bogor. Saat ini upaya-upaya tersebut, kata Bima, beberapa di antaranya adalah hasil kerja sama dan bantuan dari lembaga non pemerintah internasional, diantaranya lembaga independen Perancis AFD yang telah melakukan kajian di Kota Bogor tentang Smart Street Lighting & Climate Change Action Plan serta lembaga riset Jepang NIES yang telah memberikan bantuan alat monitoring penggunaan energi.

Tidak cukup disitu, Pemerintah Kota Bogor akan terus melanjutkan program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim ini pada tahun depan, yakni, rerouting angkot, bus rapid transit, pembangunan transit oriented development, green energy untuk bahan bakar angkot dan lainnya.

“Kami menargetkan penurunan emisi hingga 29%. Target tersebut sesuai dengan target nasional penurunan emisi gas rumah kaca,” terangnya. Namun demikian, kata Bina tidak mudah mencapai target tersebut bila juga tidak didukung oleh komitmen yang kuat dari Pemerintah Pusat dan Lembaga Internasional dalam upaya pengurangan emisi gas rumah kaca. “Lembaga internasional & Pemerintah Pusat juga harus mendukung upaya ini,” ujarnya. (cep)