Hallobogor.com, Bogor – Sudah bukan rahasia lagi, daging ayam kampung lebih enak rasanya dibanding ayam broiler (ayam negeri). Maka, harga ayam kampung pun jauh lebih mahal ketimbang ayam negeri. 

Akan tetapi disayangkan, saat ini ayam kampung masih dipelihara oleh masyarakat apa adanya secara tradisional di kebun-kebun, di tengger-tengger, dengan memberikan pakan seadanya atau hanya diberikan sisa makanan. Sehingga, hasilnya pun sulit maksimal. Produksi telurnya sedikit.

Jika dipelihara maksimal, beternak ayam kampung ini ternyata sangat menggiurkan dari sisi bisnis. Karenanya, Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi, Bogor, terus menggeber bimbingan teknis (bimtek) kepada masyarakat, pelaku usaha, dan kelompok-kelompok pembudidaya, untuk bisa menerapkan inovasi teknologi pemeliharaan ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB).

“Melalui budidaya ayam kampung KUB, Balitnak berinovasi dan berupaya agar budidaya ayam kampung bersifat agribisnis yang diharapkan bisa dibawa ke tataran rumah tangga. Balitnak menyiapkan bibit atau anak ayam (DOC) yang unggul yang berumur 1-3 hari yang siap diberikan kepada kelompok-kelompok peternak pembesaran. Harapannya, ayam kampung ini tidak dipelihara kampungan. Tapi dimuliakan seperti ayam ayam negeri,” ungkap Kepala Balitnak Ciawi, Soeharsono.

Soeharsono mengatakan, untuk mendapatkan hasil maksimal dari budidaya agribisnis ayam KUB maka diperlukan teknik pemeliharaan seperti ayam broiler. “Bibitnya harus baik. Kandangnya harus standar seperti ayam broiler meski tak seluas ayam broiler. Juga memperhatikan kesehatannya dengan sistem vaksinasi yang kadang dilupakan. Ayam broiler terjaga kesehatannya karena time schedule vaksinasinya tepat,” katanya.

Melalui teknik pemeliharaan yang baik, peternak bisa meningkatkan dari 100 ekor menjadi 500 ekor, 1.000 ekor, per rumah tangga.

Menurut Soeharsono, secara hitung-hitungan bisnis, dari 500 ekor kalau dipelihara dengan baik bisa menghasilkan pendapatan Rp1,5 juta per bulan. Dan di atas 1.000 ekor bisa di atas UMR jika rata-rata harga ayam di Jabodetabek Rp30-32 ribu per kilogram.

“Kunci bisnis ayam kampung KUB ada di pakan. 70 persen modal untuk kebutuhan pakan. Kalau ayam negeri berbasis pakan impor tapi ayam kampung bisa pakan lokal. Bisa ikan rucah, bekatul, jagung, yang bisa diformulasi menghasilkan kualitas pakan impor yakni untuk memenuhi kebutuhan protein ayam kampung antara 16-18 persen dan energinya 2.800 per kalori. Harga pakan ini bisa di bawah Rp6.000 per kg,” paparnya.

Lahan sempit juga tak menjadi kendala jika ingin memelihara ayam kampung. Lahan 100 meter bisa menampung untuk 700 sampai 1.000 ekor. “Prinsipnya 1 meter bisa untuk 10 ekor,” ucapnya.

Lebih lanjut Soeharsono mengemukakan, saat ini Pemerintah melalui Kementerian Pertanian membuat gebrakan baru guna mengentaskan kemiskinan di desa. Salah satunya adalah Program Bekerja atau Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera. Program ini dimaksudkan untuk menjangkau 1.000 desa di 100 kabupaten, di mana diharapkan angka kemiskinan secara agregat mampu ditekan sesuai target pemerintah serta menjadi satu dijit atau di bawah 10 persen pada tahun 2018.

“Program ini harus menjadi solusi permanen dalam pengentasan kemiskinan dengan menyasar baik itu jangka pendek, jengka menengah maupun jangka panjangnya. Jangka pendeknya tanaman sayuran bisa jadi solusi karena tiga bulan sudah bisa dipanen. Untuk jangka menengah bisa beternak ayam dan kambing, sebab ayam sudah bisa bertelur diumur 20-22 minggu. Sedangkan jangka panjangnya bisa menanam tanaman keras seperti mangga dan salak,” ungkap Soeharsono.

Karenanya, untuk meningkatkan keberhasilan program di masyarakat, Balitnak terus menggeber Bimbingan Teknis (Bimtek) dan pelatihan Peternakan Ayam Kampung (Manajemen Budidaya dan Pemeliharaan) bagi masyarakat atau peternak.

“Pelaksanaan Bimtek ini dilaksanakan langsung oleh Balitnak dalam 4 gelombang yaitu, gelombang pertama sudah dilaksanakan pada 17 April, gelombang dua 18 april. Dan untuk yang sekarang diadakan gelombang ke-3, terakhir gelombang 4 dilaksanakan tanggal 27 April 2018,” terangnya.

Kegiatan Bimtek dihadiri pula oleh Kepala Pustaka Ir. Gayatri K Rana, Kepala Puslitbangnak Dr. Ir. Atien Priyanti.(cep)