Hallobogor.com, Bogor – Bertepatan dengan hari jadinya yang ke-3, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor meluncurkan program Sigap ke-3 untuk kesiapsiagaan bencana di kelurahan-kelurahan. Dalam program ini, BPBD menggandeng Non Government Organization (NGO) yakni Catholic Relief Services (CRS) dalam penanganan bencana.

“Kerja sama ini kami lakukan karena adanya keterbatasan dana dari APBD, melalui program ini diharapkan BPBD bisa mempercepat akses akselerasi untuk kapasitas building masyarakat, peningkatan kemampuan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana sehingga bisa mengurangi risiko bencana,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor Ganjar Gunawan di Skyline Hotel Salak Tower, Kota Bogor, Rabu (31/01/18).

Dalam kerja sama yang disepakati dengan NGO ini, akan ada tiga kelurahan yang akan mendapat pendampingan, yaitu Kelurahan Gudang, Kelurahan Cibogor, dan Kelurahan Kedung Halang.



“Dalam kerja sama ini BPBD Kota Bogor tidak mendapatkan dana, tetapi mendapatkan program dalam bentuk pelatihan. Mulai dari sosialisasi, edukasi, sampai simulasi yang akan berlangsung selama satu tahun di setiap kelurahan yang mendapat pendampingan,” ujarnya

Ganjar mengaku, selama BPBD ada bentuk kerja sama seperti ini merupakan yang pertama kalinya. Sebelumnya BPBD bermitra dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam bentuk pembangunan Rumah Tanggap Darurat Bencana (RTDB).

Se-Kota Bogor saat ini sudah ada enam Kelurahan Tanggap Bencana. Warga di enam kelurahan ini diberikan pelatihan dan pembinaan sehingga terbentuklah Pokja (Kelompok Kerja) Masyarakat Siaga Bencana.

Ia menambahkan, tahun ini selain tiga kelurahan yang memperoleh pendampingan dari NGO, BPBD juga akan memberikan pendampingan terhadap dua kelurahan lainnya dengan menggunakan dana dari APBD. “Jadi tahun 2018 ini ada 5 kelurahan yang akan dijadikan Kelurahan Tanggap Bencana,” jelasnya.

Menurutnya, yang membedakan Kelurahan Tanggap Bencana dengan yang belum, yakni masyarakatnya sudah terlatih untuk mampu memahami ancaman bencana, mampu membuat peta rawan bencana, mampu membuat jalur evakuasi, dan mampu melakukan evakuasi mandiri.

“Jadi sebelum tim BPBD datang masyarakat ini sudah terlatih dan tahu apa yang harus dilakukan ketika ada bencana dan bisa mengurangi risiko bencana,” imbuhnya. (dns)