Hallobogor.com, Bogor – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dinilai salah satu solusi meningkatkan taraf perekonomian warga di pedesaan. Namun dalam pelaksanaannya, masih banyak yang mendapat kritisi masyarakat.

Di Desa Pandansari, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor misalnya, pengelolaan BUMDes mendapat sorotan warga. Pasalnya, anggaran biaya yang dikucurkan BUMDes untuk usaha penggemukan 10 ekor kambing cukup fantastis mencapai Rp181 juta.

“Saya dengar informasi anggaran BUMDes telah diturunkan sebesar Rp181 juta, masa hanya teralokasi untuk 10 ekor kambing. Berapa harga kambing per ekornya,” tanya Aji Setiawan, warga Desa Pandansari.



Aji pun mempertanyakan, mengapa BUMDes yang belum sesuai keberadaannya tapi dana sudah dikucurkan. “Seharusnya semua diselesaikan dulu, baik kepengurusannya maupun segala bentuk administrasinya sesuai keperluannya. Kok bisa turun dana sedangkan rekening BUMDes-nya pun belum ada. Kalau seperti ini semuanya tidak akan dirasakan secara maksimal. Seakan-akan BUMDes milik pribadi, ini namanya juga Badan Usaha Milik Desa kok bisa gitu mekanismenya,” ujar Aji Setiawan.

Ketua BUMDes Pandansari, Sarengat, saat dikonfirmasi membenarkan bahwa saat ini BUMDes belum final secara administrasi. “Masih belum selesai, sedang dalam pengurusan. Sebagian anggaran yang telah turun pada Desember 2019 sudah dialokasikan untuk usaha penggemukan kambing baru 10 ekor di Kampung Hegarmanah,” akunya. (wan)