Hallobogor.com, Caringin – Sampah menjadi persoalan klasik di mana-mana. Jika semua pihak tak segera sadar, sampah akan menjadi bom waktu mengerikan; menimbulkan penyakit, polusi, pencemaran, bencana, hingga konflik dan mengancam nyawa manusia.

Seperti dikutip Halloapakabar.com, sampah dan masyarakat dua hal yang sulit dipisahkan. Jika per hari saja setiap warga masyarakat Kota dan Kabupaten Bogor sekitar enam juta jiwa menghasilkan sampah rata-rata 500 gram (setengah kilogram), artinya ada 300 ton sampah per hari di Bogor. Bisa dibayangkan dalam sebulan atau setahun.

Sementara ini, mayoritas masyarakat masih mengandalkan pemerintah dalam membuang sampah. Akibatnya, duit yang dibelanjakan oleh pemerintah melalui APBD miliaran rupiah untuk mengurusi sampah. Adakah cara paling murah dan mudah dalam mengatasi sampah? Semuanya tergantung pada kemauan (good will), kepedulian, dan kesadaran masyarakat. Artinya, jika kesadaran dan kepedulian semua warga tumbuh dengan tidak lagi membuang sampah sembarangan dan dapat memilahnya dengan benar, lambat laun bom waktu sampah dapat diminimalis.

Alih-alih penanganan sampah, kita bisa belajar pada apa yang selama ini diterapkan komunitas pemuda yang tergabung dalam Gerakan Mulung Sampah atau disingkat Gemuruh. Puluhan pemuda Gemuruh telah mampu membuktikan kepedulian dan kesadaran serta pengelolaan sampah yang sangat mudah dan murah.

Setiap hari pemuda Gemuruh di Desa Pasir Buncir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, berkeliling dari pintu ke pintu rumah warga di delapan Rukun Tetangga (RT) di RW 01 dan RW 02. Dengan hanya berbekal kantong plastik hitam besar dan satu gerobak pinjaman, mereka mengumpulkan sampah rumah tangga setiap hari. Di tempat penampungan sementara, mereka menyortir sampah organik (sampah basah) dan anorganik. Sampah anorganik yang masih bisa dimanfaatkan seperti botol bekas, botol plastik, plastik PE, kardus, seng, besi, mereka pisahkan. Dalam sehari mereka bisa mengumpulkan 20 karung atau sekitar 50-60 karung sampah per minggu. Sedangkan jenis sampah tetap didominasi plastik dan pempers bayi.

Yang patut diacungi jempol dari kegiatan mereka ini, semuanya dilandaskan pada kepedulian dan kesadaran akan perilaku hidup bersih dan sehat tanpa pamrih. Di samping itu, kegiatan mereka bukan sekadar musiman akan tetapi sudah berlangsung sejak delapan bulan lalu.

Koordinator Gemuruh, Yanto, menjelaskan, sesuai dengan kesepakatan, per 100 keluarga bayar Rp750.000 per bulan ke Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP). Kalau dibagi 100 Kepala Keluarga, per rumah hanya bayar Rp7.500. Karena penarikan sampah oleh truk DKP empat kali dalam sebulan setiap hari Jumat, maka per minggu setiap rumah hanya bayar Rp1.875 atau dibulatkan Rp2.000. Atau, per hari hanya sekitar Rp300.

“Jadi sebenarnya mengelola sampah itu mudah dan murah,” ujarnya diamini Koordinator Gemuruh lainnya, Dede Geheng.Para pemuda Gemuruh yang digawangi 12 pengurus ini kini sudah bisa mandiri dan dapat mengumpulkan uang kas dari hasil penjualan sampah barang bekas. “Karena banyak ibu rumah tangga yang merasa terbantu dalam membuang sampah, pada akhirnya mereka tidak hanya memberi Rp2.000 setiap minggunya. Tidak sedikit yang memberikan lebih. Nah, sisa kelebihan kas kami gunakan untuk membeli peralatan atau semen untuk membetulkan drainase, perbaiki jalan lingkungan, atau gorong-gorong agar tak banjir ke jalan. Banyak juga yang memberikan rupa-rupa bantuan seperti pasir, membuat pos, bahkan sampai seragam,” ungkap Yanto diamini pembinanya, Bubung Saepul Arsyad.

Dede Geheng mengungkapkan, latar belakang aksi Gemuruh tersebut awalnya karena warga sejak lama bingung tak ada tempat pembuangan sampah. Sebagian warga lain mengeluh kebunnya dijadikan pembuangan sampah oleh warga. “Sekarang warga Pasir Buncir sudah mulai sadar tidak membuang sampah ke jalan, sungai, selokan, atau ke kebun. Warga juga sudah mulai bisa memilah sampah organik dan nonorganik,” katanya.

Kini, kata dia, semua warga di semua RW ingin sampahnya ikut dikelola Gemuruh. “Ini masalahnya, kami terkendala alat transportasi. Karena lokasi warga berjauhan dan banyak jalan menanjak. Kalau harus pakai gerobak tenaga kami terbatas. Semoga pemerintah dapat memberikan bantuan motor yang ada baknya,” ucapnya.

Gemuruh berharap pula ke depan ada pembinaan dan pelatihan pemberdayaan, pembuatan kompos, dan kerajinan pemanfaatan sampah termasuk pemberantasan buta huruf bagi masyarakat. “Sementara ini, pada siang hari kami mengelola sampah pada malam harinya pengajian,” imbuh Dede. (cep)