Hallobogor.com, Jakarta – Cungkring, sajian khas yang dijual di kawasan Pecinan Jalan Suryakencana, Kota Bogor, Jawa Barat, menjadi buruan penggemar kuliner, baik warga lokal maupun dari luar kota.

“Saya datang ke sini memang sengaja untuk menikmati cungkring,” kata Budi Prasetyo (41), warga Bintaro, Kota Tangerang Selatan, Banten di Bogor, Kamis (28/2/2019).

Menurut Budi, rasa makanan seharga Rp18.000 per porsi tersebut unik dan membuatnya selalu menyantapnya setiap berkunjung ke Bogor.



“Bibir, otot kaki sapi, dan lontong yang dipadukan lumuran bumbu kacang ini membuat cita rasanya nikmat, manis, asin, dan pedas jadi satu,” kata Budi yang mengaku ketagihan cungkring selama dua tahun terakhir.

Senada dengan Budi, menurut warga asal Tangerang, Damayanti (39), dari sekian banyak kuliner di Suryakencana Bogor, cungkring merupakan hidangan paling unik dan tidak dapat dia temukan di daerah lain.

“Karena langka, Suryakencana ya menjadi satu-satunya pilihan kalau saya kangen cungkring,” kata wanita yang mengaku kerap berburu kuliner khas daerah di Indonesia itu.

Sementara itu, warga setempat, Dwi Noviani (20) mengatakan, ada empat pedagang cungkring yang mangkal di kawasan Suryakencana.

“Dari empat yang ada, yang paling legendaris adalah cungkring Pak Jumat,” kata dia.

Meski keempatnya juga termasuk enak, lanjut Dwi, cungkring Pak Jumat bercita rasa paling nikmat dan paduan rasa pedas, manis, serta asinnya pas.

Bertempat di depan kedai kopi, lapak kecil dan sederhana cungkring Pak Jumat menjadi salah satu tempat yang tak pernah sepi pembeli.

“Kami buka pukul 06.30 dan tutup pukul 10.00, terkadang sudah habis lebih cepat dari jadwal tutup biasanya,” kata putra Pak Jumat, Muhammad Deden yang menjadi penerus usaha makanan cungkring ayahnya.

Dia mengatakan, saat jam buka, biasanya pelanggannya sudah banyak yang mengantre untuk sarapan.

“Tak hanya warga lokal yang ingin sarapan, banyak pelanggan dari kota-kota lain sekitar Bogor yang sengaja datang ke sini,” kata Deden.

Arti cungkring

Cungkring diambil dari nama bahan-bahan yang digunakan untuk sajian tradisional itu. “Cungur (bibir) dan kaki garingan, itu kepanjangannya,” tambah Deden.

Ia menceritakan, awalnya kakek Deden berkeliling untuk menjual cungkring. Namun, sejak 1975, penerusnya Pak Jumat memutuskan untuk mangkal di Jalan Suryakencana.

“Karena semakin ramai, beberapa orang mengikuti jejak ayah saya berjualan di Suryakencana ini… Saat ini juga mulai banyak bermunculan pedagang cungkring baru di tempat lain,” kata dia.

Meski ada pesaing, Deden mengklaim cungkring Pak Jumat lebih sedap. Salah satu rahasianya ada di racikan bumbu kacangnya.

Di sela meladeni pembeli yang mampir di lapaknya, Deden pun mewanti-wanti para pecinta kuliner untuk jeli karena ada pedagang yang mengganti bahan bibir dan otot kaki dengan kikil atau kulit sapi. Demikian, seperti dikutip Indonesiaraya.co.id. (ant)