Hallobogor.com, Dermaga – Perkembangan pesat Kota Bogor tidak hanya dipandang sebagai nilai positif seiring pertumbuhan ekonomi kawasan itu. Perkembangan kota ini makin menggerus areal persawahan.

Luas sawah di Kota Bogor dikhawatirkan terus berkurang akibat dijual petani ke pengembang properti. Hal itu terungkap saat pemaparan ide dan karya mahasiswa sarjana (S-1) dan pascasarjana (S-2) arsitektur lanskap Institut Pertanian Bogor (IPB), Selasa (18/1).

Mahasiswa S-2 menemukan fakta di Kelurahan Bubulak, Kecamatan Bogor Barat, ada 4-5 hektar sawah akan dijual. Hampir 33 persen luas Bubulak sudah terbangun. Jika tidak dikendalikan, lahan terbangun dalam 5-10 tahun akan lebih luas dari pada yang belum terbangun.

Sawah-sawah di Bubulak terancam menyusut. Padahal, lahan budidaya dapat memberi jasa lingkungan sebagai penyerap karbon dan polutan, penyimpan cadangan air, mempertahankan keberagaman hayati, wisata, dan tentunya jaminan kelestarian pangan. Untuk mencegah penyusutan, IPB menyarankan ada pengurangan pajak bagi lahan pertanian produktif, insentif untuk petani, dan peningkatan pajak bagi lahan terbangun di sekitar sawah.

Di sisi lain, rumah-rumah warga masih memiliki pekarangan luas yang tidak dimanfaatkan optimal. Padahal, dengan teknik vertikultur, bangunan dan pekarangan bisa ditanami sayur mayur, tanaman obat, bunga, dan buah. Setiap rumah bisa dijadikan penyedia pangan lestari skala keluarga. Sedangkan Bogor Barat juga dilintasi beberapa sungai, antara lain, Sungai Cisadane. Pemerintah perlu lebih serius mengoptimalkan sungai untuk keberlangsungan warga dengan penataan, pencegahan sungai jadi tempat sampah dan saluran limbah, dan pemanfaatan jasa lingkungan sungai untuk kebahagiaan warga.

Dalam catatan pemerintah, luas sawah di Kota Bogor tersisa 400 hektar. Itu cuma 3 persen dari luas wilayah yang 11.850 hektar. Luas sawah itu hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan pokok, khususnya beras, cuma untuk 4 persen dari 1,1 juta jiwa warga.

Tidak heran, Kota Bogor harus terus dipasok dari daerah lain karena hampir mustahil mandiri memenuhi kebutuhan pangan. Karena Catatan pemerintah, sebelum 1990, luas lahan budidaya tanaman pangan di Kota Bogor diperkirakan 7.000-8.000 hektar. Saat itu, hamparan sawah amat luas masih bisa dinikmati di Bogor Selatan, Bogor Timur, Bogor Barat, dan Tanah Sareal.

Salah satu hamparan sawah yang terkenal berada di tepi Jalan Brigjen Sapta Adjie Hadiprawira (Jalan Raya Semplak), Sindangbarang, Bogor Barat. Bahkan warga amat membanggakan hamparan sawah yang amat luas itu, hingga sampai dibangun monumen sederhana, yakni patung petani. Sayang, saat ini, monumen petani hampir roboh, seperti menggambarkan hamparan sawah di kawasan itu yang sudah hampir habis diganti dengan deretan rumah toko.

Hadi Susilo Arifin, Guru Besar Arsitektur Lanskap IPB, berharap ada ide-ide mahasiswa yang bisa diadopsi pemerintah. Pemaparan merupakan salah satu kegiatan rutin setiap semester di mata kuliah Arsitektur Lanskap.

Mahasiswa S-1 menawarkan konsep penataan kawasan Jalan Abdullah Bin Nuh, Jalan KH Sholeh Iskandar, dan Jalan KS Tubun, antara lain, penataan trotoar, halte, dan taman, pembangunan sistem drainase, penggantian tanaman dengan yang produktif dan berbuah, dan pemanfaatan struktur yang ada, seperti dinding terowongan, bawah jalan layang untuk taman vertikal, mural, atau arena ekspresi. 

Ditawarkan juga pembuatan aplikasi telepon seluler untuk pelaporan masalah lingkungan dan lalu lintas. Penataan kawasan mendesak dilakukan. Hal ini karena Kota Bogor tidak hanya mewadahi pertumbuhan warganya, tetapi juga sudah menjadi tujuan pendatang baru yang sebagian di antaranya bekerja di Jakarta.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengatakan, ide-ide mahasiswa sangat mungkin diadopsi. Pemerintah memang gencar membangun sekaligus menata. Bubulak dalam perencanaan akan menjadi pusat pertumbuhan baru. Keberadaan lahan pertanian di sana yang perlu dipertahankan akan menjadi pertimbangan agar tidak tergerus oleh pembangunan.

Bima mengingatkan, ide-ide tadi seharusnya lahir dari dinas, badan, atau perangkat daerah. Satuan kerja jangan tumpul melahirkan ide yang segar. Jangan juga sekadar menjadi mesin birokrasi usang sekadar berpikir untuk menghabiskan anggaran. Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bogor Suharto menilai, ide- ide mahasiswa memperkaya yang sudah ada. “Wacana sudah banyak, kini bagaimana caranya segera beraksi,” ungkapnya. (bro/kom/drw/hlb).