Hallobogor.com, Jakarta – Facebook pernah menjanjikan status otonomi kepada Instagram, namun seiring berjalannya waktu hal itu direduksi hingga berujung pada pengumuman mengejutkan baru-baru ini, yakni mundurnya dua orang pendiri.

Delapan tahun setelah meluncurkan Instagram dan enam tahun setelah menjual platform sosial media tersebut kepada Facebook. Kedua pendiri Instagram yakni CEO Kevin Systrom dan CTO Mike Krieger mengundurkan diri dari perusahaan tersebut, menurut New York Times.

BACA JUGA : Respons Zuckerberg atas Mundurnya Dua Pendiri Instagram

Keduanya belum mengungkapkan alasan di balik pengunduran diri, kendati keduanya memberitahukan kepada perusahaan itu bahwa mereka akan mengundurkan diri dalam beberapa pekan mendatang, dilansir techcrunch, Selasa (25/9/2018).

Mengapa?

Menurut sejumlah narasumber, terjadi peningkatan ketegangan pada tahun ini antara pimpinan Facebook dengan Instagram terkait status otonomi Instagram.

Facebook telah menyepakati untuk membiarkan Instagram beroperasi secara independen sebagai bagian dari perjanjian akuisisi. Namun pada Mei, Wakil Presiden Produk Instagram Kevin Weil dipindahkan ke tim blockchain baru Facebook dan digantikan oleh mantan wakil presiden Facebook News Feed Adam Mosseri, salah satu sosok kepercayaan Zuckerberg.

“Adam merupakan sosok yang berkemauan keras. Dan Chris (Cox, Chief Production Officer Facebook) tidak pernah sejalan dengan Kevin,” ujar seorang narasumber.

Di antara keduanya, mereka dapat menekan Instagram untuk melakukan lebih banyak bagi Facebook — yang merupakan hal penting mengingat dampak skandal dan berkurangnya pengguna Facebook di kalangan remaja.

“Saat Chris mulai mengambil inisiatif dan bersama Adam sebagai pendukung lama Facebook, jelaslah sudah bahwa hal ini tidak akan berjalan menyenangkan. Saya melihat sosok ini (Systrom) akan dijepit,” kata narasumber tersebut.

Namun, narasumber lainnya mengatakan Mosseri disambut baik dan produktif sejak pindah ke Instagram pada pertengahan tahun ini, dan Cox menjadi kooperatif dengan Systrom. keduanya tetap menjadi sosok populer di dalam perusahaan tersebut.

Systrom dan Zuckerberg sejauh ini sejalan satu sama lain, namun terkadang mereka suka berbeda pendapat.

Seorang narasumber mengatakan, beberapa kali dalam setahun mereka berselisih sebelum meredakan semuanya. Konflik-konflik itu meliputi fitur “Sharing back to Facebook.

Kevin ingin mempertahankan fitur sharing di Instagram namun dalam poin tertentu Mark menghendaki produksi konten di Instagram masuk ke Facebook. Sedangkan beberapa hal semakin memanas akhir-akhir ini. Baru-baru ini Mark memutuskan untuk menghapus semua tautan ke Instagram dari Facebook.”

Bukti dari konflik tersebut bisa dilihat pada platform Facebook, yang tahun lalu mengonfirmasikan bahwa pihaknya menambahkan fitur shortcut ke Instagram di menu bookmark-nya. Sejak itu, fitur ini menghilang.

Tahun ini, beberapa pengguna Instagram mulai mendapatkan notifikasi Facebook di dalam tab notifikasi akun Instagram mereka, dan melihat tombol Facebook dengan notifikasi merah di dalam menu pengaturan Instagram.

Tekanan yang diberikan Facebook juga menimbulkan pengunduran diri sosok penting lainnya. Sebelumnya pada tahun ini, direktur kebijakan publik Instagram Nicole Jackson Colaco mundur dari perusahaannya, menurut seorang narasumber dia menjabat di posisi tersebut sejak 2013 dan sebagai manager privasi Facebook sejak 2009.

Kendati masih menyebut dirinya bekerja di Instagram dalam akunnya di LinkedIn, Colaco mengonfirmasikan secara tersirat pengunduran dirinya dengan menuliskan komentar pada pesan pengunduran diri Krieger bahwa “IG merupakan tempat terbaik sepanjang pengalaman kerja saya.”

Dua pekan lalu, COO Instagram Marne Levine yang dikenal sebagai sosok pemersatu, dipindahkan untuk memimpin kemitraan di Facebook. Tanpa ada penggantinya yang ditunjuk, Instagram mulai terlihat lebih mirip seperti divisi produk di dalam Facebook. Dan tanpa Levine, belum jelas siapa yang bisa memimpin Instagram selain loyalis Zuckerberg yakni Mosseri.

Seorang narasumber mengatakan “Mosseri sangat kecewa bahwa dirinya tidak mendapatkan “posisi penting di Facebook” yang jatuh ke tangan Will Cathcart. Wakil Presiden Produk di Instagram merupakan semacam hadiah hiburan. Namun mereka mengatakan bahwa penunjukkannya sebagai Wakil Presiden Instagram merupakan upaya Zuckerberg untuk menjalankan “rencana suksesi terhadap Kevin dan Mike. Mark merupakan ahli strategi brilian dan tentu saja dia akan menempatkan seseorang. Kendati terdapat kabar mengenai potensi pengunduran diri, para staf Instagram terkejut dan sedih mendengar Systrom akan mundur.”

“Kevin meninggalkan posisi penting yang harus segera diisi. Terdapat beberapa pandangan skeptis secara di kalangan internal mengenai apakah Adam bisa mengisi posisi tersebut,” kata seorang narasumber.

Setelah membesarkan sosial media itu hingga mencapai satu miliar pengguna, menaklukkan rival abadinya Snapchat, mengubah platform sosial media tersebut menjadi bisnis iklan yang masif, kedua pendiri Instagram mungkin merasa mereka sudah menuntaskan tugasnya dan siap menghadapi tantangan baru. Ketimbang melawan tekanan Facebook, lebih baik mereka membangun sesuatu yang baru.

Dalam keterangan resminya, Systrom dan Krieger menulis bahwa Kami berencana untuk beristirahat sejenak guna mengeksplorasi kembali keingintahuan dan kreativitas kami. Membangun hal-hal baru mensyaratkan kami mundur, memahami apa yang menginspirasi kami dan menyesuaikannya dengan apa yang dunia butuhkan; maka dari itu kami berencana melakukannya.”

Sedangkan Zuckerberg kepada Techcrunch mengatakan, “Kevin dan Mike merupakan produk pemimpin yang luar biasa dan Instagram merefleksikan kombinasi kedua talenta mereka. Saya telah belajar banyak bekerja dengan mereka selama enam tahun terakhir dan saya sangat menikmatinya. Saya berharap mereka sukses dan menunggu untuk melihat apa yang akan mereka bangun berikutnya.”

Kemunculan Krieger dan Systrom

Krieger dan Systrom, yang pernah satu kampus di Stamford, awalnya membuat sebuah aplikasi sosial bernama Burbn. Namun pada aplikasi itu justru fitur fotonya yang menjadi paling populer.

Dengan mengombinasikan sejumlah tool untuk membuat foto dari smartphone generasi awal, Instagram mungkin menjadi applikasi mobile paling sukses di dunia.

Dianggap sebagai ancaman, Facebook mengeluarkan biaya 715 juta dolar Amerika (sekitar Rp10,66 triliun) untuk mengakuisisi perusahaan rintisan tersebut dan memiliki kurang dari 50 juta pengguna per bulannya.

Digerakkan tim teknis Facebook, Krieger bisa sedikit beristirahat setelah bertahun-tahun menghadapi kerusakan server dalam upayanya mengelola pertumbuhan pesat Instagram.

Penjualan, internasionalisasi, anti-spam dan sejumlah sumber daya lainnya dari Facebook memungkinkan Instagram menggenjot pertumbuhannya dan memicu bisnis periklanan.

Momen penting bagi Instagram muncul pada akhir 2016 dengan peluncuran fitur Stories, sebuah fitur sharing tiruan dari fitur Snapchat yang temporer dan sedang trend.

Saat itu, Systrom mengakui “mereka semua layak mendapatkan pujian.” Namun dengan menghadirkan fitur Stories sebagai prioritas di atas fitur komentar Instagram yang telah berkembang, memilah-milahnya untuk diperlihatkan terlebih dahulu kepada teman terbaik yang berbeda dengan Snapchat, serta berfokus pada performa di negara-negara berkembang yang diabaikan Snapchat, maka fitur tiruan itu langsung mengalahkan aslinya.

Instagram Stories saat ini memiliki 400 juta pengguna per hari dibandingkan 188 juta pengguna Snapchat secara keseluruhan.

Warisan Instagram

Tanpa Systrom dan Krieger, status otonomi Instagram bisa menghilang. Hal itu bisa saja membahayakan kemampuannya untuk mempertahankan talenta-talenta yang telah direkrut.

Mungkin warisan terbesar Systrom dan Krieger adalah bagaimana Instagram mengubah kultur global. Membuat individu non-seniman merasa kreatif, dan memungkinkan orang-orang memberikan pandangan dunia mereka kepada teman-temannya, melahirkan empati dan persahabatan.

Di saat bersamaan, dorongan nafsu untuk mendapatkan Likes memicu banyak orang memoles citra online mereka sambil menyembunyikan kesedihan dan kelemahan mereka.

Instagram telah menjadi wadah utama bagi pentas yang sukses, dimana orang-orang menimbulkan kecemburuan akut orang lain dengan memamerkan momen paling glamornya.

Dan saat Instagram meluncurkan fitur Stories agar penggunanya bisa membagikan lebih dari sekedar momen-momen kehidupan mereka, hal itu berujung pada normalisasi perilaku menganggu setiap momen spesial dengan kamera smartphone mereka.

Systrom mengambil sikap terkait masalah digital, dengan mengatakan “Kami membuat sejumlah tools yang membantu komunitas Instagram lebih mengetahui tentang waktu yang habiskan dengan Instagram – kapan pun harusnya positif dan intensional…Memahami berapa kali online memengaruhi individu merupakan hal penting, dan itu tanggung jawab semua perusahaan agar bersikap jujur mengenai hal ini. Kami ingin menjadi bagian dari solusi. Saya memikul tanggung jawab tersebut secara serius.”

Mungkin proyek Systrom dan Krieger berikutnya adalah berupaya memperbaiki penyimpangan di masyarakat akibat ciptaan mereka. Atau mungkin mereka mengambil peluang lainnya dan menyatukan masyarakat lewat lensa seni dan ekspresi diri. (aji)