Hallobogor.com, Bogor – Warga Desa Cimande Hilir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, mengadukan PT. Tirta Fresindo Jaya (Mayora) ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Mayora diadukan lantaran sejak berdiri tahun 2008 sampai sekarang telah mencemari lingkungan sekitar.

Pencemaran yang dirasakan warga hampir merata di wilayah RT 02, 03, 04, dan 05 se-RW 08 Desa Cimande Hilir. Bentuk pencemaran antara lain polusi udara, getaran setiap hari selama 24 jam, bising, dan bau serta gatal-gatal akibat pembuangan limbah cairan dari pabrik mayora.

Aduan warga yang diwakili kuasa hukum Anggi Triana Ismail dari Kantor Hukum Sembilan Bintang ini sebetulnya sudah ditangani sejak setahun lalu. Namun baru kali ini aduan warga mulai direspons oleh pemerintah setelah pada Februari 2019 dilaporkan ke KLHK.



Hasil rapat dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor pada 4 Juli 2019 yang dipimpin Kabid Penataan Hukum DLH Budi Mulyawan, dijadwalkan pada Senin (08/7/2019) dilakukan uji petik pencemaran lingkungan di antaranya terdapat poin pengujian dilakukan di wilayah terdampak khususnya di rumah warga sebagai sample atas nama Solahudin dan Lilis. Selain itu, ada poin kesepakatan dalam notulensi bahwa pengujian dilakukN saat operasional perusahaan dalam kondisi optimum (mesin pabrik berjalan maksimum seperti biasa).

Namun disayangkan, pada Senin (08/7/2019) petugas tidak melakukan pengujian di rumah warga. Akibatnya, warga akan menolak hasil pengujian tersebut. “Sesuai kesepakatan kan pengujian dilakukan di rumah-rumah warga, tidak di dalam pabrik. Percuma kalau kami datang ke pabrik. Warga mengajak pengujian supaya semua pihak merasakan getaran yang selama ini dirasakan warga. Nah, sekarang tiba-tiba setelah ada kabar mau ada sidak getaran mendadak menghilang, berarti nanti hasil uji petik pun menjadi normal,” ungkap Solahudin diamini tokoh masyarakat setempat H. Acep alias H. Jandan.

Kuasa hukum warga Desa Cimande Hilir, Anggi Triana Ismail, menegaskan, menolaknya warga karena diduga ada upaya manipulatif dari pihak perusahaan dan DLH. “Proses produksi pada saat uji petik tidak maksimum. Padahal pada Minggu malam lingkungan warga masih bergetar parah. Tindakan kami selanjutnya akan menguji hasil lab independen dan terus menempuh jalur selanjutnya,” ujarnya.

Solahudin menjelaskan, akibat dampak getaran tidak edikit bangunan warga yang retak-retak dan atap warga berjatuhan. “Juga polusi udara dan pencemaran air. Sekarang sudah banyak yang terkena penyakit paru. Dulu sebelum ada pabrik Mayora sangat jarang. Kadangkala warga yang kesal melempari pabrik dengan batu karena tidak kuat bising. Bagaimana tidak bising, di depan pabrik dan di belakang juga pabrik. Nah, sekarang ada lagi rencana Mayora bangun pabrik baru di sini. Kami jelas akan menolaknya,” tegasnya.

Di samping itu, warga juga mengeluhkan minimnya perhatian perusahaan terhadap warga. “Jarang ada dana CSR, kontribusi minim terhadap kegiatan keagamaan. Tenaga kerja banyak yang masuk dari warga sekitar, tapi sekadar menggugurkan kewajiban, habis kontrak banyak diganti dari warga luar,” imbuh warga. (wan/cep)