Hallobogor.com, Bogor – Diduga mengalami gangguan jiwa, seorang pria bernama Fahrudin (27) nekat menghabisi nyawanya sendiri dengan sebilah pisau dapur di kediamannya, di Gang Mawar, Bantarjati Kaum RT 02/12, Kelurahaan Bantarjati, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Minggu (20/8/17).

Seorang warga, Sunarti (47) menjelaskan, menurut keterangan pihak keluarga kejadian tersebut terjadi sekiranya pukul 18.15 WIB magrib. Bermula saat korban pulang ke rumah dengan membawa sebuah gunting. Namun, tidak disangka korban pun ingin mencekek bibinya yang juga tinggal bersama dirinya. 

“Sore pulang dari ngarit rumput di kebun belakang rumah dengan membawa gunting, ternyata bibinya mau dicekik. Bibinya pun keluar melarikan diri,” ungkapnya.

Sunarti menjelaskan, Fahrudin sempat mengambil pisau dapur dan kembali masuk ke kamar kemudian mengorok lehernya sendiri di hadapan bibinya. Pisau yang dipergunakan untuk bunuh diri pun sempat direbut oleh ayahnya, namun sayang nyawa korban sudah tidak tertolong. 

“Awalnya memang sudah dua hari beliau main di rumah nenek kebetulan ayahnya buruh ngarit rumput buat pakan kambing. Kejadiannya pas magrib, dia keluar nyari pisau kemudian menggorok diri sendiri di kamar atas. Saat bibinya dan ayahnya masuk sudah bersimbah darah, pisau sempat direbut bapaknya, setelah kejadian sempat juga memanggil dokter, tapi sayang korban sudah tidak bernyawa,” ungkapnya.

Sunarti menjelaskan, Fahrudin adalah anak pertama dari istri pertama ayahnya tapi sudah lama bercerai. “Di Bantarjati, Fahrudi tinggal bersama nenek, kakak sepupu beserta bibinya,” terangnya.

Sementara itu, Ketua RW 12, M Odih mengatakan, ia sempat mengobrol dengan Fahrudin. Menurutnya, korban melakukan tindakan tersebut karena faktor persoalan keluarga ditambah depresi faktor ekonomi. Korban kerap kumat karena gangguan jiwa yang dideritanya. Tapi, korban sedikitpun tidak pernah meresahkan warga. 

“Tadi sempat ketemu di kandang kambing sikapnya biasa saja, kalau lagi sehat biasa, ngobrol biasa, kalau kumat bisa sampai loncat ke kali. Dia di sini memang bukan penduduk asli, dan terhitung baru dua hari. Asalnya dari Sukaraja Pamulang, Bogor,” tuturnya.

Selain itu, kata M. Odih, Fahrudi bekerja sebagai buruh serabutan dan kembali ke Bantarjati setiap satu tahun sekali. (dns)