Hallobogor.com, Gorontalo – Gaun biru berhiaskan sulaman khas Gorontalo, karawo, karya Agus Lahinta tampil di Colorfull in Harmony, Indonesian Fashion Week 2019 pada Sabtu pekan lalu (30/1/2019).

“Dalam filosofi Gorontalo, warna biru adalah keabadian. Kali ini keabadian dalam keanggunan ditampilkan melalui sembilan rancangan gaun biru sulaman Gorontalo karawo dengan sentuhan warna benang perak dan emas,” jelas Agus Lahinta, Senin (1/4/2019).

Agus menjelaskan, dalam sembilan gaun yang ditampilkannya itu dia menghadirkan motif bunga teratai, bunga merak, dan motif kecumbu yang merupakan motif adat daerah yang dulu digunakan dalam busana ratu kerajaan Gorontalo, serta pada busana mempelai wanita dalam acara pernikahan adat Gorontalo hingga saat ini.

“Kain brokat, kain silk bridal dan tile serta aplikasi payet menambah keanggunan gaun ini saat dikenakan,” jelasnya.

Penampilan kain sulam karawo di IFW merupakan kali ketiga dimana pada dua tahun sebelumnya Agus menampilkan pakaian pria dan di tahun ini ia hadir dengan menampilkan semua koleksi perempuan.

Agus pun mengungkapkan kebanggaannya bisa kembali membawakan dan memperkenalkan lebih luas mengenai sulam khas Gorontalo di IFW.

“Kebanggaan saya adalah saat melihat ternyata banyak orang Gorontalo yang lebih merasa bangga karena karawo bisa tampil di ajang besar fashion Tanah Air seperti IFW,” ungkap Agus yang menambahkan bahwa banyak warga Gorontalo yang menyakikan pageralan itu di Jakarta.

Kesuksesan pagelaran Agus Lahinta di IFW tidak terlepas dari dukungan Bank Indonesia (BI) Gorontalo, yang sudah ketiga kalinya sejak 2017.

Analis Fungsi Pelaksanaan Pengembangan UMKM di Kantor Perwakilan (KPw) BI Provisi Gorontalo La Ode M. Arief Akbar mengatakan, dukungan dari Bank Indonesia Gorontalo juga berhasil membawa Agus Lahinta bersama sulaman karawo karyanya tampil mendunia di ajang Couture Fashion Week New York, Amerika Serikat, padaSeptember 2017.

“Hal ini merupakan kontribusi nyata Bank Indonesia untuk terus mengangkat dan memperkenalkan kain Nusantara khususnya sulaman karawo Gorontalo ke berbagai ajang fesyen baik nasional maupun internasional,” ungkapnya.

Berbeda dari sulaman lainnya yang ada di Indonesia, teknik sulaman Gorontalo yang dikenal dengan karawo membutuhkan sedikitnya lima proses untuk dapat menghasilkan satu kain.

Proses pertama yakni desain motif, kemudian pengirisan kain, pencabutan benang, mengikat benang, dan terakhir adalah proses penyulaman atau dalam bahasa Gorontalo disebut mo karawo yang artinya menyulam.

Lamanya proses penyulaman tergantung pada ukuran motif yang akan dibuat. Proses pembuatan kain yang digunakan dalam pagelaran ini membutuhkan waktu pengerjaan minimal tiga minggu hingga dua bulan per kain, mengingat semua proses dikerjakan dengan tangan atau handmade. Demikian, seperti dikutip Indonesiaraya.co.id. (adi)