Oleh : Igor Dirgantara

GAGAL nyapres di Piplres 2014 tak membuat ambisi politik Rhoma Irama lenyap. Seminggu jelang lebaran, tepatnya pada tanggal 11 Juli 2015 Haji Rhoma Irama mendeklarasikan berdirinya Partai Islam, Damai, Aman (Partai Idaman) sekaligus sebagai Ketua Umumnya, di restoran Raden Bahari, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Partai ini menggunakan logo bergambar tangan membentuk lambang cinta.

Siapa tak kenal bang haji Rhoma Irama ? mulai anak kecil dan orang tua, kaya miskin, apapun stratifikasi sosial masyarakat kita, dari semua jenis kelamin sampai profesi seperti buruh, wartawan, guru besar, PRT, TKI, bahkan kaum LGBT, dan lain-lain, semua kenal si Raja Dangdut.

Tanpa pencitraan popularitasnya menjulang tinggi. Bang Haji hanya kalah pada tingkat elektabilitas saja, jika dibanding Jokowi atau Prabowo.

Di saat berbagai lembaga survei memprediksi kecilnya peluang parpol Islam meraih parliamentary threshold pada Pemilu Legislatif bulan April tahun 2014 lalu, Rhoma Effect punya dampak signifikan terhadap naiknya perolehan suara PKB lebih dari sembilan persen atau 11.298.957 suara.

Kursi PKB di DPR RI, naik dua kali lipat dari pemilu sebelumnya dari 28 menjadi 47 suara. Semua parpol berbasis agama (Islam) selalu ingin menjadikannya icon dalam setiap kampanye terbuka.

Di era Orde Baru Rhoma Irama adalah ikon kampanye bagi PPP, bahkan belakangan Partai Bulan Bintang pimpinan Yusril Izha Mahendara kepincut ingin menjadikan Raja Dangdut ini sebagai Ketua Dewan Pembina. Dukungan massa nya cukup riel : umat islam dan dangduters

Konon figur lebih penting dari partainya. Lalu apakah sosok Rhoma Irama bisa jadi alternatif ? Tidak perlu meniru model blusukan, tapi gaya dangdutan yang jadi trade marknya. Bukan karena visi misi tapi lebih karena apatisme politik dan kekecewaan publik akibat himpitan ekonomi dan janji-janji kampanye yang meleset.

Bisa jadi, tidak masalah apakah dia tipe pemimpin yang berkarakter solidarty maker atau problem solver, yang penting rakyat bisa goyang melupakan kenaikan BBM dan tarif daftar listrik.

Latar belakang pemimpin kita, lokal ataupun nasional umumnya berasal dari pengusaha, birokrat, atau tentara. Belum pernah seorang artis, seniman, apalagi penyanyi dang dut, yang relatif sepi dari masalah HAM, narkoba atau korupsi.

Titik lemahnya hanya jika isu poligami dijadikan komoditas politik lawan-lawannya, sebagai negatif atau pun black campaign. Masalah Rhoma Irama terpenting cuma bagaimana caranya meningkatkan tingkat kesukaan (likeability) pada kaum hawa, dan apakah bisa bang haji menyelaraskan dakwah lagu-lagunya ke dalam realitas politik.

Igor Dirgantara, Dosen Fisip Univ. Jayabaya, Direktur Survey & Polling Indonesia (SPIN).