Hallobogor.com, Bogor – Pergerakan Mahasiswa Bogor PMB melaksanakan kegiatan Coffe Morning dan Diskusi Kajian dengan PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, Senin (24/6/2019). Diskusi kajian mengangkat topik tentang bakal terjadinya kemarau panjang yang akan terjadi di Kota bogor, sehingga dikuatirkan akan berdampak krisis air yang berkepanjangan.

Topik tersebut diangkat lantaran Kabupaten dan Kota Bogor sebagai wilayah yang curah hujannya relatif tinggi, ternyata tidak luput dari ancaman krisis air yang lambat laun akan melanda Indonesia serta negara lainnya di dunia pada 5 sampai 10 tahun ke depan. Bahkan, beberapa wilayah lainnya di Jawa Barat sudah mulai merasakan krisis air, di antaranya Sukabumi, Bekasi, Depok dan terutama Karawang. Prediksi itu hanya salah satu contoh ekstrem terhadap masalah yang sudah lama diperingatkan oleh para ahli menghadapi kelangkaan atau krisis air.

Meski mencakup sekitar 70% permukaan bumi, air, terutama air minum, tidaklah seberlimpah seperti yang dipikirkan orang. Hanya 3% saja yang tergolong air segar yang layak dikonsumsi manusia. Menurut proyeksi yang PBB, pada tahun 2030 nanti kebutuhan akan air tawar dunia akan 40% lebih tinggi dari ketersediaa, namun akibat perubahan iklim, ulah manusia dan pertumbuhan penduduk hal ini menjadi PR besar kita untuk menjaga kelestarian lingkungan dan memastikan ketersediaannya. Potensi sungai Ciliwung sebagai salah satu pemasok air Baku untuk wilayah Bogor dan sekitarnya harus mulai diperhatikan secara lebih serius.



“Letjen TNI Doni Munardo beliau adalah mantan Sekretaris Jenderal WANATAS sekakigus penggagas Program pemulihan Sungai Citarum pernah mengatakan di media massa, lima sampai sepuluh tahun ke depan, dunia akan dihadapkan dengan krisis air. Itu masalah kita semua,” kata Ketua PMB Aldi Rachmat.

Tercemarnya sungai oleh limbah rumah tangga dan industri, seperti Sungai Ciliwung yang merupakan sungai kebanggaan Bogor, hari ini sudah sangat tercemar, ditambah lagi dari hulu sungai yang bersumber dari pegunungan sekarang banyak terjadi penebangan pohon liar yang menyebabkan kontruksi tanah menjadi rusak. “Ini adalah contoh yang menyebabkan permasalahan yang akan kita semua hadapi,” ujarnya.

Aldi juga menambahkan, hadirnya PMB sebagai mahasiswa yang berasal dari Kota dan Kabupaten Bogor sangat peduli dengan permasalahan yang akan kita hadapi pada kemudian hari. “Kami berharap hadirnya kami selaku agent of change akan melahirkan solusi yang yang akan dihadapi oleh masyarakat di Kota Bogor, karena PDAM Tirta Pakuan Kota bogor adalah PDAM percontohan di Indonesia dan kita mengapresiasi kinerja PDAM selama ini, maka kami hadir dalam acara ini adalah sebagai bentuk kasih sayang kami terhadap Kota Bogor yang kami cintai ini,” pungkasnya.

Direktur Umum PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor Deni Surya Senjaya juga menyambut baik dan mengapresiasi langkah PMB ini. “Karena adanya kesadaran akan kebutuhan kita terhadap air bersih saat ini dan pada masa yang akan datang. Semoga apa yang kita perbuat akan sangat bermanfaat untuk masyarakat Kota Bogor,” ujarnya.

“Ini adalah permasalahan yang serius yang akan kita hadapi pada kemudian hari, walaupun teknologi PDAM sendiri sudah maju tetapi jika sumber air di sungai dan mata air kering maka akan menjadi sebuah masalah yang serius, maka dengan ini saya mengajak seluruh masyarakat Kota Bogor untuk menjaga lingkungan di sekitar kita agar kita bisa terus menikmati kebutuhan kita sehari-hari,” lanjutnya.

Adapun ke depannya, kata dia, untuk mencari solusi untuk mengatasi kemarau panjang pihaknya akan melakukan kajian bersama mahasiswa dan dinas-dinas terkait untuk membuahkan hasil rekomendasi dan solusi untuk menghadapi kemarau panjang. (cep)