Hallobogor.com, Bogor – Guna ikut mensukseskan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dan Pemilihan Gubernur (Pilgub) tahun 2018, serta Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Bogor melakukan sosialisasi Pilkada. Sosialisasi dalam bentuk diskusi yang menyasar gerakan pemilih perempuan ini, dilangsungkan di aula Dinas Pendidikan Kota Bogor Jalan Pajajaran, Jum’at (11/5/2018). 

Para peserta yang ikut dalam diskusi ini antara lain perwakilan OKP, tim Penggerak PKK juga BEM Universitas Pakuan berjumlah 100 orang. Para pemateri antara lain, Hj. Siti Natawati selaku Komisioner KPU, Betty Epsilon Idrus dari Komisioner KPU DKI Jakarta, dan Yunda Zahrotunimah Dosen UIKA Bogor. 

Dalam diskusi tersebut, mengemuka bahwa kendati diskriminasi terhadap perempuan di ranah domestik maupun publik masih terjadi hingga detik ini, perempuan Indonesia tak lagi direpotkan oleh perjuangan hak pilih. Pada masa lalu, hak politik personal sebagai warganegara itu merupakan impian.

Perjalanan perjuangan hak pilih perempuan dimotori organisasi-organisasi perempuan Indonesia pada 1930-an. Pada tahun-tahun sebelumnya, sedikit sekali catatan tentang perjuangan mereka. 

Ada beberapa alasan atas kelambanan dalam menyadari isu hak pilih. Organisasi konservatif, biasanya berdasar agama, meyakini bahwa perempuan tidak siap untuk berperan dalam urusan politik dan tidak pernah didorong untuk melakukannya. Selain itu, politik selalu diartikan sebagai dunia laki-laki.

Ketua panitia diskusi publik, Selmi Nafiah mengatakan, diskusi bertema “gerakan pemilih perempuan cerdas memilih, cerdas bersikap” ini, untuk memberikan kesadaran dan meningkatkan pemahaman kepada kaum perempuan bahwa begitu pentingnya memilih pemimpin yang cerdas. Sebab, berdasarkan data yang ada masih banyak kaum perempuan yang golput atau tidak menyalurkan hak pilihnya.

Diskusi ini diharapkan bisa meminimalisir tingkat golput di Kota Bogor agar bisa memilih pemimpin yang cerdas dan bebas menentukan pilihan.

Walapun di dalam setiap pertemuan di wilayah yang mendominasi adalah kaum perempuan dan perempuan diyakini selalu berpegang teguh terhadap pilihannya, tapi di sisi lain ada juga yang sekadar ikut-ikutan akibat kurangnya pemahaman dan kemauan.

“Tingkat golput di Kota Bogor pada Pilkada 2013 berkisar 40 persen dari jumlah Data Pemilih Tetap (DPT). Untuk tahun 2018 atau nanti tahun 2019 diharapkan dengan sosialisasi ini bisa menurunkan tingkat golput. Selain sosialisasi seperti sekarang ini, kami pun berencana akan terjun langsung ke masyarakat karena betapa pentingnya memilih pemimpin. Satu suara saja bisa menentukan masa depan Jawa Barat khususnya Kota Bogor,” ungkapnya. (dns)