Hallobogor.com, Bogor-
Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO (Majelis Penyelamat Organisasi) menggelar halal bihalal bertemakan Revitalisasi Gerakan Mahasiswa di Era Millenia. Acara berlangsung di Hotel Royal Padjajajaran, Kota Bogor, 7 Juli 2019.

Hadir pada kesempatan itu para alumni HMI MPO di antaranya Irfan Fauzi Arief (Pengamat Politik & Konsultan Social Engineering), DR.YD Sanrego (Ekonom Syariah sekaligus penulis buku Fiqh Pemberdayaan), Agus Muslim (Komisioner Bawaslu Tangerang), Muharrom (Kepala UPT Radio & Televisi, Diskominfo Kab Bogor), Ahmad Fauzi (Satkar Ulama Kabupaten Lebak), Ade Syariful Alam (BMH), Asroful Ulumi (HASMI) serta para mantan aktivis 98 yang kini telah menjadi profesional dan pimpinan di berbagai instansi atau lembaga pendidikan yang tersebar di Jabodetabek.

“Acara halal bihalal ini adalah sebuah momen bertemunya ide atau gagasan dari para pengurus HMI MPO Cabang Bogor dengan realitas pengalaman dari para alumni HMI yang saat ini sudah banyak berkiprah sebagai profesional di tingkat daerah dan nasional, bahkan bertaraf Internasional,” kata Ilham Wijaya selaku panitia acara.



Salah seorang alumni, Irfan Fauzi Arief, mengatakan, sejatinya gerakan mahasiswa adalah gerakan penyeimbang sebuah institusi bernama negara. Kehadirannya sebuah keniscayaan dan gerakannya adalah sebuah kebutuhan. “Ia ibarat bandul jam antik yang secara aktif ikut bersama menggerakkan waktu jarum jam pembangunan yang siap sedia membunyikan lonceng manakala para pelaku negara terindikasi melenceng,” ujarnya.

Menurutnya, pada diri gerakan mahasiswa terdapat dua fungsi utama, yaitu sebagai agen perubahan sosial (agent of change) sekaligus sebagai gerakan kontrol sosial (social control). “Karenanya mahasiswa yang terhimpun dalam sebuah organisasi pergerakan harus meningkatkan kecakapan, intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan para aktivis yang terlibat di dalamnya,” imbuhnya.

Acara Halal Bihalal HMI MPO Bogor ini diisi dengan sharing session dari para alumni yang kini telah menjadi para profesional di bidangnya. Bung Acim didaulat sebagai moderator pada acara sharing session ini dengan pembicara DR YD Sanrego, Agus Muslim, Achmad Fauzie, Ade Syariful, Ridwan dan Dedi tentang tantangan ekonomi Islam, pendidikan berkarakter dan penumbuhan jiwa enterprenership bagi mahasiswa.

Dalam sesi diskusi, dikemukakan bahwa dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia sendiri, gerakan pelajar dan mahasiswa menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa.

Sejarah pergerakan pelajar dan mahasiswa dimulai dari adanya gerakan Boedi Oetomo, suatu wadah perjuangan yang memiliki struktur pengorganisasian modern. Didirikan di Jakarta, 20 Mei 1908 oleh pemuda, pelajar & mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA, wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari primordialisme Jawa yang ditampilkannya.

Pergerakan Boedi Oetomo ini kemudian direvitalisasi melalui gerakan Zelfbestuur, atau Pemerintahan Sendiri, yang dikumandangkan pertama kali oleh Hadji Oemar Said Tjokroaminoto pada tanggal 18 Juni 1916 di lapangan alun-alun kota Bandung, di hadapan puluhan ribu peserta Rapat Akbar (Vergadering) se-Nusantara yang diantaranya berasal dari kalangan pelajar dan pemuda. Ini adalah kegiatan Proklamasi pertama dalam sejarah bangsa Indonesia.

“Kini saatnya gerakan mahasiswa kembali kepada khittoh awal tujuan perjuangannya, yaitu selalu berpihak pada kebenaran dan kepentingan ummat,” tutup Irfan.(cep)