Hallobogor.com, Bogor – Anggota Komisi IV DPR RI, Ichsan Firdaus, duduk bersama para petani perwakilan delapan desa se-Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Sabtu (13/5/2017). Anggota Fraksi Partai Golkar ini sengaja bertemu untuk bersilaturahim sekaligus menyerap aspirasi petani.

Sebagai wakil rakyat asal Daerah Pemilihan (Dapil) V Jawa Barat (Kabupaten Bogor), dirinya merasa terpanggil dan bertanggungjawab untuk terus berkeliling menemui petani di Kabupaten Bogor. Sebab, ia masih prihatin melihat kondisi petani dan pertanian saat ini yang masih diselimuti berbagai persoalan.

Benar saja, di Tamansari Ichsan mendapat informasi penting dari para petani Tamansari. Setidaknya ada dua hal yang dikeluhkan petani di sana, yakni terkendala kepemilikan lahan akibat ‘konflik’ menahun dengan PTPN VIII (Blok XI) serta sulitnya memasarkan komoditi pertanian.

Nurdin, salah seorang petani asal Desa Sukaluyu, mengungkapkan, berpuluh tahun para petani di Kecamatan Tamansari terganjal status kepemilikan lahan akibat berebut dengan PTPN VIII Blok XI. “Konflik dengan PTPN ini sudah terjadi sewaktu Tamansari masih menginduk ke Kecamatan Ciomas. Pada tahun 2001 sebetulnya sudah ada win win solution setelah dimediasi pemerintah, tapi tidak dilaksanakan oleh PTPN. Sampai sekarang kami terus berjuang meminta keadilan,” ungkapnya.

Nurdin menjelaskan, terdapat sekitar 154 hektar lahan garapan pertanian yang dibutuhkan 183 kepala keluarga di tiga desa; Sukaluyu, Sukajaya, dan Tamansari. “Berdasarkan catatan kami, petani Sukaluyu kehilangan tanah 103 ha. Semua dokumen dan berkasnya sudah masuk ke BPN, Mendagri, dll. Bahkan kami pernah mendapat pendampingan dari pak Adian Napitupulu yang sekarang jadi Anggota DPR RI dari PDIP. Kalau pun pernahnterjadi over alih garapan, petani penggarap tak pernah dapat ganti rugi,” bebernya.

Menanggapi hal itu, Ichsan Firdaus berjanji akan menemui Adian Napitupulu yang lebih tahu persoalannya dan mempertemukannya kembali dengan petani. “Saya akan sampaikan pula ke PTPN persoalan ini. Ini sangat penting karena berlarut-larut 16 tahun tak terselesaikan,” ujarnya.

Sedangkan terkait keluhan petani Tamansari soal pemasaran produk pertanian, Ichsan mencoba jujur bahwa dirinya masih belum bisa menemukan solusi terkait persoalan pasar dan harga-harga produk petani di pasar. “Pemerintah saat ini masih fokus pada produksi tapi belum memikirkan pemasarannya. Tapi saya tidak akan menyerah. Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah menyediakan kantong-kantong atau kios hasil pertanian yang tidak jauh dari lokasi pertanian. Ini untuk menekan biaya produksi dan distribusi,” imbuh Ichsan. (cep)