PADA DASARNYA SETIAP pasangan yang menikah, menginginkan terbentuknya keluarga yang bahagia, tentram, dan harmonis sampai akhir hayat.

Namun seringkali kenyataannya tidaklah seindah harapan. Yang pertama adalah faktor umur, berbagai penyebab bisa menjadikan salah satu pasangan meninggal dunia terlebih dahulu. Mulai dari sakit, kecelakaan, sampai meninggal tiba-tiba tanpa sebab.

Selain faktor umur, berbagai perselisihan dan masalah yang timbul dalam perkawinan, seringkali memaksa terjadinya perceraian. Sehingga mau tidak mau anak juga ikut menanggung akibatnya. Bagi anak, keluarga sebagai tempat berlindung dan memperoleh kasih sayang. Peran keluarga sangatlah penting bagi perkembangan anak, baik psikologis maupun fisik.

Dampak yang timbul dari sebuah perceraian merupakan masalah yang serius, sehingga perlu mendapat perhatian yang lebih dari berbagai pihak. Perceraian membuat kehidupan keluarga menjadi goyang, tidak stabil.

Baik dari sisi perkembangan mental anak-anak maupun dari sisi perekonomian keluarga. Bila anak ikut ibunya, maka peran istri yang semula mengandalkan penghasilan suami dalam membiayai pemenuhan kebutuhan rumahtangga, mau tidak mau harus berperan ganda, sebagai kepala keluarga dan sebagai pencari nafkah utama.

Berdasarkan hasil survei angkatan kerja nasional, pada tahun 2015, jumlah penduduk di Kota Bogor yang berstatus cerai mati dan cerai hidup sebanyak 7,59% yang terdiri dari 1,90% laki-laki dan 5,69% perempuan.

Lebih tingginya persentase janda dibanding duda lebih karena laki-laki yang menduda cenderung lebih cepat menikah lagi agar ada yang mengurus keperluan rumahtangganya, sedangkan perempuan yang menjanda, cenderung lebih lama mengambil keputusan untuk menikah lagi, bahkan mengambil keputusan untuk tidak menikah, selama masih mampu memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan anak-anaknya.

Perempuan yang menyandang status sebagai single parent akan berusaha semaksimal mungkin agar dapat berperan ganda, sebagai sumber pencari nafkah dan sebagai pengurus rumahtangga.

Berdasarkan hasil Survei angkatan kerja nasional di Kota Bogor pada tahun 2015, terdapat 42.173 perempuan pernah kawin yang tidak lagi memiliki pasangan, dimana 5.538 dengan status perkawinan cerai hidup dan 36.635 cerai mati. Dari jumlah ini, hanya sekitar 38% yang bekerja, selebihnya memilih tidak bekerja karena faktor kesehatan yang tidak memungkinkan, usia lanjut, atau sudah ada yang menjamin hidupnya.

Di Kota Bogor, perempuan pekerja yang berstatus sebagai single parent ini, sebanyak 57,22% bekerja sebagai buruh/pegawai; 37,20% berusaha sendiri, dan selebihnya sebagai pekerja bebas.

Namun sayangnya, hampir 60% berpenghasilan di bawah satu juta, dan hampir 30% berpenghasilan antara satu sampai tiga juta rupiah. Hal ini karena hampir 70% dari wanita pekerja ini, berpendidikan SMP ke bawah.

Faktor pendidikan yang rendah menyebabkan sulitnya perempuan yang berstatus sebagai single parent ini, untuk mendapatkan penghasilan yang dapat mencukupi kebutuhan keluarganya, akhirnya semakin kecil kemungkinan anak-anak untuk bisa sekolah sampai ke perguruan tinggi.

Bila kondisi ini tidak ingin berkelanjutan, maka harus ada campur tangan dari pemerintah Kota Bogor untuk mengatasi hal ini, agar perempuan-perempuan yang terpaksa menjadi single parent, dapat menafkahi dan membesarkan anak-anaknya sehingga rantai kemiskinan ini bisa terputus. (Ratna Sulistyowati )