Hallobogor.com, Caringin – Mungkin anda sudah pernah mendengar atau melihat tentang aliran pencak silat cimande,yang cukup fenomenal. Silat ini tumbuh dan berkembang di Kampung Cimande, Tarikolot, Caringin, Kabupaten Bogor.

Kini, silat cimande, tidak hanya terkenal di dalam negeri, tapi juga tersohor hingga ke mancanegara. Penyebabnya, karena silat cimande telah menelurkan banyak perguruan-perguruan pencak silat, hingga kemudian diyakini aliran ini sebagai induknya pencak silat.

Menurut sesepuh Kampung Cimande Tarikolot, Raden Haji Ujang Aden, aliran pencak silat Cimande sudah turun temurun dari leluhur mereka sejak berpuluh-puluh tahun bahkan ratusan tahun.

“Banyak versi mengenai cerita Abah Khaer. Pasalnya, orang-orang dulu yang alim dan sakti seperti Abah Khaer enggan diceritakan lebih jauh soal sosoknya,” kata Haji Ujang kepada Hallobogor.com

Berdasarkan referensi, Abah Khaer (penulisan ada yang: Kaher, Kahir, Kair, Kaer dsb. Abah dalam bahasa Indonesia berarti Eyang) tinggal di kampung Cogreg, Bogor dan menjadi pendekar yang disegani kira-kira pada tahun 1760.

Pertama kali memperkenalkan kepada murid-muridnya jurus “maempo” (maen poho) Cimande. Menpo adalah maen poho artinya “menipu gerakan” dipersingkat menjadi “maempo”).

Dalam perkembangannya kemudian murid-muridnya menyebarkan luaskan kedaerah lainnya seperti Batavia (Jakarta), Bekasi, Karawang, Cikampek, Cianjur, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Sumedang, Ciamis, Kuningan, dan Cirebon.

Sewaktu beliau tinggal di Cogreg Bogor, Abah Kahir sering bepergian jauh meninggalkan kampung halamannya untuk berdagang kuda, dan sebagainya. Pengalamannya yang sering dibegal oleh rampok dan bandit membuatnya dia semakin berpengalaman dan selalu menangdengan kepiawaiannya bermain maempo.

Di Batavia, Abah Kahir banyak berkenalan dengan pendekar-pendekar silat Minangkabau dan Cina yang ahli dalam dunia persilatan untuk saling mencoba dengan bertukar pengalaman.

Pertemuan dengan ahli silat lain ini memberikan cakrawala untuk membuka wawasan pandangan tentang permainan yang dimilikinya berinteraksi dengan budaya lain.

Ketika berdagang di Cianjur, beliau bertemu dengan Bupati Cianjur ke VI yakni Raden Adipati Wiratanudatar(1776-1813) beliau memutuskan pindah ke Cianjur dan berdomisili di kampung Kamurang.

Raden Adipati Wiratanudatar mengetahui bahwasanya Kahir mahir bermain mempo untuk itu dia memintanya untuk mengajar keluarganya, pegawai kabupaten dan petugas keamanan.

Untuk membuktikan ketrampilannya, bupati mengadakan adu tanding melawan pendekar dari Cina dengan permainan kuntao Macao di alun-alun Cianjur. Pertandingan yang dimenangkan oleh Kahir ini membuat namanya semakin populer di Kabupaten Cianjur.

Pada tahun 1815 Kahir kembali ke Bogor, beliau memiliki 5 putra yaitu Endut, Ocod, Otang, Komar dan Oyot. Dari kelima anak inilah Cimande disebarkan keseluruh Tanah Pasundan.

Sementara itu, di Bogor yang meneruskan penyebaran Cimande adalah muridnya yang bernama Ace yang meninggal di Tarikolot, yang hingga kini keturunannya menjadi sesepuh pencaksilat Cimande Tarikolot Kebon Jeruk Hilir.

Pada permulaan abad XIX di Jawa Barat adalah masa-masa kejayaan silat Cimande sehingga cara berpakaian Kahir dengan menggunakan pakaian celana sontok atau pangsi dengan baju kampret menjadi model pakaian pencak silat hingga kini.

Pada tahun 1825, Kaher meninggal dunia (usia tidak diketahui) sedangkan buah karyanya terus berkembang dan diterima secara luas oleh masyarakat baik dalam maupun luar negeri.

Bahkan, dewasa ini aliran silat Cimande sudah berkembang ke seluruh pelosok dunia, masalahnya Kahir meninggalkan menpo Cimande tidak berupa catatan tertulis, oral tradisi yang tidak sistimatis. Di desa Cimande, menpo Cimande tidak berada di dalam tatanan yang terpadu seperti organisasi.

Menpo Cimande berkembang bermula dari keturunan dan kelkuarga yang tidak terorganisir dalam waktu yang panjang telah menghasilkan murid-murid yang banyak dan dari sinilah berkembang dengan seizin atau tidak menjadi perguruan-perguruan Cimande yang baru yang satu dengan yang lain tidak saling mengenal lagi.

Setidak-tidaknya Cimande menjadi bagian dasar pendidikan aliran-aliran pencak silat baru yang sudah banyak tersebar diseluruh dunia

Sesepuh Kampung Cimande Tarikolot, Raden Haji Ujang Aden menceritakan perkembangan pencak silat aliran Cimande yang hingga saat ini masih terus dilestarikan dan terjaga.

Setiap hari Minggu, puluhan murid-murid berlatih di Padepokan Cimande yang berukuran kira-kira 10 x 30 meter. Padepokan Cimande ini terdiri dari dua bangunan, satu bagian seperti aula besar bergaya kuno dan terbuka, sedangkan bagian satunya merupakan ruang untuk pengurus.

“Setiap Minggu di aula sini ada latihan. murid yang datang banyak lah, dari mana-mana,” ujar Haji Ujang

Menurut Haji Ujang, dulunya setiap rumah warga di Kampung Cimande, memiliki kegiatan pencak silat diajarkan masing-masing. aliran pencak silat peninggalan Abah Khaer ini tidak meninggalkan catatan tertulis, tidak berada dalam tatanan terpadu seperti organisasi dan oral tradisi yang tidak sistematis.

“Hanya diajarkan turun temurun, dari leluhur kita,” katanya. Namun demikian, pencak silat aliran Cimande sudah menyebar ke daerah-daerah di seluruh Indonesia dengan beragam nama perguruan-perguruan pencak silat.

“Kalau bulan Maulid, semuanya kumpul di aula ini. puncaknya tanggal 10-14 Maulid. Banyak dari luar kota dan luar negeri yang ke sini, nginap, tirakatan, latihan,” jelas Haji Ujang.

Padepokan Cimande didirikan pada tahun 1997. Padepokan ini bertujuan untuk menguatkan tali persaudaraan dan persatuan pencak silat aliran Cimande, sehingga lebih terorganisir. “Padepokan ini didirikan oleh Pak Harto,” katanya.

Adapun untuk menjadi murid pencak silat aliran Cimande diharuskan memiliki niat yang bersih. Pencak silat tidak untuk dipamerkan atau disombong-sombongkan,.selain itu, saat bulan Maulid, murid-murid pencak silat aliran Cimande juga berziarah ke makam leluhur Kampung Cimande. letaknya sekitar 300 meter dari aula Padepokan Cimande.

Makam keramat leluhur Kampung Cimande ini berada di sebelah selatan padepokan, untuk menuju ke makam ini, sudah dibuat jalan berundak-undak naik dan telah dimester/plester.

Saat berziarah ke makam leluhur Kampung Cimande, amat terasa getaran-getaran atau aura dari makam tersebut. Suasananya sunyi di tengah sawah, di bawah pohon beringin yang rimbun. EAntah berapa ratus tahun umurnya, di sana ada makam Abah Buyut, Abah Rangga, Abah Khaer, dan sebagainya.

Lebih jauh Haji Ujang menceritakan, jika berziarah ke makam harus lah memiliki niat yang baik. “Pernah dulu waktu ziarah ada yang pingsan. ya karena tidak permisi dulu sama ahli waris kampung sini. Terus dulu juga ada saat bule dari luar negeri (touris) mencoba mengambil gambar mem foto makam hasilnya berubah menjadi bedug. dan banyak cerita mistis lainnya,” katanya.

Inilah Cimande dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. tidak bisa dipungkiri bahwa Cimande tetaplah sebagai kekayaan budaya bangsa Indonesia yang wajib kita lestarikan bersama. (yan)

Lokasi Makam Kramat Leluhur Cimande
:
Kampung Cimande, Tarikolot, Caringin, Kabupaten Bogor.

(Salam Redaksi. Buat para sahabat yang punya tulisan kisah legenda atau cerita/dongeng dari orang tua/karuhun/kokolot mengenai peninggalan sejarah atau asal-usul nama tempat/kampung di Bogor, yuks berbagi cerita dengan kami. Kisah legenda dapat dikirimkan kepada, email: redaksi@hallobogor.com , SMS/WA: 082196677788)