Hallobogor.com, Bogor – Yayasan Islamic Centre Al-Ghazali Kota Bogor menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul ke-31 almarhum KH Abdullah bin Nuh (ABN) di Ponpes Al-Ghazali, Jalan Semeru, Kota Bogor, Minggu (27/11/2017). Kegiatan yang dihadiri Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto dan sejumlah tokoh partai politik ini menghadirkan penceramah KH Mukti Ali dan Zein Jarmuji.

Pimpinan Al-Ghazali yang tak lain anak dari KH ABN, Muhammad Mustofa Abdullah Bin Nuh atau lebih dikenal Kiai Toto, mengemukakan, haul sesuai dengan filosofi Islam berarti ulang tahun kematian. “Ulang tahun kematian memiliki arti karena nilai hidupnya seseorang dilihat dari bagaimana cara dia mati khusnul khatimah meninggalkan banyak ilmu yang bermanfaat dan lain sebagainya atau sebaliknya,” katanya.

Menurut Kiai Toto, Haul KH ABN menjadi kegiatan rutin setiap tahun. “Abdullah bin Nuh wafat ketika bulan Maulid begitu pun istri beliau wafat pada bulan yang sama. Kami berharapan ke depan dari peringatan ini, warga muslim khususnya di Bogor banyak menyelenggarakan Maulid dan mengumandangkan sholawat sebagai gelora cibta kepada Rasulullah. Saya yakin Kota Bogor adem dan jauh dari gejolak,” ujarnya yang juga sebagai Ketua MUI Kota Bogor.

Kiai Toto memaparkan, nama KH Abdullah bin Nuh sendiri tidak dapat dipisahkan dari nama Al-Ghazali. Kiai, cendekiawan, sastrawan dan sejarawan ini dikenal sebagai penerjemah buku-buku Al-Ghazali dan terkenal dengan pemikirannya yang mendalam tentang Al-Ghazali. KH ABN juga mengajar rutin kitab Ihya’Ulumuddin (kitab Imam Al-Ghazali) dalam pengajian mingguan yang dihadiri banyak ustadz-ustadz di Bogor, Sukabumi, Cianjur dan sekitarnya, sehingga menamakan pesantrennya dengan nama Pesantren aal-Ghazali.

Ayahnya memang mendapat pendidikan agama yang serius sejak kecil. Ketika umur belia, ayahnya telah menghafal kitab nahwu Alfiyah Ibn Malik. Ia juga pintar bergaul, santun dan ramah. Keluarganya menanamkan percakapan bahasa Arab di rumah sejak kecil, hingga ia menguasai bahasa Arab baik lisan maupun tulisan. Di samping itu, KH Abdullah bin Nuh juga menguasai bahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan Perancis secara autodidak. “KH Abdullah bin Nuh juga seorang pejuang sebelum hingga sesudah zaman kemerdekaan,” imbuhnya.

Wali Kota Bogor Bima Arya yang hadir dalam acara tersebut juga sempat mengupas sisi ketokohan KH ABN mengenai keilmuan yang dimiliki KH ABN. “KH Abdullah bin Nuh memiliki pandangan ilmiah yang jauh ke depan. Beliau seorang yang cosmopolite artinya mempunyai ikatan lokal, dia seorang nasionalis, dan dia juga bisa bergaul dengan dunia internasional karena keluasan ilmunya,” ungkap Bima.

Terkait kehadiran sejumlah partai politik dalam acara tersebut, Kiai Toto menegaskan bahwa pihaknya ingin menekan keberagaman. “Pada dasarnya Al-Ghazali tidak terjun ke politik praktis. Al-Ghozali mengayomi semua pihak dan Al-Ghazali milik semua umat. Dari dulu Al-Ghazali tidak mengibarkan bendera salah satu pihak atau parpol manapun,” imbuhnya. (dns)