Hallobogor.com, Bogor – Institut Pertanian Bogor (IPB) menjalin kerja sama dengan Universitas Sains Malaysia (USM) yang fokus pada pembangunan dan pemberdayaan lingkungan maritim serta pesisir dengan pendekatan inovatif era 4.0.

Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman MoU antara Rektor IPB Dr Arif Satria dan Vice-Chancellor, Prof Datuk Dr Asma Ismail, FASc di Penang, Malaysia, Selasa (11/12/2018).

“Fase awal kerja sama ini difokuskan pada pembangunan dan pemberdayaan lingkungan maritim, pesisir laut dengan pendekatan era 4.0 yang efektif, cepat, serta akurat,” kata Rektor IPB Dr Arif Satria.

Ia mengatakan, penandatangaan MoU ini selaras dengan visi IPB untuk menjadi ‘techno-socio-entrepreneurial university’ yang terdepan dalam memperkokoh martabat bangsa melalui pendidikan tinggi unggul pada tingkat global di bidang pertanian, kelautan, dan biosains tropika.

Selain itu, kerja sama ini juga sejalan dengan misi USM sebagai universitas riset di Malaysia. Melalui penandatanganan ini IPB dan USM dapat saling mendukung kolaborasi dalam promosi, riset, pendidikan, dan pelatihan yang saling menguntungkan kedua belah pihak.

Kerjasama yang dilakukan dalam penyelenggaraan seminar, konferensi, pertukaran mahasiswa dan mobilitas dosen antara IPB dan USM merupakan beberapa hal yang tercakup dalam area kerjasama. Ia mencontohkan, pengembangan dan pemberdayaan lingkungan maritim dan pesisir laut yang akan dikerjasamakan nantinya, seperti di Penang dapat memanfaatkan wisata, aquakultur, dan perikanannya sebagai sumber pendapatan negara melalui turis nasional ataupun internasional.

Integrasi lingkungan maritim dengan sosial manusia di pesisirnya memerlukan pemahaman dan prediksi yang akurat akan kemungkinan bencana akibat kerusakan di laut, seperti pertumbuhan alga bloom, bahaya akan ubur-ubur (jelly fish) dan ancaman terhadap budidaya laut. Kerja sama juga meluas hingga mitigasi kerusakan lingkungan karena tumpahan minyak (oil spill) yang diakibatkan oleh tumpahan dari kapal saat transportasi.

“Ini juga dapat menjadi salah satu fokus awal kolaborasi penelitian antara IPB dan USM. IPB juga mengusulkan aplikasi Agro Maritim 4.0 dalam sebuah pilot sebagai aplikasi terpadu teknologi dalam sebuah konsep yang disebut ‘Smart Small Island Management’,” katanya.

Menurut Arif, dari kerja sama ini akan ada World Seafood Congress yang akan dilaksanakan pada bulan September 2019 mendatang di Penang. Kongres ini akan melibatkan saintis dan pelaku industri se dunia. “Karena ada agenda dunia ini, maka kerja sama ini fokus awalnya ke maritim dan kelautan, selanjutnya kerja sama dengan USM diperluas ke bidang lainnya,” kata Arif.

Selain penandatangan kerja sama dengan USM, Rektor IPB juga menjadi pembicara kunci dalam kegiatan 11 th IMT-GT UNINET Conference yang memaparkan tentang peta jalan Agro-maritim 4.0 yang telah disusun oleh IPB. Arif juga menjelaskan, IPB telah bersiap memasuki era 4.0, berbagai program yang telah dan akan dikembangkan oleh IPB di masa datang, khususnya dalam kaitannya dengan Agro-Maritim 4.0.

Program-program tersebut diantaranya, ‘smart Farming dan Sea Farming, Smart Small Island Management, Fire Risk System, Smart Irrigation System, Smart Robotic Seed Planter, Smart Fertilizer 4.0, Smart Integrated Pest Management, pengembangan aplikasi (Apps) yang bertujuan mendeteksi kualitas buah.

Smart Robotics for Harvesting, Smart Agrologistic 4.0, Aerial drone monitoring biodiversity, dan Smart Aquaculture dengan menggunakan Smart Phone dalam mengoperasikan system budidaya Sidat.

“IPB juga sedang mengembangkan Tani Center sebuah fasilitas yang mampu menjadi penghubung para petani mulai dari hulu hingga hilir sampai pemasaran,” kata Arif.

Arif menyampaikan, IPB siap menyambut era Agro-maritim 4.0 melalui pengembangan kurikulum pendidikan yang sesuai, pengembangan kapasitas SDM dan pemberdayaan masyarakat, penyusunan “regulatory framework”, penyusunan peta jalan penelitian agroindustry 4.0 dan pengembangan insfratruktur yang “excellent” dan ekosistem yang sehat dan produktif.

Acara yang diselenggarakan Universiti Sains Malaysia (USM) ini adalah bagian dari kegiatan Segitiga Pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Thailand (Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle- IMT-GT). IMT-GT dibentuk sebagai pemrakarsa integrasi ekonomi kawasan ASEAN di tahun 1933.

Tahun ini, 11th IMT-GT UNINET Conference turut melibatkan Associate Professor Yousuke Taoka, dari Universitas Miyazaki, Jepang, sebagai salah satu pembicara selain akademisi dari tiga negara yang tergabung dalam IMT-GT.

Tema yang dibahas pada kegiatan tahun ini terbagi menjadi tiga, yakni biodiversitas dan konservasi, lalu ilmu dan Teknik Biomedis, serta sumberdaya herbal dan obat-obatan, yang keempat pertanian dan agro-industri. Arif menyebutkan “The Sustainable Development Goals’ (SDG) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang dicanangkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) menekankan pentingnya lingkungan yang sehat untuk masa depan yang sehat. Namun revolusi industri 4.0 menekankan adanya pergeseran cara hidup manusia di masa depan.

“Ini ditandai dengan adanya Internet of Things, Cloud Technology, dan Big Data,” katanya. Arif menambahkan, adanya kerjasama yang baik antara dua institusi dapat mempersiapkan manusia di masa depan untuk dapat selaras dengan lingkungan-lingkungan pertanian dan maritim, khususnya menuju pergeseran teknologi 4.0. Demikian, seperti dikutip Indonesiaraya.co.id. (lai)