Hallobogor.com, Ciawi – Organisasi Radio Antar Penduduk (RAPI) di Jawa Barat khususnya Kota dan Kabupaten Bogor tengah dilanda kisruh. Ketua RAPI Wilayah 05 Kabupaten Bogor maupun Kota Bogor dan para pengurusnya mendadak dipecat dan dibekukan melalui Musyawarah Luar Biasa (Muswilub) oleh Ketua RAPI Wilayah Jawa Barat.

Muswilub untuk RAPI Kabupaten Bogor digelar di Gedung Tirta Komplek PPMKP, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Minggu (12/11/2017) sejak siang hingga petang.

Muswilub ini dilaksanakan atas dasar surat dari RAPI Wilayah Jabar tentang pemberhentian Ketua RAPI Wilayah 05 Kabupaten Bogor beserta seluruh pengurus dan mengangkat pengurus sementara yang bertugas melaksanakan validasi lokal dan Muswilub.

Praktis, keputusan RAPI Jabar ini disambut pro dan kontra di Bogor.

Dari informasi yang dihimpun di arena Muswilub, alasan pemberhentian ketua wilayah dan seluruh pengurus RAPI Kabupaten Bogor yang sah dan terpilih pada Muswil beberapa bulan lalu adalah karena Ketua Wilayah Kabupaten Bogor dianggap tidak patuh terhadap Pengurus RAPI Wilayah Jabar di bawah pimpinan Samsir Djalaludin (JZ10AJO).

Sekretaris Wilayah 05 RAPI Kabupaten Periode 2016-2020, Didin, mengungkapkan, Ketua RAPI Jabar memberikan surat teguran 1 dan 2 hanya dalam waktu dua hari yaitu tanggal 27 dan 30 September 2017. Padahal menurut AD/ART ada jeda waktu 14 hari. “Yang menariknya lagi, adalah surat pemberhentian ketua wilayah itu disertai pemberhentian seluruh pengurus wilayah RAPI Kabupaten Bogor Periode 2016-2020. Sehingga Muswilub ini terkesan dipaksakan dan lemah dari sisi hukum karena tanpa didahului Rapimda. Seyogianya sebelum ada pemberhentian dilakukan pemanggilan dan pembelaan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, sehingga Muswilub ini cacat hukum,” ungkapnya.

Dalam Muswilub ini, nampak hadir pula utusan-utusan lokal dan senior RAPI Kabupaten Bogor, baik yang pro maupun yang menolak Muswilub, termasuk Ketua RAPI Jabar Samsir Djalaludin. 

Ketua Wilayah dan Wakil Ketua-1 Bidang Organisasi dan SDM RAPI Kabupaten Bogor hasil Muswil 2016, Irfan Fauzi Arief, nampak tak terlihat di lokasi. Ketika dihubungi melalui telepon, Irfan mengaku bahwa dirinya mengetahui adanya Muswilub dari beberapa teman lokal, karena dirinya mengaku sama sekali tidak pernah diundang dan diajak diskusi oleh penyelenggara Muswilub. 

“Saya pribadi sebagai mantan Ketua-1 Wilayah tidak pernah diundang untuk diskusi atau sekadar sharing pendapat oleh teman-teman penyelenggara Muswilub. Tapi buat saya ya ga masalah. Saya mendukung siapapun yang mau menjadi ketua wilayah, bahkan bila mereka maju ke Pengnas (pengurus nasional) sekalipun akan saya dukung, asal mengikuti aturan yang ada,” kata Irfan.

Adang Iskandar, senior RAPI yang juga utusan lokal Ciawi mengaku menyesalkan hal tersebut terjadi di RAPI. “Saya pribadi sedih dan menyesalkan adanya Muswilub yang dianggap sebagian orang kontroversial dan tidak legal ini, sebab masih ada musyawarah informal dan dialog-dialog rasional selain Muswilub. Namun sepertinya teman-teman penyelenggara tidak memilih itu, karena mereka semua pernah diundang pengurus wilayah untuk duduk bersama namun tidak ada yang mau hadir. Jadi ya silakan saja mereka Muswilub, itu hak mereka. Hanya saja moto RAPI yaitu “akrab di darat rukun di udara dan iman di hati” itu apakah masih ada atau hanya sekadar moto?” ucapnya.

Ketua RAPI Lokal Parung yang dijuluki Ayah Oghie menambahkan, RAPI itu adalah organisasi yang berbadan hukum, jadi setiap kegiatan harus dilandasi pada AD/ART maupun PO, ga bisa seseorang memaksakan kehendak dengan cara menabrak aturan-aturan yang ada.

“Saya tidak anti Muswilub, karena itu diperbolehkan oleh aturan, hanya saja mekanisme dan tatacaranya sudah diatur dalam AD/ART dan PO RAPI, jadi ga bisa ngarang-ngarang,” tegas Ayah Oghie diamini Ketua RAPI Triple-C H. Chece dan Ketua RAPI Ciawi Suhandi.

Sekadar informasi, beberapa Ketua RAPI wilayah lain seperti Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Cirebon juga dipecat oleh Ketua RAPI Jabar dengan alasan yang sama. Namun wilayah lain kompak menolak karena pengurus wilayah dipilih oleh lokal-lokal bukan oleh RAPI Wilayah Jabar. Berbeda dengan Kabupaten Bogor yang sejak jauh-jauh hari sebelum adanya SP-3 sudah melakukan persiapan Muswilub. Hingga petang ini, Muswilub masih berlangsung dan tertutup bagi media. (cep)