Hallobogor.com, Bogor – Kroditnya arus lalu lintas di kawasan Jalan Raya Puncak, Kabupaten Bogor, mulai mendapat perhatian serius Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan. Bersama instansi terkait seperti Polres Bogor dan Pemkab Bogor, BPTJ saat ini sedang mempersiapkan sistem Manajemen Rekayasa Lalu Lintas (MRLL) baru untuk mengurai kemacetan yang selalu terjadi di Kawasan Puncak khususnya setiap akhir pekan.

Kepala BPTJ, Bambang Prihartono, menjeaskan, sistem MRLL baru yang akan diuji coba ini disebut dengan Sistem 2 – 1 dan hanya diberlakukan pada akhir pekan (Sabtu dan Minggu). “Jika dalam rekayasa lalu lintas buka tutup (one way) kendaraan hanya bisa bergerak satu arah pada waktu tertentu, hanya Simpang Gadog menuju Puncak atau hanya arah sebaliknya, maka pada skema optimalisasi lajur 2 – 1 kendaraan dapat bergerak dari dua arah dalam waktu bersamaan. Pada skema ini, setiap akhir pekan jalur Puncak akan dioptimalkan menjadi 3 lajur,” ujarnya. saat meninjau lokasi jalur bersama Bupati Bogor, Kapolres Bogor, dan Kasatlantas Polres Bogor di Perempatan Gadog, Ciawi, Bogor, Sabtu (5/10/2019).

Bambang memaparkan, pemisahan lajur dilakukan dengan menempatkan traffic cone sepanjang Jalur Puncak, mulai Simpang Gadog hingga Taman Safari Indonesia. Dari tiga lajur yang ada, nantinya mulai pukul 03.00 – 13.00 WIB, lajur 1 dan 2 akan diperuntukkan bagi kendaraan yang mengarah ke Puncak (naik) dan lajur 3 untuk kendaraan menuju arah Gadog (turun).



Sedangkan pada pukul 12.30 – 14.00 WIB, lajur 1 tetap diperuntukkan bagi kendaraan yang mengarah ke Puncak (naik). Namun, lajur 2 untuk sementara ditutup dari arah Simpang Gadog (naik) untuk memastikan lajur 2 bersih dari kendaraan yang menuju ke Puncak, sedangkan lajur 3 tetap untuk kendaraan menuju Simpang Gadog (turun). Kemudian setelah lajur 2 steril dari seluruh kendaraan, maka pada pukul 14.00 – 20.00 WIB arus lalu lintas berubah menjadi lajur 1 untuk kendaraan mengarah ke Puncak (naik). Untuk lajur 2 dan 3 untuk kendaraan mengarah ke Simpang Gadog (turun).

“Kalau pukul 20.00 – 03.00 WIB, pengaturan lalu lintas kembali normal menjadi dua lajur untuk dua arah. Meski jam operasional sistem 2 – 1 telah ditetapkan, namun demikian jika kondisi di lapangan memerlukan tindakan insidental maka dapat diberlakukan diskresi kepolisian,” ungkapnya.

Bambang juga menyampaikan jika sistem 2 – 1 yang akan diuji coba ini merupakan konsep yang diperoleh atas dasar masukan masyarakat. Di mana, sebelumnya telah melaksanakan pertemuan bersama masyarakat sebanyak kurang lebih delapan kali dan atas masukan masyarakat tersebut, bersama-sama pihaknya formulasikan simulasi sistem 2 – 1 ini.

Melalui uji coba sistem 2 – 1 ini, Bambang mengingatkan kepada masyarakat bahwa bukan berarti kemacetan di kawasan Puncak otomatis akan hilang. Tapi, uji coba yang akan dilaksanakan ini merupakan proses untuk mengetahui kondisi riil di lapangan sebagai upaya mengurangi kemacetan di Jalur Puncak.

“MRLL baru dengan Sistem 2-1 secara langsung melibatkan peran masyarakat setempat untuk ikut mengawasi dan saat ini tengah dipersiapkan beberapa program seperti penyiapan dan pelatihan personel Petugas Keamanan Jalan Raya
(PKJR) yang berasal dari masyarakat sekitar yang dilakukan oleh kepolisian,” pungkasnya.

Sistem MRLL 3 Lajur ini, kata Bambang, mulai diuji coba pada tanggal 27 Oktober 2019 mendatang. “Sistem MRLL ini diharapkan dapat menjadi opsi selain sistem buka tutup yang sudah diterapkan puluhan tahun hingga saat ini. Penerapan sistem MRLL yang baru nantinya diharapkan akan lebih memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar puncak.

“Sistem yang baru lebih memberikan keleluasaan bagi masyarakat setempat untuk melakukan mobilitas karena tidak lagi berdasarkan buka tutup,” katanya.

Meski demikian, lanjutnya, keberhasilan sistem baru yang akan diuji coba nantinya juga bergantung dari disiplin dan partisipasi semua pihak. Oleh karena itu, pihaknya sudah menyusun konsep sistem MRLL yang baru melalui kajian di lapangan dan simulasi, termasuk menjalin komunikasi dan koordinasi secara intens dengan semua stakeholder, hingga nantinya uji coba dapat dilakukan bersama. (wan)