Ini cerita tentang janji.
Tentang satu janji yang sudah kita buat dulu.
Apa kamu masih ingat?
Apa kamu sudah menepatinya atau sedang berusaha untuk segera menuntaskannya?

Yang aku tahu janji yang sudah kita buat ketika itu, selalu ikut berderap setiap kita menjejakkan jalan seolah mengajarkan kita untuk terus berjalan walau tanpa alas kaki.

Janji yang telah kita hadirkan seolah ikut merasakan basah dari titik-titik peluh, ketika kita mencoba untuk mengurainya.

Setiap kali kita mengingat akan janji,
kita merasakan sensasi gegap gempita yang meluruhkan berbagai monokromatik hidup yang kini mulai kita pertanyakan.
Perbedaan berarti perpecahan! Katamu seru.
Aku ragu.
Bukankah aku dan kamu berbeda? Apakah kita harus terpecah kemudian?

Perbedaan menciptakan jarak terjauh yang sanggup kita tempuh. Namun pada akhirnya kita bersedia mendekatkan dan bertoleransi.
Kamu mengikat kakiku sebelah kanan dan kaki sebelah kirimu terikat disebelahku.
Saling menahan berat dan beban yang sama-sama kita tempuh. Berjalan beraturan.

Tentang sebuah janji.
Kita bersedia menciptakan dunia terdekat ketika dunia yang kita pijak memeta beragam jarak mulai dari perbedaan waktu, bahasa dan perspektif hidup.

Janji membuat pandangan menjadi lebih jelas.
Janji kita ciptakan untuk melangkah bersisian, bukan saling menyalip atau berbenturan, kemudian kecelakaan.

Aku mengingat kepada janji yang kita buat.
Mungkin aku memang menunggu kamu berjalan didepanku untuk mengimami.

Mungkin lewat janji, aku menunggu untuk memastikan selalu bergerak ke depan.

Demi janji agar kita senanstiasa menikmati gerik dan momen akan perubahan.

Tanpa tergesa-gesa.

Penulis : Sekar Puspitasari