Hallobogor.com, Bogor – Para pengguna jalan sebaiknya menghindari jalur Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) atau Jalan Raya Mayjen HE Sukma apabila dirasa tidak darurat. Sebab, nyaris setiap jam arus lalu lintas di jalur ‘tengkorak’ ini dilanda kemacetan parah terutama pada jam-jam sibuk.

Para pengemudi kendaraan roda empat dan pengendara motor ada baiknya memilih jalur-jalur alternatif. Di antaranya jalur Cigombong-Cijeruk-Cipaku, Caringin-Maseng, Bendungan-Cibedug-Caringin, atau Cimande-Cinagara. 

Kemacetan di jalur Bocimi sejak berbulan-bulan lalu ini dipicu beberapa faktor. Antara lain aktivitas pekerjaan betonisasi di kawasan Pasar Caringin, penyempitan jalan akibat aktivitas pekerjaan perbaikan longsor di Pasar Cikereteg, serta penutupan jalur alternatif Telukpinang-Banjarwaru yang sedang dibeton.

Imron, sopir angkot trayek 02 Sukasari-Cicurug, mengaku, kemacetan parah setiap hari di Bocimi berdampak pada berkurangnya penumpang sehingga penghasilannya minim. “Kalau macet terus seperti sekarang setiap hari kami rugi. Yang seharusnya tiga rit jadi dua rit. Pendapatan pun jadi berkurang,” katanya.

Selain dikeluhkan masyarakat pengguna jalan, karyawan, pelajar, sopir angkot, dan pegawai negeri, kalangan dunia usaha juga mulai merasakan dampak kemacetan di jalur Bocimi. Kemacetan parah di Bocimi berpengaruh terhadap menurunnya ritasi distribusi produk. 

Kondisi ini seperti dirasakan PT Tirta Investama. “Berdasarkan data yang kami peroleh, dampak atas kemacetan yang disebabkan perbaikan di beberapa lokasi baik di Caringin, Cikereteg, maupun jalan alternatif Veteran II Desa Teluk Pinang,  Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, membuat ritasi kendaraan mengalami penurunan hingga 12 persen,” kata Stakeholder Relation PT Tirta Investama Plant Ciherang, Heri Yunarso.

Menurut Heri, kondisi ini tidak hanya dirasakan perusahaannya yang memproduksi air minum dalam kemasan merk Aqua. “Di sepanjang jalur Bocimi yang merupakan jalur barang ini merupakan pusat industri hingga ke wilayah Sukabumi. Kemacetan Bocimi berdampak terhadap produktifitas perusahaan-perusahaan yang selama ini menggunakan jalur Bocimi,” ungkapnya.

Pihaknya berharap perlu diambil langkah agar jalur alternatif yang selama ini bisa mengurai kemacetan bisa difungsikan kembali dengan sistem buka tutup. “Harua segera dicarikan solusinya agar semua pihak tidak dirugikan,” ujarnya. (cep)