Hallobogor.com, Kota Bogor – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) secara resmi membuka kegiatan Halaqah Ulama ASEAN 2016 di Istana Ballroom Hotel Salak The Heritage, Kota Bogor, Selasa (13/12/2016). Halaqah digelar guna mengembangkan Islam moderat melalui jaringan pesantren ASEAN.

Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari dimulai 13 dan berakhir 15 Desember 2016. Acara diikuti oleh 120 peserta terdiri dari para ulama, akademisi, anggota parlemen dan tokoh masyarakat dan pendidikan keagamaan berasal dari pesantren di kawasan ASEAN. Selain itu turut diundang duta besar dan perwakilan negara sahabat.

JK mengatakan, kegiatan ini bertujuan menjaga moderasi dengan sinergi kerja sama para ulama dan pesantren se-Asia Tenggara. Terutama demi terciptanya keamanan di kawasan Asia Tenggara khususnya bagi kaum muslim.

“Patut disyukuri tapi tidak berarti gembira, bahwa di Asia Tenggara tidak ada konflik yang banyak melanda negara muslim lain di belahan benua lain. Walaupun ada tapi tidak seperti yang kita lihat pada secara masal di media cetak maupun elektronik, contohnya Irak atau Iran,” ujarnya.

Hal ini, kata JK, karena sejarah penyebaran islam di Asia Tenggara berbeda dengan penyebaran di Timur Tengah atau di Afrika secara umum. Penyebaran Islam di Indonesia dalam sejarahnya tidak dilakukan melalui perang atau kekerasan. Tapi melalui transisi perdagangan sehingga terjadi suatu perubahan tapi baik.

“Para Wali Songo mengajarkan Islam dengan lemah lembut. Tidak mengubah secara drastis budaya yang ada. Selain itu terdapat banyak kesamaan antar Islam di kawasan Asia Tenggara, contohnya mulai dari mahzab yang tidak banyak pertentangan,” tambahnya.

Wali Songo juga mengajarkan untuk tidak memerangi perbedaan tapi memanfaatkan perbedaan jauh lebih baik selama tidak menyangkut masalah aqidah karena itu dibutuhkan satu kesatuan pandangan dan langkah.

“Jika kita bersyukur dan memiliki kondisi yang lebih baik, kita harus mengimplementasikan rasa syukur itu dalam bentuk upaya untuk menjadikan Islam di Asia Tenggara sebagai contoh atau tauladan. Sehingga kita tidak hanya belajar tapi juga mengajar, bukan hanya terpaku dengan kondisi yang ada tapi juga berbuat,” katanya.

“Agama adalah peradaban akhlak, agama harus jadi ilmu yang harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan yang didapat setiap anak, akan memberikan dampak pada kurun waktu 10 tahun lagi atau lebih jadi ilmu yang diberikan harus relevan sampai waktu tersebut, di samping juga memajukan agar selalu beriringan dengan perubahan jaman,” kata JK.

Dikatakannya, target yang ingin dicapai melalui kegiatan halaqah adalah adanya kerja sama secara kelembagaan. Selain itu juga untuk menangkal radikalisme melalui pelurusan pemikiran dan ide yang sifatnya pluralisme.

Saat menjawab pertanyaan awak media terkait kasus Rohingya, JK menegaskan posisi Indonesia ialah membantu sebagai negara yang memiliki umat muslim terbesar di dunia tanpa maksud mencampuri urusan dalam negeri negara lain sehingga didapat penyelesaian yang adil.

Sementara Menteri Agama Lukman Hakim Saefudin menyampaikan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi perkembangan masyarakat ekonomi ASEAN yang menuntut peranan dalam menyebarkan nilai moderatisme Islam yang dianut masyarakat ASEAN.

Untuk kegiatan halaqah lebih diarahkan pada sisi kelembagaan pendidikan yang sebelumnya dilaksanakan seminar dan lokakarya manuskrip ulama Nusantara se-Asia Tenggara sebagai upaya penggalian warisan intelektual Islam.

“Halaqah 2016 merupakan kelanjutan hasil halaqah 2015 yang merekomendasikan untuk memotret penggalangan-penggalangan pesantren di ASEAN dalam konteks pengembangan Islam moderat,” ucap Lukman. (ris)