Hallobogor.com – Kabar hilangnya pendaki asal Cirebon tempo hari di Gunung Semeru menggelitik pikiran saya untuk menulis sesuatu mengenai gunung dan tentunya alam.

Satu kata, “pendakian” seakan membangkitkan rasa keingin tahuan masyarakat terhadap alam, disini khususnya saya lebih kerucutkan kepada Gunung. Masyarakat seakan semakin mencari tahu apa itu mendaki gunung, bagaimana sensasi bercengkrama dengan alam, ditambah gilanya masyarakat saat ini pada penggunaan sosial media, hingga akses dokumentasi terhadap gunung kini menjadi penghias galeri sosial media dan semakin membuat seseorang entah itu penasaran, ingin tahu atau sok tahu mengenai pendakian.

Mendaki gunung memang bisa mendekatkan sisi kemanusiaan seseorang terhadap alam atau sang Maha Pencipta Alam Raya. Sisi psikologis pun sangat tersentuh ketika seseorang mendaki untuk pertama kalinya.

Ada kesan jatuh cinta atau bahkan merasa kapok bersatu dengan alam raya, karena kita memang kecil. Entah itu jatuh cinta karena berhasil menaklukkan angkuh dan kemewahan kita dalam sistem manusia perkotaan atau kapok karena kenikmatan yang biasa kita rasakan serasa dirampas oleh alam yang pada saat itu kita merasa berkutik, tak dapat bergerak karena kita bertamu di alam atau ego diri yang hanya smendapat rasa lelah.
Perkembangan mengenai pendakian gunung memang meroket tiga tahun belakangan, yang juga mengangkat keindahan Gunung Semeru, faktanya pada bulan desember tahun 2012 tembuslah angka pendakian mencapai 1383 pendaki (kompasiana, 7 Januari 2013) dan untuk Gunung favort lainnya seperti Gunung Rinjani, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatat angka pendakian ke Gunung Rinjani melalui pintu masuk Sembalun Lombok Timur mencapai 10.000 orang lebih (Kompas Travel, 2014).

Hal mendaki Gunung ini rasanya memang tak lepas dari pengaruh sejak dimulainya film 5cm yang membungkus kisah gunung dengan bumbu percintaan dan juga persahabatan. Seakan menjadi pendulum hipnotis bagi siapapun untuk terangsang mengikuti jejak aktor dan aktris itu, masyarakat seakan ingin membuat cerita dan kisah seakan-akan seperti bintang film itu. Nahas, terkadang ada korban yang terlalu terhipnotis, mencoba pendakian tanpa bekal yang matang membuat mereka kapok atau bahkan pahitnya hilang pada saat pendakian.

Sejatinya, pendakian gunung tidak semudah yang ada di film. Ya jika tidak indah maka bukan sebuah tontonan yang menarik dan mendapatkan untung. Butuh perjuangan dan keikhlasan saat melakukan pendakian. Apa hubungannya dengan keikhlasan? Saya rasa seorang pendaki yang menaiki gunung memang harus merasa ikhlas. Iklhas disini dalam artian rela menurunkan rasa egoisnya, rasa ke-akuan dalam dirinya untuk teman pendakian atau pendaki yang lain ikhlas bahwa membawa carriel itu berat dan memasak seadanya di alam tidak semudah di dapur rumah.

Saya pernah, dalam satu kondisi yang sudah hampir kehabisan bahan makanan karena waktu pendakian berubah jadwal karena bukan perencanaan yang tidak matang, namun ada faktor kesehatan yang saya perjelas disini adalah sakit dalam anggota sehingga adanya kemoloran dalam pendakian yang akhirnya harus mengemis beberapa makanan pada pendaki lain bahkan mengemis air pernah saya lakukan disaat pendakian karena air habis dan sumber mata air masih jauh. Disini saya melihat adanya keihlasan murni dari hati manusia yaitu iba dan merasa senasib sependakian sehingga ia rela menyisihkan makannanya untuk tim kami. Kierkegaard pernah mengatakan bahwa “in suffering and loneliness someone can be a true christian” dalam hal ini saya mencocokkan kalimat tersebut saat kita berada di gunung tentu dengan tidak membawa embel-embel agama karena tidak ada unstur agama yang saya tulis, yaitu ketika kita kesusahan dan juga kelelahan saat berada di gunung, seorang pendaki bisa merasa kepahitan yang sama sehingga bisa terdorong rasa manusiawinya. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa jika kau ingin tahu siapa sesungguhnya diri seseorang maka ajaklah ia kegunung memang rasa-rasanya benar.

Saat mendaki memang terlihat siapa yang ingin mendahulukan kepentingan sendiri atau bersama, bagaimana ia mengatasi ego, bagaimana ia mengatasi kelelahan bahkan menolong saat ia sendiri dalam keadaan kesusahan. Alam yang membantu kita tumbuh dan pada alam lah kita dikembalikan seakan memberi pelajaran, manusia yang dekat dengan alam rasa-rasanya mulai belajar pandai bersyukur dengan alam. Bagaimana tidak, alam merupakan aspek terdekat dalam ruang lingkup hidup kita. Kita singgah didalam alam yang ibaratnya adalah meminjam sebuah tempat.

Alam terpaksa diduduki, di rusak, diperkosa ke-alamiannya oleh manusia untuk kehidupan manusia. Sedangkan pada saat nya alam mengamuk, memuntahkan kepedihannya manusia seakan menjerit dan terkadang tak jarang menyalahkan satu sama lain, bukan introspeksi terhadap dirinya sendiri atas main hakimnya terhadap alam. Pergeseran makna dari mendaki gunung yang tadinya “seperti milik anak pecinta alam” kini bergerak pada hampir seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali wanita. Bahkan pada suatu pengalaman ketika saya mendaki di Gunung Cikuray saya bertemu dengan rombongan anak pramuka yang jumlah wanitanya banyak dan mereka masih duduk di bangku SMA, jumlah laki-lakinya sedikit, adalagi ketika mencoba ekspedisi ke Gunung Salak, saya berjumpa dengan rombongan kecil namun ternyata mereka masih SMP bersama gurunya. Berani dan tangguh sekali mereka. Gunung yang dulu dinilai sebagai tempat seram,berbahaya dan hanya untuk latihan fisik kalangan tertentu dan juga dingin terhadap ia yang datang kini mulai riuh ramai dengan manusia yang mencoba belajar mendekatinya, bersentuhan bahkan untuk sekedar merusak dengan tidak sadar.
Betapa kerdilnya manusia dalam persinggahan hidup di alam, bahkan lebih kerdil dari debu atau kerikil pasir di alam. Mereka kerdil namun mampu mematikan. Saya rasa dengan adanya interkasi manusia dengan alam secara dekat seperti mencoba mendaki, bermain di alam bebas, menginjakkan kaki telanjang di pasir, mengecap asinnya air laut adalah rasa terimakasih kita pada alam. “Wajah alam merupakan sesuatu yang tidak dapat dikenal” ― Masanobu Fukuoka, The One-Straw Revolution: An Introduction to Natural Farming. Kita tidak tahu secara persis bagaimana rupanya alam itu kadang berupa hujan, berupa gunung berupa pantai berupa tanah dan lain-lain.

Tapi dari setiap elemen itu terdapat rasa dan sentuhan yang berbeda. Jika kita menempatkan alam sebagai sahabat, sudah tentu kita akan menjaga persahabatan kita dengannya. Manusia yang dekat dengan alam adalah manusia yang bisa sederhana. Ia tahu dirinya bergantung pada alam, bahkan untuk menyambung nafas. Lewat gunung, lewat film lewat sosial media,manusia berlomba mengenal dan berdekatan dengan alam. Alam berbahagia,namun sekaligus sedih karena ternodai dengan vandalisme manusia. Merdekalah jiwa yang bersatu dan mencintai alam, maka ia akan mampu menghargai sesama. Ditengah carut marut politik, keadaan ekonomi, marilah sisihkan waktu untuk bersilaturahmi dengan alam Indonesia dekatkan dirimu denganya dan dengaNya namun jadilah sahabatnya bukan orang asing yang hidup dengannya namun merusaknya. Salam lestari.

 

Ditulis oleh: Retna Mustika Mayang Sunda,
Mahasiswi Jurusan International Relations Tingkat Akhir di London School of Public Relatons, Jakarta,
Duta Mahasiswa Putri Kota Bogor 2015,
Mojang Jajaka Kota Bogor, 2014.