Oleh : Ryanti Suryawan

GERAKAN yang membenci dan peran Parpol adalah pemikiran kesesatan Politik dari pandangan baru dunia politik yang tak menyadari makna sesungguhnya apa itu ber politik dan Partai Politik.

Mereka mengembangkan politik itu kotor dan partai politik itu kotor. Namun mereka lupa, bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka tak ada satupun negara di dunia, termasuk negara Kiblatnya Demokrasi seperti Amerika dan negara Eropa yang tak mempunyai Partai politik untuk membangun dan memajukan bangsa dan negaranya.

Sejatinya, pola provokasi terhadap politik dan Partai Politik yang mereka hembusan itu adalah pembuktian cara Berpolitik Kotor mereka sendiri yang mencederai makna Politik itu sendiri.

Mereka terjebak dengan hakikat politik kotor itu sendiri, dimana berdasarkan manuver mereka, maka mereka telah menempuh dan membuktikan politik itu sebagaimana niat mereka, bagaimana cara mereka menggunakan, waktu mereka menggunakan, tempat mereka menggunakan, dan pada siapa mereka gunakan politik itu, dan untuk apa mereka gunakan politik itu sendiri, yang tak lain adalah cerminan dari
sesuatu yang mereka pahami secara serius, untuk mereka meresapi, memelihara dan mengembangkan “Niat dan Kreatifitas Buruk” mereka sendiri dan kemudian menjadikannya pandangan hidup mereka, dengan membiasakannya menjadi kebiasaan prilaku mereka untuk meraih kepentingan diri, serta menggantungkan hidup dari hasil prilaku negatif tersebut, karena dibayar oleh kepentingan tertentu dalam mendukung sesuatu, tanpa menggunakan Etika dan Moral Kebangsaan mereka sendiri.

mereka manfaatkan wilayah keabu-abuan yang sangat bisa membawa mereka pada kecenderungan untuk tak peduli terhadap hakikat kebenaran, walau sekeras apapaun mereka diingatkan dengan pembuktian sejelas apapaun pada mereka. Mereka telah dimasuki paham-paham kebendaan, sehingga sulit membedakan baik buruk, kejujuran atau kebohongan dalam mencapai tujuan.

Semua itu dapat kita buktikan dengan prilaku mereka-mereka ini yang biasanya mencerminkan betapa kotornya mereka berpolitik dilihat dari “Sesuai atau Tidak antara Ucapan dengan Perbuatannya”, yang dibuktikan dengan manuver dan akselerasi politik kesehariannya.

Kemunafikan dan kesombongan mereka sudah terlalu berlebihan menurut dan dari hari ke hari tambah terlihat semakin mendekati pembuktian Kebohongan demi kebohongan yang terus terungkap dengan sendirinya, tanpa mereka sadari sendiri.

Yang lucunya, seprti yang diperlihatkan para pendukung Incumben Gubernur DKI, dimana ketika mereka disatu sisi membenci politik dan Partai politik, namun dibalik itu dia mendukung Sang Incumben yang jelas-jelas Orang Politik yang juga orang Partai Politik dan sampai saat sekarang jelas sedang bermanuver keras untuk dapat dukungan banyak partai Politik untuk maju sebagai kandidat Gubernur lagi.

Ini membuktikan suatu perbuatan Politik Kotor dimana telah mencederai hakikat politik itu sendiri, utamanya, Tak sesuai Kata dengan Perbuatan. Entah mereka ini menganut Kebencian Politik, atau telah dibodoh-bodohi oleh orang Politik.

Kalau mereka memang jujur dan pintar, seharusnya mereka pasti punya analisa ketika mereka tahu bahwa Ahok yang mereka dukung itu adalah seorang Politikus karena dia besar di partai politik dan dia adalah orang politik, yang menggunakan cara-caranya mengejar kepentingan politik, dengan menggugat etika dan moral berpolitik, dimana bila sering melakukan penghianatan moral Politik atau mereka sudah tak mau tahu, akibat kesadarn mereka telah terhapuskan dengan segepok dana untuk mencuci pemikiran mereka??

Lebih dari pada itu, ketika mereka menggeneralisir Partai politik kotor, tidak semua Partai Politik melakukan praktek-praktek kotor berpolitik. kepastian yang ada pada partai Poltik itu jelas bahwa sekalipun ada terlihat Partai Politik itu memainkan praktek kotor berpolitik, maka sejatinya yang kotor itu adalah oknum politikusnya, dalam artian bukan partai politiknya.

Jadi tak ada benarnya menyamaratakan
Kotornya politik. Kita bisa menilai apa yang dilakukan apakah sesuai dengan perbuatannya apa tidak. Seperti”kemarin bilang ini, dan hari ini bilang itu” kemarin bilang parpol jelek, sekarang bilang negara tidak bisa berdiri tanpa parpol.

Kalau mereka tidak bisa menganalisa, kebenaran sesungguhnya daripada itu sejatinya mereka mereka itulah pelaku politik kotor.

Inilah yang sesuangguhnya membuktikan bahwa sejatinya politik itu akan kotor tergsntung cara menggunakan, waktu menggunakan, tempat menggunakan, dan pada siapa digunakan. Dan untuk apa mereka menggunakan.

Kini saatnya kita semua dapat berpandan luas dan bijak dalam menyikapi pandangan tentang kotor dan kejamnya politik itu.
Dan semoga kita mendapatkan pemimpin yang tidak didapatkan dengan cara cara yang kotor.

Ryanti Suryawan adalah Ketua DPC Gardu Prabowo Kota Bogor.