Hallobogor.com, Bogor – Ketua Umum Koperasi Perumahan Nasional (Koperumnas), H.M. Aris Suwirya, SE., terus menggeber sosialisasi program kepemilikan rumah dengan cara berkoperasi dan gotong royong secara syariah. “Koperumnas siap jadi pionir perumahan tanpa riba dan terjangkau bagi masyarakat menengah-bawah,” katanya di sela pelatihan agen marketing Koperumnas di Hotel Arnava, Jakarta, akhir pekan kemarin.

“Kami ingin membantu masyarakat memiliki rumah tanpa riba, tanpa uang muka, tanpa denda, tanpa sita, tanpa BI Checking, tanpa slip gaji. Cukup KTP, KK, dan pas foto dan menjadi anggota koperasi Koperumnas. Kami menerapkan pendekatan keimanan, bukan logika seperti pengembang konvensional,” ungkapnya.

H.M. Aris Suwirya menjelaskan, saat ini sudah ada lima lokasi perumahan Koperumnas dan sudah berdiri rumah percontohannya. Yakni di Singasari Residence Desa Singasari, Jonggol, Kabupaten Bogor; Tajur Residence di Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor; Koperumnas Lombok Residence, NTB; Koperumnas Tanjung Pinang; dan Koperumnas Mamuju, serta akan terus dikembangkan di setiap kota/kabupaten di Indonesia.

Besaran biaya untuk mendapatkan rumah di Koperumnas berbeda untuk setiap lokasi karena dipengaruhi harga tanah. Untuk lokasi di Singasari, simpanan pokok Rp300 ribu, simpanan wajib (angsuran) Rp900 ribu, dan harga jualnya Rp161 juta dengan tipe 36/60.

Untuk lokasi Tajur-Citeureup simpanan pokok Rp300 rubu, simpanan wajib Rp1 juta, harga jual Rp181 juta, T36/72.

Lokasi Lombok simpanan pokok Rp500 ribu untuk pasar rakyat, simpanan wajib minimal Rp2,5 juta, harga jual pasar Rp20-Rp80 juta.

Tanjung Pinang simpanan pokok Rp300 ribu, simpanan wajib minimal Rp1 juta, harga jual Rp150 juta, T36/80.

Mamuju Simpanan pokok Rp300 ribu, simpanan wajib Rp1 juta, harga jual Rp150 juta, T36/80

Aris Suwirya mengaku untuk mengembangkan perumahan dengan siatem syariah bulan tanpa kendala. Mantan tentara dan PNS bahkan anggota DPRD Kabupaten Bogor ini merintis sebagai developer sejak tahun 1996. Pernah masuk pengurus REI dan tahun 1998 mendirikan Apersi. Kemudian mulai membangun Koperumnas dari 2016.

“Pertama ditolak pemerintah karena tak ada nomenklaturnya. Kemudian disetujui kategori KSU (koperasi serba usaha) dengan produk menjual rumah pada 2017. Sedangkan anggaran untuk membangun rumah berasal dari anggota koperasi yang saat ini sudah mencapai 3.000 orang. Alhamdulillah sekarang saya dipercaya oleh Gubernur NTB untuk membangun pasar di Lombok juga dengan tanpa modal bank,” paparnya.

General Manager Koperumnas, Diah Kusuma Putri Muda menambahkan, bahwa setiap anggota Koperumnas yang telah meneken akad untuk pembelian rumah akan terikat dengan sistem pembelian Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) di depan notaris. “Jadi pembayaran tanah untuk rumah dibayar dengan cara dicicil. Setelah lunas berikut perizinan keluar baru bisa serah terima kunci. Jadi kalau anggota tidak lancar membayar angsuran bisa jadi kendala,” katanya.

Ia menegaskan, karena Koperumnas menerapkan akad syariah maka jika selama tiga bulan anggota koperasi tidak bisa membayar angsuran tidak dikenakan denda atau sita. “Kalau enam bulan maka otomatis akad dibatalkan dan uang angsuran dikembalikan kepada anggota,” tandasnya.

Ia menambahkan, pembangunan rumah dilakukan setelah anggota menabung dua tahun bertahap. “Karena kita gotong royong kecuali untuk yang prioritas dan memakai DP 30%,” sebutnya.

Diah Kusuma Putri Muda memaparkan bahwa dengan syarat-syarat yang sangat ringan tersebut maka warga yang berpenghasilan rendah memungkinkan bisa memiliki rumah di Koperumnas. “Apabila masih kesulitan juga membayar angsuran bisa menjadi agen marketing kami untuk mendapatkan komisi penjualan yang bisa digunakan untuk membayar angsuran. Untuk presentasi dan pelatihan setiap Sabtu di Kantor Koperumnas Gedung Pembina Graha Jl. DI. Panjaitan No.45, RT 17/9, Rawa Bunga, Jatinegara, Jakarta Timur, dan presentasi bulanan di Hotel Arnava, Senen Jakarta,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, kuasa hukum Koperumnas, Bangun Simbolon, mengatakan, Koperumnas merupakan perintis sistem perumahan syariah. “Memang banyak kendala dalam menerapkan sistem ini tapi tidak ada unsur penipuan sedikit pun di Koperumnas. Koperumnas bukan sistem investasi tapi menjual rumah secara gotong-royong,” tandasnya. (cep)