Hallobogor.com, Bogor – Kasus dugaan perselingkuhan yang menyeret atlet berkuda RK dengan istri pengusaha berinisial BE memasuki babak baru. Melalui kuasa hukumnya, Muhammad Arfa, BE membantah telah berselingkuh dan laporan perselingkuhan adalah upaya TN (suami BE) untuk merebut hak asuh anak. 

“Saat ini masih dalam tahap penyidikan, apapun yang dituduhkan itu tidak benar. Saya itu antara murid dan pelatih saja. Saya hanya bisa mengasih tahu itu saja karena itu masih tahap penyidikan,” ujar BE melalui pengacarannya.

Mantan pramugari ini juga menantang kasus pelaporan perselingkuhan tersebut. Menurutnya, jika benar apa yang dilaporkan tidak perlu ada nama inisial dirinya. “Sebenernya nama saya di sana hanya inisial kan. Kalau ingin melaporkan secara benar, tidak usah naro nama saya inisial. Kenapa nama saya ditulis inisial doang di situ,” tuturnya. 

BE pun menuduh pelaporan maupun pemberitaan perselingkuhan yang dituduhkan suaminya semata hanya upaya untuk mengambil hak asuh anak-anak semata. Pasalnya, kata dia, pelaporan ini ada setelah ada perselisihan dalam proses perceraian di Pengadilan Agama. “Jadi dilakukan segala cara tujuannya untuk hak asuh anak anak,” katanya.

Dalam keterangan kepada Awak media,  BE berharap hanya ingin hidup tenang bersama kedua anaknya. “Saya ingin semuanya selesai, beres, apapun itu saya adalah seorang ibu, dan saya melihat psikologis anak, saya sebenarnya tidak mau berantem tapi segala cara akan saya upayakan supaya anak saya tidak diambil,” ucapnya.

Pengacara BE, Muhammad Arfa, mengatakan, kasus dugaan yang dilaporkan suami BE yakni TN masih dalam penyelidikan. Pihaknya, akan segera meluruskan tuduhan tersebut saat akan masuk pengadilan. “Nanti kita buktikan semuanya di pengadilan,” kata Arfa.

Di samping itu, menurut Arfa, kliennya mengadukan kasus ini ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Di mana saat persidangan didampingi langsung Komisioner KPAI, Seto Mulyadi alias Kak Seto. 

Menurut Kak Seto, kondisi ini adalah segitiga godaan syaitan. Artinya, mulai dari perceraian, perebutan hak asuh anak, dan penutupan akses peran orangtua kepada anak. “Ini yang sangat mewarnai (perceraian) keluarga saat ini kemudian akhirnya berdampak pada anak,” kata Kak Seto. 

Kak Seto menegaskan, KPAI akan aktif memediasi antara BE dan TN, kepolisian, pengadilan, agar mengedepankan kepetingan yang terbaik bagi anak-anak. “Jadi kami meminta tidak membela ayah maupun ibunya. Bukan hak ayah dan ibu ketemu anak, tapi sebaliknya anak ketemu ayah dan ibunya,” jelas Kak Seto.

Solusi konkretnya, kata Kak Seto, jangan sampai ada konflik berkepanjangan antara pasangan. Artinya, tidak menghilangkan peran orangtua sebagai ayah dan ibu. “Kalau sudah pisah jangan ribut lagi. Pisah ya mungkin enggak cocok. Tapi tidak menghilangkan perannya harus tetap kerja sama komunikasi yang baik. Jadi pisah itu lihat anak, bukan ego masing masing,” ucapnya. 

KPAI, lanjut Kak Seto, mendampingi agar kedua orangtua menjamin anak tidak kehilangan peran keduannya.

Terpisah, pengacara TN, Ronald Antony Sirait, menjelaskan, bahwa inisial dalam pelaporan adalah keinginan klienya. Di mana itu untuk kepetingan anak agar tidak mengganggu dan tetap memberikan perasaan nyaman pada anak.

“Sejak awal kami kasus ini mencuat karena melibatkan atlet. Kami meminta agar tidak memunculkan nama keduannya. Ini menyangkut psikologis anak,” ucapnya menjawab pernyataan BE. (cep)