Hallobogor.com, Bogor – Ada fenomena menarik di balik kontestasi Pilkada serentak di Kota Bogor untuk memilih Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bogor Juni 2018. Fase ini dimulai saat pertama kali Bima Arya Sugiarto sebagai calon petahana memutuskan untuk menggandeng Dedie Abdul Rachim sebagai wakilnya.

Tidak sedikit yang merasa kaget dengan keputusan Bima tersebut. Sebab, Dedie Rachim bukanlah partisan, bukan birokrat, atau tokoh di Bogor yang selama ini menghiasi berita media serta digadang-gadang maju di Pilwakot. Dedie nol popularitas. Dedie adalah seorang Direktur PJKAKI di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).  

Hingga Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan Dedie Rachim sebagai pasangan Bima Arya, sebagian besar masyarakat Bogor juga belum mengetahui persis sosok Dedie. Maklum, sesuai aturan yang berlaku di KPK, Dedie dilarang memiliki akun media sosial (medsos) seperti facebook, twitter, whatsapp, instagram, dan sejenisnya. Sekalipun tetangganya di perumahan Bogor Raya, tak ada satu pun yang tahu Dedie adalah pejabat KPK. Ini lantaran istrinya Sari Deviyanti Andayana dan keluarga Dedie terikat aturan untuk tidak membocorkan pekerjaan Dedie di lembaga antirasuah.



Bagi sebagian kalangan yang sudah faham, justeru menimbulkan banyak pertanyaan. Mengapa Dedie yang dua kali menjabat direktur di KPK dan beberapa kali jadi Plt direktur serta Plh deputy mau mencalonkan diri di Pilwakot. Sebagai anggota KPK yang masuk dalam angkatan “Indonesia Memanggil 1″ dengan karir sukses, tentu dari sisi penghasilan lebih dari cukup dan menggiurkan. Gaji rutin minimal Rp70 juta sudah di tangan. Sebaliknya, gaji seorang wali kota jauh di bawahnya, sekitar Rp.6 juta per bulan. Sangat jomplang. Terlebih gaji wakil wali kota. Tak sebanding dengan persoalan yang dihadapinya.  

Jika ditakdirkan atau sudah digariskan di Lauhul Mahfudz menjadi Wakil Wali Kota Bogor, Dedie bakal dihadapkan pada tantangan untuk dapat menyelesaikan persoalan-persoalan riil di masyarakat. Pekerjaan dan tugas yang diemban sebagai pejabat KPK dengan seorang wakil wali kota sekaligus politisi adalah dua hal yang berseberangan. Dunia yang berbeda. 

Dedie mengakui hal ini. “Banget. Baru banget saya terjun ke politik praktis. Saya sekarang praktek langsung,” ucapnya di sebuah restoran miliknya di bilangan Jalan Pajajaran, Kota Bogor, Kamis (22/2/2018).

Pertanyaan selanjutnya, apakah Dedie bakal mampu menghadapi dunia yang berbeda itu? Karakter Dedie Rachim ternyata cukup wise, tulus, sederhana, dan punya segudang terobosan ketika melihat berbagai persoalan riil di masyarakat, yang mulai dirasakannya langsung ketika setiap hari blusukan bertemu dengan masyarakat dari berbagai latar profesi di setiap sudut Kota Bogor.

Ini salah satunya dibuktikan pria kelahiran Bogor April 1966 ini ketika berkampanye di hadapan kaum ibu di Kampung Neglasari, Kelurahan Cibuluh, Kecamatan Bogor Utara. Tiba-tiba saja ada ibu-ibu yang meminta uang kepadanya. “Yang penting jangan lupa amplopnya,” ujar seorang ibu, diiringi riuh hadirin.

Bagi Dedie, di balik timbulnya pertanyaan masyarakat seperti ini ada persoalan besar yang harus dituntaskan. “Sektor pendidikan dan kesehatan sudah pasti harus menjadi prioritas, akan tetapi melihat kondisi Kota Bogor sekarang yang harus juga digeber adalah peningkatan ekonomi dan daya beli masyarakat,” ujar pemegang penghargaan Ramon Magsaysay Award kategori Institusi untuk Kampanye Tema Kejujuran ini.

Konsep Dedie ke depan, perlu ada upaya pengembangan potensi ekonomi lokal dengan membangun kerja sama antara masyarakat dan pengusaha kecil dengan investor besar. “Maka, ke depan perlu kebijakan dan keberanian serta kreatifitas dari para pimpinan daerah untuk menarik perusahaan besar agar mau menginvestasikan modalnya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Tapi bukan sekadar CSR. Tidak akan beres. Misalnya, perusahaan yang butuh bahan cabai tak harus semua impor tapi harus bisa memberdayakan masyarakat untuk menyuplai kebutuhan perusahaan,” papar dia.

Bidang infrastruktur tak kalah pentingnya. Menurut Dedie, perlu terobosan baru sehingga ketika banyak ditemukan jalan rusak bolong-bolong tak harus menunggu proses lelang. “Tak selamanya harus tender, lelang. Tapi bisa dengan pemeliharaan, terutama jalan-jalan yang milik Pemkot Bogor. Perbaikan jalan bolong tak harus menunggu sampai hancur dulu dan disahkan anggaran. Ke depan ini harus dipikirkan caranya, harus ada konsolidasi,” ungkap jebolan Universitas Indonesia dan ITB ini.

Beragam persoalan sosial kemasyarakatan, pemerintahan, dan pembangunan lainnya juga menjadi fokus Dedie Rachim. “BPJS, KIS, harus diselesaikan. Masih banyak masyarakat yang belum tercover. Petugas di tingkat kelurahan harus proaktif menjemput bola meminimalis persoalan-persoalan di masyarakat. Mereka harus bisa menyelesaikan problem solving tingkat pertama. Rumah Tidak Layak Huni juga tak bisa hanya mengandalkan uang pemerintah, karena tak akan mencukupi. Harus ajak developer. Terutama soal RTLH di sekitar perumahan. Ini bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Infrastruktur lingkungan harus diperbaiki. Bikinlah modeling seperti di Kota Ho Chi Minh Vietnam. Yang tak kalah penting adalah perbaikan mindset SDM birokrat dan masyarakat,” bebernya.

Jika menengok sedikit ke latar belakang, perjalanan Dedi yang cukup singkat hingga kini bisa berpasangan dengan Bima sebetulnya juga cukup menarik disimak. Bahkan berdasar penuturan Dedie, banyak hal yang terjadi di luar nalar.

Dedie dipilih oleh Bima lantaran jembatan Istikharah. Dedie juga dimudahkan untuk menentukan pilihan antara mengikuti bidding deputy KPK atau calon wakil wali kota hingga mendapat restu dari pimpinan KPK. 

Rekomendasi dari tiga parpol kepada Bima dan Dedie juga kurang lebih 24 jam pada hari dan yang sama, tanggal 28 Desember 2017. Dari Demokrat, rekomendasi disampaikan langsung oleh SBY di rumahnya. Padahal, kala itu sudah terdapat nama-nama Usmar Hariman, Imeldasari, dan Ingrid Kansil. Dari Golkar, Dedie dan Bima juga mendapat rekomendasi langsung dari Akbar Tanjung di tengah penantian kandidat lain. Dan dari Nasdem mendapat rekomendasi melalui Saan Mustopa. 

Ketika Bima-Dedie telah mengantongi semua rekomendasi, Dedie banyak dimudahkan untuk mendapat restu dari tokoh-tokoh Bogor sekelas KH. Mama Nahrowi, Ketua MUI Kota Bogor KH Toto yang tak lain guru ngajinya sewaktu kecil, Habib Novel yang tak lain anak dari sahabat ayahnya, dan masih banyak lagi. “Dengan saya mencalonkan diri menjadi wakil wali kota mendampingi pak Bima, banyak perubahan yang mulai saya rasakan. Termasuk kehidupan istri dan keluarga saya. Terutama dari sisi peningkatan ibadah,” tutupnya. (cep)