Hallobogor.com, Kota Bogor – PT Marga Sarana Jabar (MSJ) meminta maaf kepada warga Kota Bogor karena telah menebang ratusan pohon di median Jalan Sholeh Iskandar. PT MSJ adalah pemegang konsesi Jalan Tol Bogor Outing Ring Road (BORR) yang sedang melaksanakan proyek pembangunan Jalan Tol BORR Seksi 2B Kedung Badak-Simpang Yasmin yang dilaksanakan oleh kontraktor Wijaya Karya.

“Mau tidak mau pohon yang sudah ada di median jalan harus hilang agar tak ganggu pekerjaan. Kami sudah menginventarisir bersama Dinas Perumahan dan Pemukiman Kota Bogor pada 23 Desember 2016. Jumlahnya ada 410 pohon terdiri dari 11 jenis pohon. Paling banyak pohon bungur, bintaro, dan trembesi. Tapi kami minta maaf, belum dikomunikasikan ke publik sebelum melakukan penebangan,” ungkap Direktur Utama PT MSJ, Hendro Atmojo, saat melakukan temu media bersama Pemkot dan PT MSJ di Balai Kota Bogor, Rabu (11/1/2017).

Hendro Atmojo menegaskan, pihaknya siap menggantikan semua pohon yang ditebang dan yang belum ditebang untuk direlokasi (dipindahkan, red) ke kawasan lain. “Tak semua pohon bisa direlokasi. Yang tak memungkinkan direlokasi akan diganti 5-10 pohon dengan jenis yang sama dan minimal tinggi 2 meter. Ini komitmen kami. Kami juga akan membuat 2.000 titik biopori dari sebelumnya 500 titik yang telah dibuat di Jalan Sholeh Iskandar,” paparnya.

Mengenai tempat relokasi penanaman pohon pengganti, kata Hendro, tergantung Pemkot dan Muspida Kota Bogor. “Kami sami’na wa atho’na (mengikuti saja, red). Untuk anggarannya kami sudah siapkan Rp1 miliar. Kalau Rp2 miliar pun kami siap. Hanya saja kami memberi waktu dua minggu untuk melakukan kajian kepada tim agar pohon-pohon yang ditanam di tempat relokasi bisa tumbuh dengan baik, jenisnya cocok, dan sebagainya,” kata dia.

Di tempat yang sama, Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto, mengungkapkan, penebangan ratusan pohon di Jalan Sholeh Iskandar menjadi kepedulian warga. “Jalan Tol BORR sangat penting untuk mengatasi kemacetan tapi tak boleh korbankan penghijauan. Apalagi Pemkot Bogor punya konsep green city. Ini yang harus sinkron. Kami siap melakukan relokasi pohon-pohon yang ditebang ke lokasi lain sesuai kesepakatan bersama,” ujarnya.

Menurut Pakar Landskap IPB, Prof. Hadi Susilo, yang juga hadir dalam kesempatan tersebut, diharapkan ada garansi agar pohon-pohon hasil relokasi tumbuh dengan baik. “Saya menyarankan menanam pohon yang produktif. Bisa menghasilkan oksigen dan mengundang habitat burung. Jangan jenis tanaman perdu atau tanaman indoor. Pohon tanjung atau harendong cocok menyerap polutan dan tahan kondisi kritis. Jadi harus ada inovasi lain. Jangan hanya follower seperti yang sudah ada dalam setiap pembangunan jalan tol,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Heri Cahyono, mengakui banyak masyarakat yang mengadu ke DPRD. “Bogor sedang giat melakukan penanaman pohon. Warga rindu Bogor yang rindang seperti kondisi tahun 80-an. Warga juga ingin tahu ke mana dipindahkannya. Bagaimana caranya dan lain sebagainya. Seharusnya jangan dipotong atau dimatikan. Tapi dicabut. Sebagai sarjana konservasi saya sedih. Perlu waktu 15 tahun untuk ukuran yang sama. Maka kami minta diganti dengan jenis dan ukuran pohon yang sama agar cepat tumbuh rindang. Pohon harus diganti untung seperti pembebasan lahannya,” tandasnya.

Kapolresta Bogor Kota, Kombespol Suyudi Ario Seto, menambahkan, pada prinsipnya dirinya menyambut baik pembangunan tol. “Tapi kami sarankan ada rapat koordinasi dengan Muspida sebelum melaksanakan pembangunan, apalagi ini proyek besar. Agar jangan ada yang terusik. Mungkin kejadian ini sebelumnya tak terpikirkan,” imbuhnya. (cep/ris)