Hallobogor.com, Caringin – Adul alias Adul Edi, korban tertimbun longsor di Kampung Bojong Koneng Leutik RT 6/2 Desa Ciherang Pondok, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Rabu (4/10/2017) pukul 22.00 Wib, ternyata hidup sebatangkara. 

Menurut informasi yang dihimpun dari tetangga korban maupun Polsek Caringin, Adul merupakan seorang mualaf dengan nama islamnya Abdul Syarif.

Selama ini, ia dikenal warga banyak memberikan bantuan tenaga kepada siapa saja yang membutuhkan. Warga keturunan Cina ini belakangan kerap terlihat ikut bantu-bantu pekerjaan di kantor Desa Ciherang Pondok dan Ciderum. 

Hal ini seperti diakui tokoh masyarakat Caringin H. Saprudin Jepri yang juga mantan Kepala Desa Ciherang Pondok. “Selama ini ia berperilaku baik. Ia seorang mualaf. Almarhum sering ikut jamaah pengajian,” katanya.

Hal senada dikatalan Kapolsek Caringin, AKP Fitra Zuanda. “Korban alias Adul seorang cina mualaf dan tinggal sebatangkara,” ujarnya.

AKP Fitra Zuanda menjelaskan, hasil dari pantauan lokasi longsor, tempat tinggal korban memang tidak layak untuk dihuni. “Kemudian akibat dari musim kekeringan berubah menjadi musim hujan mengakibatkan gestur tanah menjadi retak dan rentang menjadi longsor,” ungkapnya.

Saat korban berhasil dievakuasi pada Kamis (5/10/2017) pukul 07.41 Wib, warga dan aparat Polsek Caringin serta Pemdes Ciherang Pondok cukup kesulitasn. Sebab jarak menuju jalan utama dari lokasi sekitar 1 kilometer hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

“Korban cukup lama bisa dievakuasi karena tanah yang licin setelah cuaca malam hari yang diguyur hujan. Posisi korban tertimbun tanah sedalam 6 meter dan terjepit oleh balok sehingga butuh waktu untuk membongkar balok. Jarak lokasi longsor ke masjid tempat pemandian jenazah juga cukup jauh sekitar 500 meter,” papar Kapolsek.

Sementara itu, Diding, tetangga terdekat korban, mengungkapkan, saat kejadian korban sedang terlelap tidur. “Kejadiannya sekitar pukul 22.00 Wib. Saya dengar suara bergemuruh keras dan ketika dilihat keluar ternyata longsor tebing menimpa rumah milik Adul. Rumahnya rata dengan tanah. Suara bergemuruh itu sepertinya ditambah dengan ambruknya atap rumah yang terbuat dari kayu, bambu, dan asbes,” katanya.

Menurut Diding, tinggi tebing yang longsor sekitar 50 meter dan di atas tebing terdapat pipa milik PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor yang bocor.

“Saya sekarang sangat kuatir rumah ikut terendam karena saluran air yang percis berada di belakang rumah tertutup tanah longsoran itu. Sehingga arus air terhenti di sekitaran rumah,” pungkasnya. (wan/cep)