Hallobogor.com, Bogor – Sebanyak tujuh kuliner khas Bogor disandingkan dengan lima varian teh asli Indonesia racikan Sila Tea House dalam acara Icip Bareng Teh Indonesia di Conextea, Bogor, Sabtu 4 Mei 2019.

Dalam acara tersebut, mochi yang tidak terlalu manis dipadukan dengan white tea, sedang dodongkal yang terbuat dari tepung beras, kelapa, dan gula aren dinikmati bersama black tea dan red tea. Laksa Bogor disandingkan dengan green tea. Lapis talas Bogor cocok berteman dengan white tea. Nasi kebuli dengan daging kambing berpasangan dengan black tea, sedangkan papais disajikan bersama yellow tea. Lasagna gulung berisi daging dijodohkan dengan red tea, yellow tea, dan levare black tea. Tinggal dipilih sesuai selera yang mencicipi, asal paham rumusnya.

Secara umum, white tea cocok untuk menemapi kudapan ringan yang enggak terlalu manis. Sedangkan green tea sempurna berteman makanan berlemak dan seafood. Buat yang suka pedas, tutup acara makan dengan minum black tea. Adapun red tea dan yellow tea, juga dikenal sebagai ‘teh oolong’-nya Indonesia juga cocok untuk makanan berlemak.

“Ini salah satu cara untuk mengapresiasi teh Indonesia yang kaya dan berkualitas tinggi,” ujar Redha Ardias, Tea Mixologist yang juga Co-Founder Sila Tea House.

Menurutnya, orang Indonesia merupakan peminum teh yang bisa mengkonsumsi teh kapan saja, namun belum memiliki kultur minum teh yang bisa menjadi ciri khas. Padahal teh Indonesia punya kualitas kelas dunia.

“Teh terbaik itu ada di pucuk yakni daun teh pertama, kedua dan ketiga. Kemudian, kami mengolahnya menjadi green tea, white tea, yellow tea, red tea dan black tea,” tambah Redha.

Redha menambahkan, ada kategorisasi bagaimana sebuah teh bisa disebut sebagai specialty tea atau teh kualitas terbaik. Yaitu tanaman teh pilihan, teh masih berbentuk daun, single origin, dan diproses dengan higienis.

“Specialty tea kita sebetulnya cukup banyak. Namun kebanyakan orang Indonesia hanya sekedar minum (teh) tanpa tahu dari mana asal teh itu dan bagaimana proses pembuatannya,” sambungnya.

Ia lantas mencontohkan kultur teh di Tiongkok. Dalam acara-acara penting, teh kerap dihadirkan. Salah satunya yakni tradisi Tea Pai dalam rangkaian pernikahan adat Tiongkok. Demikian juga dengan budaya nge-teh di Jepang.

“Di Jepang, kalau tuan rumah tidak menyuguhkan teh untuk tamu, artinya dia enggak respect terhadap tamu tersebut,” kata Redha.

Cerita Redha berlanjut ke budaya minum teh ala Timur Tengah yang terkenal dengan pitcher emas. Sementara tea time menjadi kultur yang kental di kalangan bangsawan Inggris, dan Prancis menawarkan kebiasaan nge-teh romantis dengan kue manis.

Adapun kultur minum teh poci yang familiar di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya orang Jawa, masih menambahkan gula batu untuk penambah nikmat rasa.

“Karena memang sejak dulu teh terbaik dari Indonesia selalu dikirim ke luar negeri. Jadi masyarakat kita enggak tahu nikmatnya teh berkualitas tinggi,” ujar Iriana Ekasari, Founder Sila Tea House yang juga anggota Dewan Teh Indonesia.

Teh kualitas premium yang dinikmati tanpa gula menawarkan rasa dan manfaat kesehatan yang luar biasa. Misalnya White Peony, salah satu produk Sila Tea House yang diambil dari pucuk teratas tanaman teh. “Kandungan antioksidannya 12 kali lebih banyak dari jenis teh lainnya,” jelas Iriana.

Ia juga menunjukkan cara konsumsi yang baik. Sebanyak satu sendok makan teh (sekitar 3 gram teh) diseduh selama 4 menit dalam 300 ml air panas. Saring, lalu simpan teh dalam keadaan kering, karena masih bisa diseduh dua kali lagi.

“Seduh lagi dengan 200 ml air, lalu seduh kembali dengan 150 ml air,” jelasnya.

Iriana menambahkan, menikmati teh dengan cara yang tepat dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap teh lokal. Ini akan berimbas panjang. Sebab teh punya tiga fungsi utama yaitu untuk ekonomi, ekologi, dan sosial.

Dalam hal ekonomi, apresiasi masyarakat Indonesia terhadap teh akan meningkatkan kesejahteraan petani lokal sekaligus memberdayakan UKM. Teh juga memiliki fungsi ekologi karena bermanfaat bagi lingkungan. Dari sisi sosial, teh adalah sarana silaturahmi.

“Edukasi teh lewat acara icip bareng kuliner seperti ini menambah wawasan dengan cara yang menyenangkan,” ujar Alfredo Sihombing, pegawai swasta yang sengaja datang dari Jakarta.

Komentar serupa juga dilontarkan Anggrita Cahyaningtyas, pekerja NGO di bidang lingkungan. Menurutnya, pengenalan specialty tea Indonesia telah membuka kesadaran baru tentang teh lokal.

“Kalau orang bisa menikmati rasa dan manfaatnya, mereka juga akan bersedia membayar harga yang pantas,” ujar Anggrita yang membeli sejumlah teh dalam kemasan kecil usai acara.

Harga teh premium memang dijual lebih mahal dibandingkan teh komersial karena menawarkan rasa dan manfaat kesehatan yang lebih baik.

Untuk edukasi dan pengenalan, Sila Tea House juga mengemas teh grade A dalam kemasan-kemasan mungil 5 gram yang modern. Rata-rata dibanderol dengan harga Rp17.000 sampai Rp30.000. Untuk kemasan lebih besar, harga menyesuaikan bobot berat daun teh.

“Rasa lokal, kualitas internasional,” tambah Redha.

Tentang Icip Bareng, Icip bareng adalah acara kuliner dari Belanga Indonesia untuk lebih mengenal makanan dan minuman Indonesia, dilengkapi dengan cerita dibaliknya. Icip bareng dihadiri para pecinta kuliner, pertama kali diselenggarakan pada Januari 2019, dengan sajian kuliner khas Papua. (bny)