Hallobogor.com, Bogor – Buruknya realisasi program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Desa Jambuluwuk, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, makin terkuak. Setelah diduga kuat Pemerintah Desa (Pemdes) melakukan pemotongan Rp1 juta/KK dari 150 penerima, realisasi dana RTLH tahun 2016 malah lebih parah.

Kendati dana RTLH sudah jelas dianggarkan, namun Pemdes Jambuluwuk masih meninggalkan utang ke toko matrial PD Sinar Qutubani, Cibedug, sekitar Rp53 juta. 

“Dulu utangnya Rp63 juta. Baru dibayar Rp10 juta. Jadi sisa utang program RTLH tahun 2016 masih Rp53 juta. Padahal sudah lebih dari setahun,” ungkap pemilik PD Sinar Qutubani, Sule Emang, Rabu (12/7/2017).

Sule Emang mengatakan, berdasarkan bukti-bukti nota maupun kwitansi pembayaran pengambilan barang oleh warga penerima yang dikantonginya, rata-rata nominal pembelanjaan Rp6 juta.

“Selama Pemdes Jambuluwuk menunjuk matrial saya sebagai penyuplai bahan bangunan untuk program RTLH 2016, saya belum pernah mendapatkan pembayaran cash. Tapi selalu diutang. Gali lobang tutup lobang,” paparnya.

Untuk program RTLH tahun 2017 ini, Pemdes Jambuluwuk malah menunjuk toko matrial CV Eka Jaya Cibedug. Menyikapi hal ini, Sule Emang mengaku tidak mempermasalahkannya. “Saya hanya minta utang kepada saya dilunasi. Itu saja. Mungkin Kades Jambuluwuk marah karena saya sempat memintanya melunasi utang sebelum menyelesaikan beberapa unit rumah warga yang lainnya waktu itu,” ujar dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, untuk program RTLH tahun 2017 setiap warga diduga dipotong Rp1 juta dari total penerima sebanyak 150 keluarga. Sehingga dari seharusnya menerima utuh baik tunai atau barang Rp10 juta, warga miskin hanya menerima Rp9 juta.

“Kami warga dikumpulkan di Kantor Desa pada hari Jumat tanggal 7 Juli 2017. Waktu itu oleh Kepala Desa diumumkan bahwa kami menerima bantuan perbaikan rumah tidak layak huni Rp10 juta. Tapi, Rp6 juta dalam bentuk bahan bangunan di matrial CV. Eka Jaya Cibedug dan Rp1,5 juta dalam bentuk kayu di PD Putra Arasyd. Kalau bentuk tunai saya hanya menerima untuk ongkos kerja Rp1,5 juta. Jadi total Rp9 juta,” ungkap WF, salah seorang penerima yang ditemui di rumahnya di Desa Jambuluwuk, Rabu (12/7/2017. (cep)