Hallobogor.com, Bogor– Bahaya banjir dan longsor akibat tingginya curah hujan masih mengancam beberapa wilayah di Kota Bogor. Di Bogor Selatan sendiri terdata sudah 8 titik yang terkena bencana alam tersebut. Bahkan di wilayah selatan ada lokasi bencana yang belum tersentuh sama sekali bantuan dari pemerintah.

Berdasarkan data diatas, Ketua Forum Bogor Selatan yang juga menjabat sebagai Ketua LPM Bondongan, Soni Dirgantara mengatakan kepada hallobogor.com, ada 8 titik lokasi yang rawan bencana khususnya longsor dan banjir.

“Kedelapan titik itu berada di wilayah Harjasari, Lawanggintung, Kelurahan Muarasari, Kelurahan Ranggamekar, Kelurahan Mulyaharja dan Kelurahan Bondongan. Yang paling rawan ada di Kelurahan Bondongan ada tiga titik. Data ini yang saya terima berdasarkan laporan. Bahkan paska bencana di Bogor Selatan ada yang sama sekali belum tersentuh bantuan yang harusnya menjadi prioritas,” ungkap Soni, Selasa (22/3/16).



“Selain korban longsor yang belum tersentuh bantuan, banyak tebing-tebing berada di bantaran kali yang belum terkena bantuan pengerjaan dari pemerintah, seperti TPT yang berlokasi di wilayah kelurahan Bondongan,” sambung Dia.

Lebih lanjut dikatakannya, bencana longsor dan banjir ini diakibatkan pula prilaku masyarakat sendiri yang tidak sadar akan buang sampah dibantaran kali cibalok, yang seharusnya membuang sampah itu harus pada tempatnya.

Selain juga banyak warga yang mendirikan rumah dikawasan bantaran kali hingga melewati garis sepadan kali yang harusnya tidak dibangun. Hal ini salah satu penyebab banjir dan longsor. Terlebih jika sudah memasuki musim penghujan kali di Cipakancilan meluap hingga kebadan jalan dan debit air yang tinggi beralih ke Kali Cibalok.

“Ini penyebabnya, ketika hujan turun, sampah-sampah yang menumpuk dan bangunan liar yang berdiri di pinggiran bataran kali menjadi longsor dan banjir,” kata Soni

Dengan kondisi wilayah seperti ini, pihaknya sudah mengusulkan dan memberi masukan ketika di musrembang, soal bahaya longsor dan banjir di wilayah selatan. Termasuk usulan adanya dana bencana di setiap wilayah. Namun usulan dan masukan hingga kini belum ada realisasi dari pemerintah.

Sambil menunggu bantuan pemerintah paska bencana, pihaknya melakukan swadaya dengan membuat bentengan sementara terbuat dari karung berisikan pasir dan bebatuan. Hal ini guna mengantisipasi adanya banjir dan longsor susulan. Selain mencegah bahaya bencana yang kerap mengancam masyarakat di wilayahnya.

Lebih lanjut Soni mengatakan, diluar daripada bencana yang melanda wilayah Bogor Selatan saat ini, pihaknya juga telah mengusulkan betapa pentingnya kesehatan dimasyarakat dimusim penghujan ini. Minimnya kesehatan menjadi faktor penyebab mudahnya warga terserang penyakit, misal seperti demam berdarah.

“Soal kesehatan ini, sudah pernah saya usulkan, namun belum juga ada tanggapan dari pemerintah. Selain usulan diluar kesehatan bantuan rumah tidak layak huni jadi prioritas,” ungkapnya.

“Hal hal seperti ini bisa besar, jika tidak diperhatikan oleh pemerintah. Dan saya lihat dalam sosialisasi maupun realisasinya masih belum merata dan transparan. Sehingga banyak warga yang belum tahu dan tidak menerima bantuan sesuai yang di janjikan,” tutupnya. (ndy)