Hallobogor.com, Bogor – Cita-cita Pemkab Bogor ingin menjadi kabupaten termaju di Indonesia nampaknya masih berat. Pasalnya persoalan kemiskinan dan kesenjangan masih menghantui sebagian masyarakatnya. Mereka yang hidupnya kurang beruntung masih banyak yang luput dari perhatian pemerintah.

Adalah pasangan suami istri (pasutri) ini salah satu buktinya. Didin Ihyaudin (40) dan Linda (36) beserta dua anaknya, warga Kampung Babakan RT 04/04, Desa Ciherang Pondok, Kecamatan Caringin, terpaksa tinggal di gubug bekas kandang ayam milik warga sejak akhir tahun 2016 lalu.

Gubug bekas kandang ayam yang terbuat dari bambu tersebut berlokasi cukup terpencil di sebuah perkebunan. Akses jalan ke gubug cukup sempit dan licin.

Dalam kesehariannya, Didin Ihyaudin berprofesi sebagai buruh harian lepas di salah seorang warga Kampung Limusnunggal, Dudung. Sedangkan Linda membantu suaminya mencari tambahan penghasilan dengan menjadi kuli cuci.

“Suami kerja di matrial kalau lagi kerja dapat gaji 50.000 seharinya, belum buat ongkos sama makan ya habis, pulang ke rumah bersih sehari 20.000, ya dicukup-cukupi,” katanya.

Ia sendiri hanya mendapat Rp80.000 dalam sebulan dari jerih payahnya jadi tukang cuci pakaian. “Kalau ada yang suruh, kalau tidak yaa tidak punya uang, sebulan paling dapat Rp80.000,” kata Linda.

Dia mengungkapkan, gubug yang ditempati oleh keluarganya bekas kandang ayam milik Oyong. “Kami belum memiliki rumah sama sekali. Ingin bangun rumah namun tak punya biaya, untuk  lahan mah ada pemberian dari pak RT. Mudah-mudahan nanti kami memiliki tempat tinggal yang layak, nyaman dan aman,” ungkap Linda penuh harap.

Mukhlis, anak kandung Didin yang baru saja lulus dari salah satu sekolah swasta di Ciawi berharap serupa. “Setelah lulus dan mendapatkan pekerjaan mudah-mudahan bisa membantu bangunkan rumah untuk orangtua,” harapnya.

Ahyani selaku Ketua RT 04/04 Kampung Babakan, Desa Ciherang Pondok, mengatakan, pihaknya selama ini hanya bisa membantu sesuai kemampuan. “Melihat tetangga tinggal di gubug bekas kandang ayam ga tegalah. Makanya kami bantu dengan memberikan tanah kosong seluas 50 meter kepada Didin. Kalau ada bantuan dari Pemerintah Pusat, Daerah, atau Pemerintah Desa, semoga pak Didin juga mendapatkan bantuan,” ujarnya. (wan)