Hallobogor.com, Bogor – Gaung Kabupaten Bogor yang ingin menjadi kabupaten termaju di Indonesia nampaknya hanyalah isapan jempol belaka. Faktanya, potret kesenjangan sosial dan kemiskinan masih mendera masyarakat di kabupaten yang notabene memiliki APBD Rp6 triliun ini.

Adalah Entong Sogiri dan Ewon saksi hidupnya. Pasangan suami istri (pasutri) miskin ini terpaksa harus hidup berhimpitan di satu gubug bambu beserta 12 anak-anak dan menantunya. Mereka tinggal di Kampung Coblong RT 01 RW 01 Desa Sukakarya, Kecamatan Megamendung. Kondisi keluarga ini sungguh mengenaskan.

Keluarga Entong hidup dalam garis kemiskinan di gubug reyot kurang lebih 7 tahun. Sementara Entong hanyalah seorang pengangguran dengan kondisi fisik yang sakit-sakitan.

“Dulu pernah bekerja sebagai buruh bangunan lepas. Sekarang saya tidak bisa bekerja lagi sejak saya sakit ginjal dan sempat dirawat di salah satu rumah sakit di Jakarta. Sejak itu, sudah 14 tahun saya sudah tak bisa kerja lagi,” ujarnya.

Guna tetap bisa bertahan hidup dan menafkahi keluarganya dan anak-anaknya yang masih kecil, Ewon istri Entong, terpaksa setiap hari berusaha keliling kampung berjualan kue. Keuntungan yang didapat tetap tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga sehingga anak-anak mereka putus sekolah. “Satu pun tak ada yang tamat SD,” ucapnya.

Dari 12 anggota keluarganya, kini tinggal di gubug kumuh hanya 8 orang. Empat orang lagi, yakni anak dan menantunya serta dua anaknya memisahkan diri dengan cara mengontrak rumah.

Terpisah, Kepala Desa Sukakarya, Siti Asliah, mengaku sangat kenal betul dengan ibu Ewon. Bahkan sebelum menjabat sebagai Kades pun Ewon ini sering ke rumahnya.

“Dulu ibu Ewon ini memiliki rumah bahkan rumahnya itu sempat diajukan untuk mendapatkan program bantuan Rutilahu (rumah tidak kayak huni). Akan tetapi rumah tersebut telah dijual, mungkin karena faktor kebutuhan keluarga,” ungkap Siti Asliah.

“Selaku Pemerintah Desa kami tidak menutup mata akan persoalan ini. Semua program dari bantuan apapun dari pemerintah ibu Ewon ini mendapatkannya. Persoalan ini harus dirunut dari A sampai Z dulu untuk dipahami,” pungkasnya. (wan)