Hallobogor.com, Bogor – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Kota Bogor siap merebut kemenangan pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Bogor tahun 2018 nanti. Untuk itulah tahun ini partai berlambang banteng hitam bermoncong putih itu terus mengkonsolidasikan mesin partai.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Bogor Dadang Danubrata mengaku pihaknya sejauh ini belum melihat untuk menyasar lumbung-lumbung suara hingga akar rumput. Namun sesuai kesepakan, DPC akan melempar ke PAC dan ranting untuk menentuan titik-titik menjadi lumbung suara sesuai kebutuhan masing-masing.

“Kita demokratis jadi tidak DPC yang menentukan. Setelah disepakati oleh PAC barulah kita tentukan titik-titik tersebut, tidak melihat itu lumbung suara atau tidak lumbung suara, jadi netral saja,” kata Dadang ditemui disela kegiatan bakti sosial pengobatan gratis di Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Sabtu (19/03/2016).

Menurut Dadang, dirinya belum bisa bicara lebih jauh terkait calon dari PDI Perjuangan lantaran tahapan menuju Pilkada 2018 masih panjang. Ia mengungkapkan pada intinya semua kader partai mempunyai hak untuk mencalonkan diri sebagai calon.

Digadang-gadang menjadi salah satu calon bersanding dengan Walikota Bogor Bima Arya pada Pilkada nanti, Dadang menyebut politik itu dinamis sehingga tidak bisa menerka apa yang bakalan terjadi di tahun 2018 nanti. Makanya, ia belum bisa menentukan dikarenakan masih dalam proses konsolidasi partai.

“Tahun 2016 hingga 2017 masih tahapan konsolidasi partai dan kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat. Barulah memasuki tahun 2017 masuk tahapan politik partai, salah satunya pemenangan Pilkada. Masalah siapa yang maju jika partai sudah kompak dan besar,  itu tidak ada masalah,” ungkapnya.

Bila menengok Pilkada kemarin apakah nantinya calon PDI Perjuangan memilih mengusulkan untuk kursi Wakil Walikota atau Walikota, Dadang menyerahkan sepenuhnya keputusan ke DPD berdasarkan hasil evaluasi Pilkada kemarin, dimana PDI perjuangan akan flexible.

“Keinginan kader partai tentunya F1 (sebutan Walikota) dari PDI Perjuangan. Tapi dalam prakteknya nanti kita akan lihat dulu posisi para kader setelah survey seperti apa. Misalnya hasil survey masih dibawah 50 persen tapi saingan 60 persen, kita tidak bisa memaksakan diri untuk Walikota,” jelasnya.

Sementara Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPC PDI Perjuangan, Benniqnu Argoebi mengatakan, memenangkan Pilkada 2018 sudah menjadi program utama Bapilu. Artinya, sukses tidaknya Pilkada akan berpengaruh juga pada sukses tidaknya pemilihan legislatif (Pileg) tahun 2019. Untuk itu, Bapilu akan meramu rumus-rumus utama berkaitan dengan memenangkan Pilkada.

Benn sapaan akrabnya lanjut menjelaskan, aturan partai sendiri dari DPC mengusulkan beberapa nama calon. Nama-nama ini yang nantinya akan digodok dan dilihat elektabilitas dan popuralitasnya.

“Yang saat ini, konsep DPC PDI Perjuangan adalah kerja nyata untuk masyarakat. Semua kekuatan diturunkan dan nanti kita menunggu hasil survey di tahun 2017. Rencanannya untuk Pilkada 2018 rekomendasi partai itu sudah turun di tahun 2017,” terangnya.

Benn sendiri secara pribadi siap maju dalam bursa calon selama partai menugaskan dan memberikan rekomendasi. Kata dia, tidak pernah ada kata tidak siap, yang pasti saat ini dirinya fokus berkerja untuk partai secara maksimal.

“Keberhasilan Bapilu kan menghantarkan siapapun kader PDI Perjuangan untuk menduduki kursi Walikota. Karena PDI Perjuangan saat ini memiliki 8 kursi di DPRD dan di nasional pun menjadi partai pemenang Pemilu Presiden,” tukasnya. (hrs).