Hallobogor.com, Bogor – Maraknya kasus kekerasan guru terhadap murid yang ramai di berbagai daerah beberapa waktu lalu, menjadikan banyak guru harus berurusan dengan hukum. Berlatarbelakang hal tersebut, diperlukan perlindungan terhadap profesi guru dengan menerjunkan Advokat (Pengacara) sebagai bentuk pendamping kuasa hukum guru.

Menyikapi hal tersebut, salah satu penggiat hukum berdomisili Jakarta, Medan dan Sukabumi Bahtera Putra Gurning, SH,MH prihatin. Ia mengatakan, bahwa saat ini banyak guru di Indonesia harus berurusan dengan hukum, yang diduga telah melakukan tindakan fisik kepada anak didiknya. Akibatnya, para wali murid yang tidak terima melaporkan kepada pihal berwajib, ujungnya guru tanpa tanda jasa pun harus mendekam di balik jeruji.

Padahal hal itu, menurutnya dilakukan guru sebagai bentuk emosional sesaat, karena perbuatan siswa yang dinilai melakukan pelanggaran cukup berat di sekolahnya.

Bahtera menilai, persoalan tersebut merupakan dampak dari kurangnya komunikasi antara guru dengan peserta didik, orang tua dengan anak, dan orang tua dengan guru.

“Perlindungan hukum dan keamanan bagi profesi guru serta perlindungan atas hak-hak guru sangat penting. Ada batasan-batasan yang mana bisa menjadi kewenangan guru sebagai orang tua didalam sekolah”, ujar Pengacara muda yang dipercaya para guru sekolah di Sukabumi dan Jakarta tersebut, Rabu (22/06/2016).

Saat ini, kata Dia, beberapa kasus sepele oleh perlakuan guru terhadap muridnya mengarah kepada fisik, misal dengan menampar atau mencubit. Kondisi itu bisa disebabkan karena siswa manja dan berbuat nakal yang tidak wajar akibat kurangnya pola asuh orang tua.

“Soal dugaan kekerasan, guru itu pasti punya alasan dan tujuan, mendidik siswa dengan cara tegas, tidak mungkin tanpa sebab. Kekerasan itu mungkin timbul secara spontan akibat anak melakukan kenakalan yang berlebihan”, katanya.

Guru jelas Dia, memiliki kode etik profesi. Hak kewajibannya sudah diatur peraturan perundang-undangan tentang pendidikan khususnya tentang guru seperti UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, PP nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), PP nomor 74 tahun 2008 tentang Guru, dan peraturan lainnya tentang guru dan mekanisme mengajar.

“Didalamnya ada ketentuan tentang jaminan yang harus diberikan terhadap perlindungan profesi guru. Maka dengan adanya advokat sebagai pendamping guru, nerekea berhak mendapatkan kepastian hukum.

“Ini bukan berarti saya memihak guru secara berlebihan. Namun sebagai pengacara, saya beralasan mempunyai kewajiban memberikan perlindungan terhadap para guru. Terlepas dia benar atau salah setiap orang. Jadi jika ada guru yang kelepasan menegur siswa dengan tindakan fisik lalu melaporkan ke polisi, nanti pengacara yang menghadapi sebagai pendamping kuasa hukumnya”, ujarnya.

Dia berharap aparat penegak hukum yakni pihak kepolisian bisa memberikan jaminan yang bisa membuat para guru tidak takut dan resah lagi untuk mengajar karena perlindungan profesi guru yang berkurang saat ini.

“Jika ini menjadi masalah hingga tahap kepolisian, seharusnya menyelidik faham aturan dengan memecah penggolongan perbuatan guru yang meliputi perbuatan tidak disengaja, disengaja, atau yang rawan menimbulkan tindak pidana sehingga tidak menimbulkan keresahan bagi para guru,”katanya.

Diceritakan Bahtera, sewaktu sekolah dulu, dirinya merasakan manfaat hukuman dari guru. Dan akhirnya menyadari bahwa itu adalah sebuah didikan. Sehingga menjadi lebih matang menghadapi lingkungan. Hal tersebut dianggap hukuman guru sebagai didikan dan tidak merupakan kesalahan guru. Kesiapan proses belajar disekolah adalah tanggungjawab orang tua, wali murid dan peserta didik.

“Dijaman dewasa ini anak terlalu dimanjakan oleh orang tuanya. Maka imbasnya kepada perilaku si anak yang cenderung menjadi liar. Bahkan tak memiliki rasa hormat terhadap orang tua dan guru.

Berbeda, kenakalan anak-anak di masa lalu bisa terbendung dengan sikap tegas dari para guru yang mendapat kepercayaan dari orang tua untuk mendidik anaknya.

“Tindakan tegas yang dilakukan guru pada saat itu selain membendung tingkat kenakalan, juga ampuh meningkatkan empati dan hormat siswa terhadap guru,” tutupnya. (ndy/dan).