Hallobogor.com, Bogor – Pengerjaan Toll Bogor Outing Ring Road (BORR) Seksi IIIA terus di kebut dan ini adalah hal yang positif untuk kelancaran transportasi di tengah perkotaan kedepan, namun disisi lain dalam pembangunan tersebut tidak sedikit yang terdampak dari pembangunan Tol BORR tersebut.

Bagus Maulana Muhammad Ketua DPD KNPI Kota Bogor mengatakan, pembangunan infrastruktur tranportasi ini memang penting dan perlu di lakukan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas kendaraan, tapi disisi lain jangan sampai masyarakat pengguna jalan kembali di hadapkan dengan permasalahan kemacetan yang akan menimbulkan kerugian.

“Hal ini kerap terjadi ketika pembangunan jalan Tol, yang saya soroti adalah pengembang tidak mau ambil pusing dengan masalah kemacetan, dengan gampang nya memberikan informasi agar mengambil jalan pintas atau alternatif. Disisi lain, masyarakat pengguna jalan dan jalan alternatif yang dilalui akan melintasi rumah-rumah penduduk, apakah itu sudah di persiapkan sebelumnya,” ujar Bagus ketika di hubungi melalui sambungan telepon.

Bagus menambahkan, jika pihak perusahaan tidak mengindahkan apa yang seharusnya dilakukan, DPD KNPI Kota Bogor dan jajarannya serta masyarakat akan mendatangi kantor perusahaan tersebut untuk meminta kejelasan kaitan proses pengalihan jalan dengan kata lain, untuk mencari jalan alternatif.

Berkaca pada peristiwa ambruknya penyangga proyek Tol BORR, disana pengendara dipaksa bersabar menanti buka tutup jalur yang semen­tara dialihkan. Sampai-sampai warga ter­paksa mencari jalan tikus lewat sejumlah jalur perkam­pungan. Rupanya pilihan ini tidak mulus lantaran kema­cetan pun tak terelakkan.

Seperti di ruas jalan alterna­tif Cilebut, Bukit Cimanggu, jalan kampung Kukupu, Jalan Pabuaran dan Gang Randu di Kampung Serempet.

Salah satu warga Kukupu, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanah­sareal yang terdampak, Rizkaart (29), mengelu­hkan lambannya proses eva­kuasi pascakejadian. Rekayasa lalu lintas dengan buka tutup di lokasi tersebut berdampak pada kepadatan di jalan lingkungan tempat tinggalnya. Pa­dahal, lebar jalan hanya sekitar dua meter.

“Tadinya sepi, ini jadi ramai, apalagi jalan di sini kan kecil. Jadi, kalau ada mobil berpapasan di kedua arah, stak lah dan bikin macet. Belum lagi banyak warga yang jalan kaki, krodit lah,” keluhnya kepada Media.

Hal tersebut berpengaruh pada aktivitas warga dan kon­disi lalu lintas di pemukiman. Meskipun sejak krodit terjadi aktivitas anak-anak sekolah belum terjadi. “Tapi berhubung besok (hari ini, red) anak-anak sudah masuk sekolah mungkin jalan alternatif ini bakal makin ramai,” ujarnya.

Serupa terjadi di Jalan Pa­buaran Cimanggis, Tanahsa­real. Jalur yang biasanya sepi jadi menumpuk oleh ken­daraan roda empat yang men­ghindari jalur utama di Jalan Sholeh Iskandar.

“Sudah berhari-hari begini terus kon­disinya, macet,” sesal Sarwan, warga Pabuaran. (bny)