Hallobogor.com, Bogor – Keberadaan resto dan karaoke Nada Lestari di Jalan Yasmin, Bogor Barat, Kota Bogor terus mendapat sorotan publik, setelah dikecam para Ulama dan Ormas Islam di Bogor, kini giliran tokoh muda Islam DPP HTI Kota Bogor Gus Uwik.

Gus Uwik menyatakan, munculnya polemik tempat karaoke ini diakibatkan lemahnya komitmen Pemkot Bogor untuk melindungi akidah dan keislaman umat. Ditambah, mudahnya aparat “dibeli” oleh pengusaha.

“Kasus karaoke ini kan baru menghangat ketika sebagian tokoh masyarakat mempersoalkan proses pembangunannya. Kenapa kok aparat Pemkot tidak menyetop sejak awal saja. Ini kan jelas bahwa ada indikasi permainan uang antara pengusaha,” tukas Gus, kepada Hallobogor.com, Jumat (16/10).

Gus Uwik menjelaskan, pembangunan karaoke dan tempat-tempat maksiat, akan terus subur didalam alam demokrasi. Sebab prinsipnya adalah, selama tidak ada yang terusik maka tempat hiburan akan jalan terus. Selain doktrin politik dalam demokrasi yang ‘menghalalkan’ politik dengan segala cara demi mendapatkan uang.

Tokoh muda Islam itu juga mengatakan, penguasa akan sangat tergantung kepada pengusaha untuk membiayai modal politik. Penguasa sebagian besar akan berhutang kepada pengusaha. Oleh karenanya, tatkala berkuasa maka sang pengusaha akan berbagi proyek kepada pengusaha atau melindungi aktivitas bisnis pengusaha. Belum lagi terindikasi bahwa para pemainnya adalah aparat dan mantan aparat.

“Pemkot dengan perangkat aparatnya, seharusnya sudah bisa mendeteksi sejak dini jika ada yang akan mendirikan tempat-tempat maksiat, langsung distop sejak awal. Jadi tidak ada lagi keributan yang ada tidak perlu terjadi,” ungkapnya.

“Yang ada kan tidak seperti itu. Aparat justru mudah untuk diajak ‘memuluskan’ proyek maksiat ini. Pemkot seharusnya tegas dan berani membabat semua tempat-tempat maksiat tanpa terkecuali. Apakah milik aparat ataukah tidak, semuanya. Disinilah yang saya sebut komitmen Pemkot Bogor sangat lemah untuk melindungi akidah umat lemah,” sambungnya.

Gus Uwik kembali menegaskan bahwa hanya dengan syariat Islam, para pengusaha tidak akan berbisnis barang atau jasa yang dilarang oleh agama. Walau keuntungannya begitu menggiurkan. Para pengusaha akan tetap mencari berkah di dunia dan akhirat.

Selain itu, lanjut Dia, pemerintah akan membabat habis semua bentuk-bentuk kemaksiatan. Tidak perduli punya pejabat ataukah tidak. Selama itu terkategori ‘bisnis haram’ maka haram untuk berdiri apalagi beroperasi.

Disinilah pentingnya dakwah syariah Islam dan Khilafah, yang akan mengedukasi betapa pentingnya senantiasa berpegang teguh pada syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Termasuk didalamnya dalam menjalankan roda pemerintahan. (dan)